Hukum

KPK Geledah Kantor PLN

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Penyidik KPK melakukan penggeledahan di kantor pusat PT PLN (Persero), Senin (16/7/2018). Tim penyidik tiba sejak pukul 18.40 WIB. Mereka juga didampingi pihak kepolisian.

Penggeledahan dilakukan di beberapa ruang kerja petinggi PLN, termasuk ruang kerja Dirut PLN Sofyan Basyir. Selain itu, penyidik KPK menggeledah area Direktorat Pengadaan.

“Kegiatan KPK sesuai dengan tugas pokok dan fungsi KPK, pasti harus melakukan penggeledahan. Nah, ini yang dilakukan itu di kantor PLN ya,” kata Sofyan kepada wartawan di lobi kantor pusat PLN, Jakarta.

“Ada di direktorat, di divisinya. Semua tempat yang ada kaitan dengan proyek (PLTU Riau-1) itu,” sambung Sofyan.

“(Termasuk ruang Dirut?) Iya. Hal yang lumrah dong setelah kemarin di (rumah) saya, sekarang di kantor. Di kantor yang berkaitan dengan PLTU Riau, kan proyek itu diurus saya, direktur, kepala divisi. Di beberapa ruangan, di ruang direktur,” jelas Sofyan.

Ditanyai apa saja yang disita KPK, Sofyan mengaku belum mengetahuinya.

“Belum, dong. Kan baru meriksa, baru duduk, kasih tahu, ‘Ini kami tim dari KPK’. Salah satu direktorat yang didatangi Direktorat Pengadaan. Ke ruangannya, saya antar. Mereka minta, ‘Tinggalkan kami,’ ya saya tinggalkan,” jelas Sofyan.

Hingga pukul 20.00 WIB, penggeledahan kantor PLN Pusat masih dilakukan oleh penyidik KPK. Penyidik juga sempat minta daftar tamu yang menyambangi KPK.

Juru Bicara KPK Febri Diansyah belum memberikan tanggapan resmi atas proses penggeledahan ini.

Sebelumnya, KPK juga menggeledah rumah Sofyan pada Minggu (15/7/2018), kemarin.

Saat itu, Sofyan mengaku memberikan berbagai informasi terkait proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Riau-1 dan sejumlah dokumen terkait proyek tersebut kepada tim KPK.

“Sebagai tuan rumah, Dirut (Sofyan) membantu KPK dengan memberikan sejumlah informasi terkait proyek Riau-1 serta dokumen-dokumen terkait objek tersebut,” ucap Sofyan saat membacakan keterangan resminya di kantor PLN, Jakarta, Senin (16/7).

Sofyan mengakui menyimpan sejumlah salinan dokumen internal PLN. Namun, ia memastikan dokumen tersebut tidak bersifat rahasia dan bisa diakses oleh publik.

Salinan dokumen itu ia simpan untuk dipelajari di rumahnya ketika ia tak punya cukup waktu di kantor.

“Ada juga surat menyurat diberikan kepada saya dikasih biar saya tanda tangan. Ada juga proposal dari regional setiap saat reporting bulanan diberikan kepada saya, laporan-laporan keuangan, cash flow, likuiditas semua kadang dibaca di rumah. Memang punya saya,” ucap Sofyan.

Ia juga memastikan tim KPK hanya menyita berbagai dokumen terkait dengan kasus kesepakatan kontrak kerja sama pembangunan PLTU Riau-1 di Provinsi Riau. (MU)

KOMENTAR
Tags
Show More
Close