Sains

KPAI Minta Sekolah Beri Pengamanan Khusus Siswi Penemu Kayu Bajakah

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) meminta  pihak sekolah memberi pengamam khusus untuk tiga siswi penemu obat kanker kayu Bajakah untuk menjamin keberlangsungan pendidikan yang kondusif. Lembaga ini juga meminta beberapa personil kepolisan berjaga di sekolah dan tidak mengizinkan ratusan orang yang mencari para siswi tersebut masuk ke sekolah.

“Keluar masuk orang di sekolah tersebut harus melalui satu pintu dan jaga ketat.” kata Komisioner KPAI retno listyarti dalam pesan singkatnya kepada Vivanews.com, Jumat (16/8/2019).

Sekedar informasi, tiga siswa SMA asal Palangkaraya, Kalimantan Tengah (Kalteng) meraih medali emas di Korea Selatan berkat penelitiannya soal manfaat kayu Bajakah dalam menyembuhkan kanker payudara.

Dilihat dari sisi yang lain ternyata dampak populernya kayu Bajakah ternyata memberikan dampak mengkhawatirkan bagi para siswi penemu kayu Bajakah ini. Menurut informasi yang beredar, ketiga siswa bernama Yazid, Anggina Rafitri, dan Aysa Aurealya Maharani itu diisukan terancam.

Ratusan orang dikabarkan berbondong-bondong datang ke sekolah untuk mencari kejelasan akan khasiat kayu Bajakah itu, sehingga dapat mengganggu proses belajar anak-anak.

Menanggapi hal itu, Komisioner KPI menyayangkan tayangan yang awalnya mempopulerkan prestasi siswi penemu kayu Bajakah itu menyebut nama sekolah, sehingga mengundang banyak orang untuk datang.

“Kalau menonton tayangan Aiman (presenter Kompas TV) terkait peliputan ini, ibu guru pembimbing dari kedua anak pemenang medali emas tersebut sudah tidak menyebutkan dan merahasiakan keberadaan tempat tumbuhnya tanaman tersebut. Masalahnya, nama sekolah disebutkan sehingga orang yang mungkin keluarganya mengidap penyakit kanker menjadi berbondong-bondong mendatangi sekolah tersebut untuk menanyakan lokasi dan hendak mengambil tanaman tersebut untuk kepentingan pengobatan keluarganya,” jelas dia..

Di sisi lain, hal itu sangat rentan karena kemungkinan akan ada orang-orang yang memang berniat membisniskan tanaman tersebut karena tahu banyak yang membutuhkan.”

Ini yang dikhawatirkan si guru pembimbing sebagai ‘eksploitasi tanaman’ tersebut sehingga membahayakan habitatnya. Dalam hal ini tentu saja pemerintah harus turun tangan melindungi tanaman tersebut,” ujarnya.

Terkait ratusan orang yang setiap hari datang ke sekolah tersebut tentu sangat mengganggu proses pembelajaran di sekolah. Sehingga yang terganggu tidak hanya peserta didik, tapi juga pendidik dan tenaga kependidikan lainnya.

“Hal ini tentu merugikan pihak sekolah dan anak-anak, jadi perlu ada pengamanan dari pihak kepolisian yang berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Provinsi Kalimatan Tengah untuk melindungi anak-anak di sekolah tersebut dan juga para pendidiknya,” ujarnya.

Lebih lanjut Retno mengatakan akan menyelediki kasus ini. “Saya akan pelajari kasus ini. Nanti kami bersurat, bahkan jika diperlukan KPAI bisa melakukan pengawasan ke lokasi.”

KOMENTAR
Tags
Show More
Close