Mengintip Medinat Al-Zahra:

Kota Indah dan Megah di Luar Kota Cordoba yang Didirikan karena Cinta

Kota Indah dan Megah di Luar Kota Cordoba yang Didirikan karena Cinta
Ahmad Rofi’ Usmani

Oleh: Ahmad Rofi’ Usmani

“ALHAMDULILLAH. Akhirnya, Medinat Al-Zahra berhasil kudatangi!”

Demikian “letup pelan” bibir saya. Beberapa tahun lalu. Entah kenapa, rasa syukur demikian tiba-tiba “melesat cepat” dari bibir saya. Mungkin, karena sejak masih sebagai mahasiswa program pascasarjana di Universitas Kairo, Mesir, saya sudah “bermimpi” akan mendatangi kota indah dan megah itu. Selain “bermimpi” akan mengintip Medinat Al-Zahra di Andalusia, kala itu saya juga “bermimpi” akan menengok Taj Mahal, sebuah makam indah yang didirikan oleh Syah Jahan di sebelah selatan Sungai Yamuna, Agra, India. Ternyata, baik Medinat Al-Zahra maupun Taj Mahal merupakan kota dan makam yang didirikan oleh dua penguasa Muslim karena cinta. Ya, cinta kepada istri mereka masing-masing. 

Lo, Medinat Al-Zahra kota yang didirikan karena gelora cinta?

Ya, demikianlah adanya. Kota yang pembangunannya berbarengan dengan perluasan Masjid Cordoba ini adalah sebuah kota yang didirikan oleh ‘Abdurrahman III Al-Nashir li Dinillah di sekitar Cordoba, Andalusia itu. Tokoh terakhir itu adalah penguasa ke-8 Dinasti Umawiyah di Cordoba. Seperti halnya Taj Mahal di India, kota istana di Andalusia itu didirikan oleh sang penguasa sebagai tanda cinta kepada istri tercintanya, Al-Zahra’. Asyik. Ide untuk mendirikan kota megah dan indah itu mencuat  selepas ia berhasil memancangkan kekuasaannya. Di seluruh Andalusia. 
  
Lembaran sejarah menuturkan, kota yang  terletak sekitar 15 kilo meter di sebelah  barat  daya Cordoba dan setelah jatuh  kembali  ke  tangan pasukan Spanyol disebut “Cordoba la Vieja” itu dirancang di  dekat Sungai Guadalquivir dan di atas  Bukit  Siera Morina. Pembangunan kota ini, di bawah pengawasan putra sang penguasa, Al-Hakam II, dimulai pada permulaan  Muharram  325 H/Desember 936  M.  

Dalam membangun Medinat Al-Zahra, ‘Abdurrahman III Al-Nashir  mengerahkan tenaga  kerja yang tidak tanggung-tanggung banyaknya:  sekitar 10.000 orang.  Hal itu dilakukan setiap  hari dan berlangsung terus menerus selama 25 tahun. Ya, setiap hari dan selama 25 tahun. Di samping itu, lebih dari 3.000  hewan  dikerahkan.  Untuk mengangkut  berbagai  ragam  bahan bangunan dari berbagai belahan dunia. Misalnya, marmer hijau  dan ungu  yang  didatangkan  dari  Carthago dan marmer putih  dari Almeria. Sedangkan beberapa bahan lainnya, yang terbuat dari  emas dan perak, didatangkan dari Suriah dan Turki.

Kota yang juga disebut dengan sebutan “Mahkota Pengantin  Puteri” (Tâj  Al-‘Arûs)  dan terdiri dari tiga blok itu  demikian  indah dan megah. Blok  pertama  diperuntukkan bagi istana-istana,  perumahan,  dan pasar.  Blok  kedua dikhususkan untuk taman  dan  tempat pesiar. Sedangkan blok ketiga untuk toko-toko, pemandian umum, dan tempat satuan   pengamanan.  Karena  demikian  megah,  tidak  aneh   bila pembangunannya  tiap tahunnya menghabiskan biaya sekitar  300.000 dinar.  Tidak  mengherankan  pula  ketika  kota  itu   rampung dibangun, kota itu mampu menyediakan akomodasi ratusan kamar  dan apartemen,  di samping bangunan-bangunan lainnya, seperti  masjid. Juga, memungkinkan pula ribuan pasukan pengawal tinggal di kota itu. 

Kritik Sangat Pedas dari Hakim Agung

Sayang, pembangunan Medinat Al-Zahra ternyata membuat penguasa yang lahir di Cordoba pada Ramadhan  277  H/Desember 890 M itu pernah meninggalkan shalat Jumat di masjid. Sebanyak tiga kali berturut-turut. Ya, tiga kali berturut-turut.

Mendengar dan mengetahui hal itu, Al-Mundzir bin Sa‘id Al-Baluthi, hakim agung (qâdhi al-qudhah) terkemuka Andalusia kala itu, sangat geram. Karena itu, ia bermaksud memberikan nasihat kepada penguasa yang lalai itu. Untuk itu, suatu hari, ketika sang hakim agung sedang menyampaikan khutbah shalat Jumat, yang dihadiri oleh ‘Abdurrahman III Al-Nashir, ia antara lain mengutip firman Allah Swt. berikut:

“Apakah kalian mendirikan bangunan pada setiap tanah tinggi untuk bermain-main (belaka)? Juga, kalian mendirikan benteng-benteng dengan maksud agar kalian kekal (di dunia)? Dan, manakala kalian menyiksa, kalian menyiksa sebagaimana orang-orang yang kejam dan bengis. Karena itu, bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Demikian halnya, bertakwalah kepada Allah yang telah menganugerahkan kepada kalian sesuatu yang kalian ketahui. Dia telah menganugerahkan kepada kalian hewan-hewan ternak, anak-anak, dan kebun-kebun serta mata air. Sungguh, aku takut kalian akan ditimpa azab hari yang besar.” (QS Al-Syu‘arâ’ [26]: 128-135).

Usai menyitir ayat-ayat Alquran tersebut, Al-Mundzir bin Sa‘id kemudian melengkapi khutbahnya yang pedas dengan uraian perihal larangan berlaku boros. Juga, larangan menghambur-hamburkan harta kekayaan.
 
Mendengar khutbah tersebut,  penguasa yang berhasil menjadikan Andalusia  sebuah  negara  adikuasa yang makmur  serta sejahtera dan kaum Muslim  sebagai pelopor ilmu pengetahuan di Eropa itu tidak kuasa menahan lelehan air matanya: ia sangat menyesali tindakannya. Ya, menyesali tindakannya: meninggalkan shalat Jumat tiga kali berturut-turut. Kemudian, selepas kembali ke istana, ia berucap kepada putranya, Al-Hakam, “Sungguh, hakim agung kita sangat keterlaluan. Dalam mengkritik dan mengecam diriku. Demi Allah, selamanya aku tidak akan lagi melaksanakan shalat Jumat. Di belakang ia sebagai makmum!”

“Amir Al-Mukminin,” sahut Al-Hakam, “Apa yang membuat ayah tidak mencopot dan memberhentikan orang itu. Sebagai hakim agung?” 

“Celaka kau, anakku!” sergah sang ayah. Yang menyadari kembali kekeliruan dirinya. “Apakah tokoh sehebat Al-Mundzir, dalam hal kesalehan, keilmuan, dan keutamaannya, harus dicopot. Dan, hal itu aku lakukan demi membela hawa nafsu yang senantiasa menyimpang dari kebenaran, menampakkan kemewahan, dan menempuh tujuan yang tidak benar? Ini tidak boleh terjadi. Ya, tidak boleh terjadi, anakku. Sungguh, aku akan malu di hadapan Allah Swt. bila aku tidak kuasa menjadikan orang seperti Al-Mundzir bin Sa‘id sebagai penolongku. Di Hari Kiamat kelak!”

Pembangunan Medinat Al-Zahra akhirnya rampung pada 976 M. Tor Eigeland, ketika memberikan catatan tentang kota yang indah dan megah itu, dalam sebuah tulisannya berjudul “The City of Al-Zahra” (Saudi Aramco World), mengemukakan:

“Monumen paling megah di Spanyol sejatinya bukan Alhambra. Yang kini masih tegak dengan semua kemegahannya di Granada. Namun, (monumen yang paling megah itu adalah) komplek istana lain yang luar biasa megah dan pernah berdiri di kaki perbukitan lima mil di sebelah barat daya Cordoba: Medinat Al-Zahra atau Kota Bunga. Pendiriannya dimulai pada 936 M, oleh ‘Abdurrahman III, sebagai istana favoritnya. 

Pembangunan Medinat Al-Zahra dilakukan secara bertahap dan baru rampung 40 tahun kemudian oleh Al-Hakam II. Namun, pada 1010 M, ketika Pemberontakan Berber membara, Madinah Al-Zahra’ dihancurkan. Batu-batunya digali untuk bangunan lain. Selama berabad-abad. Akibatnya, akhirnya, kota ini tertutup tanah dan tumbuhan merambat. Situsnya pun nyaris dilupakan orang. Baru belakangan,  pemerintah Spanyol dengan susah payah mulai mengembalikan sebagian istana itu. Sepotong demi sepotong kecil dari istana yang hancur itu.

Selama beberapa dekade singkat kemegahannya, Medinat Al-Zahra mendapatkan pujian luar biasa. Dari para penulis kontemporer. Sepuluh ribu pria dan 2.500 mules bekerja untuk membangun istana tersebut: sebuah istana yang berisi sekitar 4.300 kolom marmer yang banyak diimpor dari Afrika Utara dan Italia, dan 140 kolom yang dikirim Kaisar Constantinus VII dari Byzantium. Dindingnya dihiasi gading, eboni, dan jasper. Sebuah air mancur dari marmer hijau yang indah didatangkan dari Suriah dan di sekitarnya tegak 12 patung merah-emas yang dihiasi mutiara dan permata.”                              

Cucu Seorang Putri Penguasa Wilayah Basque

Kini, siapakah ‘Abdurrahman Al-Nashir, pendiri Medinat Al-Zahra?

Penguasa ke-8  dan  mungkin  terkuat Dinasti  Umawiyah  di Andalusia ini,  yang dikenal sebagai  ‘Abdurrahman  III, lahir di Cordoba pada Ramadhan  277  H/Desember 890 M. Ayahnya, Muhammad bin ‘Abdullah bin Muhammad I, berpulang  karena intrik yang terjadi di lingkunan  Istana Cordoba. Kala itu, sang anak  baru  berumur sekitar  21 hari. Ibunya, Muzna, adalah seorang budak  berdarah  Frank (berkulit putih). Karena  itu,  ia kemudian diasuh dan dididik dengan penuh perhatian oleh kakeknya, ‘Abdullah, seorang pangeran Cordoba.  

Ketika  sang  kakek berpulang pada  Jumat,  2 Rabi‘ Al-Awwal 300 H/16 Oktober 912 M, cucu Onneca Fortunes (seorang putri dari Pamplona, ibukota Kerajaan Navarre: kini masuk wilayah Basque) yang pencinta  filsafat  itu  pun menggantikannya.  Kala  itu, wilayah   Andalusia  sedang  dalam  kondisi  rusuh  dan   wilayah kekuasaan   sang  pangeran  muda  tinggal  Cordoba   dan   daerah sekitarnya  saja. Namun, dengan secara bertahap, hingga 320  H/932 M,  seluruh wilayah Andalusia berhasil  ia kendalikan  kembali. Ini,  selepas ia berhasil meredam berbagai kekuatan, dalam maupun luar negeri, yang berupaya merontokkan kekuasaannya. 

Dua tahun sebelum berhasil menyatukan kembali seluruh  Andalusia, tepatnya  pada  Jumat, 2 Dzulhijjah 316 H/16  Januari  929  M, penguasa  Muslim  yang memiliki kulit putih kemerahan  dan  mata biru  ini  pun  menyatakan dirinya  sebagai  khalifah  Andalusia. Ya, khalifah Andalusia. Dengan  gelar yang gagah: Al-Nâshir li Dînillâh  (Penopang Agama Allah). 

Pemakaian   gelar  khalifah  itu sendiri   membuat   terjadinya perubahan  pendapat  umum yang dianut kaum Muslim di Dunia Islam kala itu. Sejak itu, mereka berpandangan,  kepimpinan politik  Islam  yang hanya  satu tidak lagi  dipegang  secara  ketat. Malah,  para  ulama  kemudian memberikan  legitimasi  atas   berbilangnya khalifah.  Mereka menyatakan, boleh ada  beberapa  khalifah, asalkan   dipisahkan  oleh laut.  Dengan  penabalan  diri  ‘Abdurrahman Al-Nashir   sebagai khalifah, di Dunia Islam kala itu terdapat tiga khalifah: seorang dari  Dinasti  Umawiyah di Cordoba, seorang dari Dinasti ‘Abbasiyah di Baghdad, dan seorang lagi dari Dinasti Fathimiyah di Qairawan. 

Selepas berhasil menyatukan Andalusia, dan berhasil menahan gerak maju  pasukan Dinasti Fathimiyah yang berkuasa di seberang  laut, kawasan   Afrika  Utara,  perhatian  ‘Abdurrahman III Al-Nashir   kemudian   lebih diarahkan untuk membangun negeri itu. Sehingga, Andalusia  kemudian menjadi sebuah  negara  adikuasa yang makmur dan kaum Muslim kala itu merintis diri menjadi pelopor ilmu pengetahuan di Eropa.
  
Melihat kecintaan sang penguasa terhadap dunia ilmu pengetahuan, tidak aneh bila  pada  338  H/949  M,  Kaisar  Constantinus  dari  Byzantium menghadiahkan  kepadanya sebuah salinan karya medis Pedanius Dioscorides, De Materia Medica. Karya itu,  antara lain  menampilkan   uraian  tentang  berbagai  tetumbuhan,  dalam bahasa  Yunani.  Namun, kebetulan di Cordoba kala itu tidak  ada seorang  pun yang paham bahasa Yunani. Karena itu,  ‘Abdurrahman III Al-Nashir meminta  kepada  Kaisar Constantinus mengirimkan  seseorang  yang dapat menerjemahkan buku itu. Kaisar kemudian mengirimkan seorang biarawan  bernama Nicholas, yang tidak hanya  menerjemahkan  buku itu, tapi juga mengajar bahasa Yunani di Cordoba. 

Penguasa  yang energik, teguh, pemberani, lugas, dan toleran  ini menghadap Sang Pencipta di Cordoba pada Selasa, 2 Ramadhan 350 H/15 Oktober 961  M. Menjelang berpulang, ia meninggalkan sebuah catatan: 

“Saya memerintah selama 50 tahun. Yang sarat dengan  keamanan dan kemegahan, dicintai rakyat, ditakuti  lawan, dan  disegani para kawan. Dengan saya, para penguasa adikuasa  di muka  bumi  ini senantiasa berupaya menjalin  persahabatan.  Selama itu, sesuatu  yang  nyaris mustahil, ketenaran,  kekuasaan, maupun kesenangan telah berhasil saya raih. Selama  hidup  yang panjang  ini, saya telah menghitung hari-hari di mana  saya  dapat menikmati  sepenuhnya  kebahagiaan.  Ternyata,  semua  ini  hanya berjumlah  empat belas hari. Segala puji bagi-Nya  yang  memiliki kemegahan yang abadi. Dia-lah Yang Maha Kuasa dan tiada  sekutu bagi-Nya.”@ru