Nasional

Kota Bekasi Siapkan Masterplan Drainase Sungai Cikeas

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Banjir yang merendam sejumlah wilayah Kota Bekasi diklaim akibat siklus air yang mencapai 600 meter per detik. Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi mengatakan sungai di wilayahnya tidak dapat menampung air dan meluap ke permukiman warga yang tersebar di 12 Kecamatan.

“Jadi siklus air yang hampir 600 meter kubik per detik itu tidak bisa ditampung tidak bisa diakselerasikan. Air mencari tempat rendah dan membanjiri perumahan lama,” ujar Rahmat di Bekasi, Kamis (27/2/2020). Menurut dia, kondisi banjir di Kota Bekasi sudah tiga kali terjadi di tahun ini.

Rahmat menjelaskan, dominasi banjir yang terjadi pada Selasa 25 Februari 2020 terjadi di wilayah yang dilintasi anak-anak sungai Cikeas seperti Kali Cakung, Kali Sunter maupun Kali Buaran. Sedangkan perumahan di bantaran Kali Bekasi tidak separah pada awal tahun 2020.

“Kan yang paling ditakuti itu banjirnya, banjir Daerah Aliran Sungai (DAS) Kali Bekasi. Tapi kemarin justru tidak, karena air kiriman dari Bogor tidak banyak. Justru kemarin itu di DAS anak-anak sungai Cikeas,” katanya. Untuk itu, banjir kali ini tidak terprediksi sebelumnya oleh Bekasi.

Banjir terparah terjadi di wilayah DAS Cakung, Sunter dan Buaran seperti si Kompleks Dosen IKIP, Bumi Nasio Indah dan lainnya dengan ketinggian mencapai 2 meter.

“Maka itu harus ada berbagai upaya, harus kita urut satu per satu persoalannya, agar banjir tak terulang,” jelasnya.

Rahmat mengaku, pemerintah Kota Bekasi telah memiliki master plan drainase terkait penanganan banjir di wilayah yang dilintasi anak-anak sungai Cikeas. Seperti bagaimana melakukan normalisasi kemudian memperbanyak embung, tandon, polder untuk menjadi tangkapan air.

“Ini kan persoalannya kenapa air meluap, selain dangkal karena sekarang kan sudah engga ada tangkapan air lagi karena sudah habis buat perumahan, buat ini buat itu,” ungkapnya.

Untuk itu, kata dia, pemerintah tengah mencari solusi agar anak-anak Sungai Cikeas tidak lagi membanjiri permukiman warga. Saat ini, ada 11 lokasi tangkapan air. Di antaranya, dua di Galaxy Bekasi Selatan, di Kelurahan Pengasinan, di Perumnas 3, Bendungan Koja Jatiasih, Danita Bekasi Timur, Rawapasung Kelurahan Kalibaru, Komplek Dosen IKIP, Bumi Nasio Indah, Ciketing Udik, Polder Perumahan Fajar Bekasi Selatan.

“Nah yang mau kita buat tahun ini mulai adalah di Kempo Jatimakmur, Pondok Gede,” paparnya.

Sementara untuk penanganan banjir karena luapan Kali Bekasi, Kementrian PUPR akan menggelentorkan anggaran Rp4,3 triliun untuk melakukan pengerukan atau normalisasi.

“Pak Menteri PUPR bilang mau ada revitalisasi selama 3 tahun anggaran sebesar Rp4,3 triliun. Tapi kan mulai di kerjakan bulan September 2020,” katanya.

Meski demikian, dalam beberapa tahun mendatang, banjir di Kota Bekasi diyakini sudah mulai berkurang dari saat ini.

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close