Internasional

Korut Diduga Dalang di Balik Serangan Siber ke 17 Negara

JAKARTA, SENAYANPOST.com — Pakar keamanan siber Amerika Serikat tengah menyelidiki keterlibatan Korea Utara dalam aksi serangan siber yang menyasar 17 negara. Ketujuh belas negara tersebut antara lain Korea Selatan, India, Bangladesh, Chile, Kosta Rika, Gambia, Guatemala, Kuwait, Liberia, Malaysia, Malta, Nigeria, Polandia, Slovenia, Afrika Selatan, Tunisia, dan Vietnam.

Korea Selatan sebagai negara tetangga terdekat diduga menerima setidaknya 10 serangan siber dari Korut. Menyusul India di dengan tiga serangan, serta Bangladesh dan Chile dengan masing-masing dua serangan.

Aksi serangan siber kali ini diduga sebagai upaya untuk mengumpulkan dana untuk membeli senjata pemusnah kapal.

Dugaan tersebut muncul berdasarkan laporan dari The Associated Press terkait upaya Korut untuk memperoleh dana hingga US$2 miliar atau sekitar Rp28,6 triliun (US$1= Rp14.307).

Korut diduga menggunakan tiga cara untuk mengumpulkan uang secara ilegal. Pertama, melakukan serangan melalui Society for Worldwide Interbank Financial Telecommunication atau sistem SWIFT untuk mentransfer uang antar bank.

Kedua, serangan melalui sistem uang kripto (cryptocurrency) saat terjadi pertukaran uang antara sistem dan pengguna. Terakhir, tim siber Korut menambah uang kripto sebagai sumber dana untuk pasukan militer.

Seperti diwartakan cnnindinesia, pakar keamanan siber Chile mengatakan peretas Korut memanfaatkan LinkedIn untuk merekrut karyawan jaringan antar bank, Chili Redbanc saat menghubungkan semua bank melalui sistem ATM di negara tersebut.

selain itu, Korut juga diduga mencuri dana melalui uang kripto sebanyak 5.000 transaksi secara terpisah pada 2018. Transaksi ini kemudian dialihkan ke beberapa negara sebelum dikonversi ke mata uang Won Korut.

Salah satu perusahaan mata uang digital Bithumb Korea Selatan mengaku diserang empat kali oleh peretas Korut. Perusahaan mengatakan pada Februari dan Juli 2017 pihaknya merugi hingga US$7 juta, lalu terjadi satu serangan pada Juni 2018 yang menyebabkan kerugian US$31 juta.

Serangan terakhir terjadi pada Maret lalu yang menyebabkan kerugian hingga US$20 juta. Pakar keamanan siber AS juga tengah menyelidiki cara baru Korut untuk meraup uang ilegal melalui cryptojacking.

Cryptojacking merupakan metode yang memungkinkan penggunaan malware untuk menginfeksi komputer dalam menghasilkan uang kripto. Salah satu malware yang digunakan untuk menambang uang kripto yaitu Monero dan ditransfer ke server yang berlokasi di Universitas Kim II Sung, Pyongyang, Korea Utara. (JS)

KOMENTAR
Tags
Show More
Close