Klaster Hajatan di Boyolali, 30 Warga Positif Covid Termasuk Ibu Hamil

Klaster Hajatan di Boyolali, 30 Warga Positif Covid Termasuk Ibu Hamil
Ilustrasi (ANTARA)

BOYOLALI, SENAYANPOST.com - Dua klaster baru COVID-19 muncul di Kabupaten Boyolali. Kali ini, klaster itu yakni klaster hajatan dan klaster pengajian. 

Dari klaster hajatan di Desa Sumber, Kecamatan Simo ini ditemukan 30 kasus warga positif, dan seorang di antaranya ibu hamil tua.

"Klaster hajatan di Desa Sumber, Kecamatan Simo ini jumlah kasusnya ada 30 (orang)," kata Kepala Dinas Kesehatan Boyolali, Ratri S Survivalina, Jumat (18/6/2021).

Lina, sapaannya, mengatakan ke-30 kasus dari klaster hajatan di Desa Sumber, Kecamatan Simo itu hanya mengalami gejala ringan. Sehingga saat ini mereka menjalani isolasi mandiri di rumahnya masing-masing.

Sementara itu, untuk klaster pengajian di Desa Jelok, Kecamatan Cepogo ditemukan 19 kasus. Dari 19 kasus itu, dua di antaranya dirawat, 16 orang isolasi mandiri, dan seorang meninggal dunia.

"Klaster-klaster yang lain yang cukup besar antara lain dari Pondok Pesantren di Desa Mliwis sebanyak 34 kasus. Kemudian klaster yang belum berhenti, klaster rewangan dari Desa Banyuanyar, Kecamatan Ampel sampai sekarang masih berkembang terus, total penderitanya ada 37," urai Lina.

Kasus Bermula dari Tamu Hajatan Asal Pati Bergejala
Terpisah, Camat Simo, Waluyo Jati, mengatakan klaster hajatan di Desa Sumber berawal salah seorang warga setempat menggelar hajatan secara sederhana. Namun saat itu juga kehadiran tamu yang cukup banyak dari Pati.

"Setelah pulang, ada keluarga di Pati dulu yang mengeluhkan batuk-batuk, setelah diperiksakan ternyata positif (COVID-19)," kata Waluyo Jati.

Keluhan tersebut juga dirasakan istri pemilik hajatan. Yang bersangkutan kemudian memeriksakan diri ke rumah sakit dan dinyatakan positif COVID-19.

"Kemudian kami bergerak cepat bersama Puskesmas Simo melakukan tracing. Kemarin dilakukan swab dengan sasaran sekitar 100, yang hadir sekitar 80 orang. Ada yang positif sebelum hajatan itu satu, jadi total sekarang ada 30 yang positif," katanya dilansir detikcom.

Waluyo menyebut warga yang dinyatakan sudah negatif COVID-19 pun masih diminta karantina mandiri. Rencananya dalam lima hari lagi akan dilakukan pemeriksaan ulang, dan satu dukuh di desa tersebut kini lockdown.

"Yang dikarantina sekitar 87 jiwa, yang negatif dalam jangka 5 hari akan dicek. Sehingga semua akan dikarantina, tidak boleh keluar. Bidan desa selalu memantau, yang positif ada yang hamil, bahkan HPL-nya kurang dari 10 hari, sehingga perlu penanganan khusus. Mereka isolasi di rumahnya masing-masing," pungkas Waluyo.