Nasional

KKP dan FAO Kembangkan Pakan Ikan dari Bungkil Kelapa Sawit

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Ditjen Perikanan Budidaya bersama Food and Agriculture Organization (FAO) mengembangkan pakan ikan patin berbahan baku bungkul kelapa sawit di Sumatera Selatan melalui proyek “Supporting Local Feed Self-Sufficiency for Inland Aquaculture Development in Indonesia”.

Bungkil kelapa sawit atau dikenal dengan Palm Karnel Meal (PKM) merupakan produk sampingan pembuatan minyak kepala sawit yang tersedia sepanjang tahun di Provinsi Sumatera Selatan.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP Slamet Soebjakto sangat mengaspresiasi proyek pakan mandiri ini. “Kalau Palm Karnel Meal atau disingkat PKM ini sudah berhasil dikembangkan, kami dapat mengurangi penggunaan tepung ikan yang selama ini sebagian besar kebutuhannya memang masih dari impor. Apalagi Indonesia merupakan penghasil PKM terbesar kedua setelah Malaysia,” kata Slamet dalam keterangan tertulisnya, Kamis (17/10/2019)

Menurutnya sejak tahun ini, KKP bersama FAO memang sedang mengembangkan pakan ikan mandiri berbahan baku lokal yaitu PKM sawit melalui uji coba pakan untuk membandingkan efektivitas dan efisiensi dari formula pakan yang direkomendasikan FAO dengan pakan yang biasanya digunakan oleh pembudidaya patin. Uji coba ini melibatkan 6 kelompok pembuat pakan ikan yang berlokasi di Kabupaten Banyuasin dan Kota Palembang.

“Kerjasama ini bertujuan untuk meningkatkan produksi pakan ikan khususnya patin yang berkualitas tinggi dan hemat biaya yang mampu diproduksi oleh produsen pakan skala kecil di Indonesia. Apalagi, pakan mandiri sebagian besar sekitar 80% memang digunakan untuk pakan ikan patin”, ujarnya.

Slamet menambahkan, tujuan lainnya adalah meningkatkan produksi ikan air tawar secara signifikan dengan cara pengelolaan pakan yang lebih efektif dan efisien dengan pengurangan ketergantungan pada bahan pakan impor. Selain itu juga menciptakan kesempatan kerja alternatif sektor perikanan budidaya untuk meningkatkan pendapatan bagi penduduk perdesaan.

“Pakan mandiri saat ini semakin diminati dan menjadi andalan pembudidaya ikan skala kecil, karena terbukti memberi nilai tambah keuntungan, mampu menekan 30 – 50% dari biaya produksi. Selain itu, kualitas pakan mandiri mampu bersaing dengan pakan pabrikan”, tutur Slamet.

Dia berharap produk PKM agar tidak semuanya untuk diekspor, mengingat PKM ini merupakan bahan baku kaya protein yang dapat menjadi sumber bahan baku pakan ikan, sehingga masyarakat pembuatan pakan ataupun para pembudidaya juga dapat meningkatkan keuntungan usahanya.

“Saya rasa pemanfaatan PKM ini bisa menjadi CSR (tanggung jawab sosial) perusahaan kepada kelompok pakan mandiri yaitu dalam bentuk dukungan pemenuhan kebutuhan PKM bagi bahan baku pakan secara kontinu”, imbuh dia.

Sekedar informasi, pemanfaatan tumbuhan sebagai pengganti tepung ikan juga telah dilakukan oleh salah kelompok pakan mandiri di Lampung dengan mengembangkan tanaman legum atau dikenal dengan indigofera. Beberapa referensi menyebutkan, Indigofera mengandung protein sebesar 23 – 26%, selain itu kaya serat dan kalsium.

Ketua Kelompok Pembudidaya Ikan (pokdakan) Jarwo yaitu Wagiman, mengakui dengan penggunaan pakan mandiri formulasi FAO, pertumbuhan ikan patin yang dipeliharanya lebih baik dibandingkan dengan penggunaan pakan yang mereka produksi.

“Kalau dengan pakan yang kami produksi kandungan proteinnya hanya 18% kemudian ikan patin yang dipelihara 6 bulan hanya mencapai ukuran 400 – 500 gr per ekor (1 kg isi 3 ekor), sedangkan dengan pakan formulasi FAO, proteinnya bisa mencapai 28% dan berat panennya bisa > 600 gr per ekor”, ujar Wagiman

Menurut Wagiman memang selama ini kelompoknya, memproduksi pakan ikan tanpa proses penepungan terlebih dahulu, sehingga kemungkinan nutrisi dalam bahan baku tidak tercampur sempurna. Sedangkan untuk memproduksi pakan formulasi FAO, semua bahan baku harus masuk tahap penepungan baru kemudian dicampur bersamaan dalam mixer.

“Sebelum proyek ini, kami tidak memanfaatkan bungkil kepala sawit ini yang ternyata berpotensi menjadi bahan baku pakan ikan karena kandungan proteinnya yang cukup tinggi berkisar 18 – 20%”, sambung Wagiman.

Komposisi pakan FAO sendiri terdiri dari silase ikan (7,5%); kepala udang (10%); ikan asin (34%); poles (22,5%); bungkil sawit (21,6%); kanji/sagu (4%); premix (0,25%); multi-enzyme (0,1%) dan phytase (0,05%). Selain itu, FAO juga memberikan bantuan berupa mesin pencampur dan mesin penepung.

 

KOMENTAR
Tags
Show More
Back to top button
Close
Close