Catatan dari Senayan

Kita Lawan Para “Pahlawan” Pembela Teroris

DUA hari lalu Densus 88 Polri melakukan penggerebegan dan penggeledahan Gelanggang Mahasiswa Universitas Riau Pekanbaru (Unri). Selain ditemukan bom rakitan yang siap ledak, ditangkap juga tiga alumni Unri yang diduga bagian dari jaringan terorisme. Menyedihkan kalau kampus perguruan tinggi sudah kesusupan bibit-bibit terorisme.

Semua pihak tentu merespons positif langkah Densus 88. Penggeledahan kampus memang hal baru terkait terorisme. Ada yang memprotes masuknya Densus 88 ke dalam kampus. Tapi suara itu segera senyap setelah Polri menjelaskan penggeledahan itu sudah sesuai prosedur dan merupakan pengembangan dari kasus penyerangan terduga teroris ke Mapolda Riau tempo hari. Bahkan dari hasil pengusutan bom yang ditemukan di kampus itu sedianya akan diledakkan dengan sasaran objek vital tertentu.

Jangan bicara kebebasan kampus jika ternyata kampus itu menyimpan bara yang siap membakar negeri. Langkah Densus 88 yang merupakan pasukan elite Polri justru harus diapresiasi. Andai tidak dilakukan penggeledahan dan penangkapan, negeri ini akan tercoreng kembali. Aparat keamanan terutama Polri dan aparat intelijen akan dituding kecolongan. Kaum teroris domestik akan bersorak berteriak merayakan keberhasilannya.

Badan Intelijen Negara (BIN) sudah menyampaikan warning bahaya radikalisme sudah merasuki sejumlah kampus besar di Indonesia. Sebuah majalah terkemuka Indonesia dalam investigasinya memperkuat sinyalemen BIN. Bahkan ada beberapa dosen perguruan tinggi negeri yang terindikasi pro kelompok radikal. Ini semua menunjukkan bahwa lampu kuning sudah menyala terang. Kita harus mewaspadai kondisi ini. Kdisi radikalisme dan terorisme sudah menjadi ancaman akut. Sel-sel kampus sudah mulai diterobos.

Kampus yang menjadi tempat mencetak kaum intelektual harus segera diselamatkan. Unri bukan satu-satunya kasus. Bisa jadi kampus-kampus lain sudah terpapar bahaya yang sama. Hanya kebetulan belum terkuak, menunggu triger dan momentum. Alangkah ironisnya jika kampus yang diharapkan menjadi garda terdepan dalam melawan radikalisme justru menjadi sarang “radikalis intelektual.”

Terungkapnya kasus di Unri membuka mata kita bahwa terorisme, setelah masuk jaringan keluarga (kasus bom Surabaya), kini juga masuk kampus perguruan tinggi. Tidak semestinya ada yang menyalahkan dan menyudutkan polisi serta aparat intelijen. Tugas kita semua justru membantu alat negara itu untuk mewaspadai bahaya terorisme dan radikalisme.

Kita jadi bertanya kok masih ada anak bangsa yang terkesan menghambat tugas Polri untuk mencegah terorisme dan radikalisme. Ada apa? Apakah mereka senang kalau negeri ini porak poranda tercabik-cabik oleh aksi-aksi radikalisme dan teorisme? Apakah mereka tidak menginginkan negeri tenteram, aman, dan damai?

Kita jadi memahami dan setuju terhadap statemen tokoh intelijen AM Hendropriyono yang menyerukan perlunya menangkap orang-orang yang cenderung membela dan melindungi teroris dan radikalis.

BACA JUGA: Hendropriyono: Tangkap Para Tokoh yang Bicara dan Berbuat Membela Teroris!

Hal itu sebagai konsekuensi logis dari opini mereka yang melawan arus pencegahan maraknya bahaya terorisme dan radilalisme. Seolah mereka tak memiliki sensitivitas terhadap kecemasan dan kegundahan bangsa.

Percepatan pengesahan UU Terorisme baru-baru ini sebagai salah satu jawaban strategis atas kecemasan dan kegelisahan bangsa. Tentu diperlukan langkah-langkah lain seperti pembersihan kampus dari bahaya laten terorisme dan radikalisme.

Di tengah upaya melawan terorisme rasanya tak pantas ada “pahlawan-pahlawan” pembela kaum teroris dan radikalis. Mereka harus kita lawan.

Salam.

KOMENTAR
Tags
Show More
Close