Kisah yang Tersisa dari Hari Santri Nasional

Kisah yang Tersisa dari Hari Santri Nasional
Hamka Haq

Oleh: Hamka Haq

BAHWA SUMBER pengusulan Hari Santri itu berasal dari aspirasi masyarakat pesantren, yang pada umumnya adalah pesantren Nahdhiyin kultural. Usulan tersebut terutama bergema pada masa-masa kampanye Pak Jokowi menjelang Pilpres, sekitar bulan Mei dan Juni 2014.

Usul tersebut belum sempat disuarakan secara resmi oleh PBNU, sehubungan dalam suasana pesta demokrasi itu, Ketua Umum PBNU, Prof. Dr. K.H. Said Aqiel Sjiradj berhubung satu dan lain hal tidak ikut dalam barisan pendukung Jokowi, sehingga untuk sementara komunikasi beliau dengan partai koalisi pendukung Capres Jokowi, khususnya PDI Perjuangan tidak semaksimal sebelumnya.

Usulan dari kaum Nahdliyin kultural itu kemudian diendors oleh warga dan simpatisan NU yang bergabung di parpol koalisi Capres Jokowi  khususnya mereka yang aktif menyertai safari politik Jokowi ke sejumah kiyai,  khususnya di Jawa. Dari internal PDI Perjuangan  Jokowi lazimnya didampingi oleh fungsionaris DPP Partai dibantu oleh Pengurus Baitul Muslimin (BAMUSI) ormas sayap Islam PDI Perjuangan.

Fungsionaris DPP yang ditugaskan biasanya disesuaikan dengan Dapil-nya pada saat pemilu dan sekitarnya. Untuk wilayah Jawa Timur yang dikenal sebagai wilayah Tapal kuda atau wilayah santri yang paling sering diamanahi untuk menyertai Safari politik Jokowi itu adalah DR. Ahmad Basarah Wasekjen DPP PDI Perjuangan sekaligus Sekretaris Dewan Pertimbangan BAMUSI, juga Prof. Hamka Haq Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Agama dan Kepercayaan terhadap Tuhan YME sekaligus Ketua Umum BAMUSI.

Selain itu  pengursus PP BAMUSI  yang sering juga mendapat tugas yang sama ialah Zuhairi Misrawi, salah seorng intelektual muda NU yang gabung dengan PDI Perjuangan melalui Ormas BAMUSI, diamanahi mendampingi Jokowi ke beberapa kiyai di Yogya dan Jawa Tengah.

Wacana Hari Santri yang mulanya bergulir berupa perbincangan di kalangan pesantren semakin kuat di masa-masa puncak kampanye keliling Jokowi di Jawa Timur di bulan Juni 2014, menjelang bulan suci Ramadhan 1435 H.  Seiring dengan kampanye keliling tersebut, beliau didampingi oleh Dr. Ahmad Basarah dan diagendakan menghadiri acara pelantikan PC BAMUSI Kabupaten Malang oleh Ketum BAMUSI Prof. Hamka Haq pada tanggal 27 Juni 2014 M jam 19.30 malam (29 Sya’ban 1435 H).  Acara tersebut dirangkaikan dengan silaturahim para ulama sekitarnya persiapan masuknya bulan Ramadhan, dipusatkan di Pesantren Babu Salam asuhan K.H. Thoriq bin Ziyad.  Barulah pada acara tersebut usulan Hari Santri Nasional disampaikan secara formal oleh para kiyai yang hadir diwakili oleh Gus Thoriq sendiri, Pimpinan Pesantren tersebut sekaligus Ketua BAMUSI Kabupaten Malang.  

Dalam usulannya, Gus Thoriq memohon kiranya Pak Jokowi jika terpilih jadi Presiden RI dapat menjadikan tanggal 1 Muharam sebagai Hari Santri Nasional. Usulan terebut disambut dengan takbir Allahu Akbar dan tepuk tangan meriah oleh segenap hadirin. Jokowi pun menoleh, minta pertimbangan pada dua fungsionaris DPP PDI Perjuangan yang sedang mendampinginya, yakni Dr. Ahmad Basarah dan saya.  Atas pertimbangan bersama, dengan memohon ridha Allah SWT, usulan tersebut langsung diterima oleh Jokowi dan diiyakan dalam sambutan silaturahimnya.

Usai Pilpres, berdasarkan putusan KPU Nasional, Alhamdulillah Jokowi diumumkan sebagai pemenang Pilpres 2014. Karuan saja wacana Hari Santri Nasional semakin bergulir. Para pesantren dan kiyai-kiyai kultural Nahdhiyin pendukung setia Jokowi seolah menagih janji Jokowi. Tapi awalnya sempat menjadi kontroversial, karena tanggal 1 Muharam selama ini diperingati oleh umat Islam se-Dunia sebagai hari tahun baru Hijriyah. Banyak kalangan umat Islam yang menolak keras jika hari tersebut menjadi hari santri.

Lagian makna hari santri tentu akan menjadi kabur, dan tidak jelas jika hanya sekedar numpang di tanggal 1 Muharam yang memang selama ini sudah menjadi hari besar Islam se-Dunia. Hal tersebut mendorong PP BAMUSI segera mencari solusinya. Maka pada kesempatan syukuran atas suksesnya Pilpres, BAMUSI beraudiensi dengan Wapres Bapak Jusuf Kalla tanggal 19 Desember 2014, menyampaikan beberapa hal. Termasuk perlunya mencari alternatif selain 1 Muharam sebagai Hari Santri Nasional. Secara lisan PP BAMUSI mengusulkan untuk diteruskan kepada Presiden Jokowi, yakni tanggal 22 Oktober 1945, saat Hadhratus Syekh K.H. Hasyim Asy’ari Pendiri NU menyerukan jihad nasional melawan agresi Sekutu pimpinan Inggris yang saat itu akan segera mendarat di Surabaya.

Tidak puas dengan pertemuan yang serba dibatasi oleh protokol Wapres, saya mengusulkan lagi pertemuan kekeluargaan di Rumah Dinas, disampaikan saat bersama Wapres Jusuf Kalla di atas pesawat khusus menuju Makassar menghadiri pemakaman mantar Gubernur Sul-Sel, H.Andi Oddang tanggal 11 Feberuari 2015.  Tak lama kemudian aspri Wapres H. Husain, mengatur pertemuan terebut. Dalam pertemuan kedua ini, hadir beberapa pengurus PP BAMUSI yang tidak sempat ikut pertemuan sebelumnya, termasuk Bendahara Umum PP BAMUSI Ir. H. Nasyirul Falah Amru yang juga adalah Wakil Bendahara PBNU. Usul yang sama kembali dikemukakan secara lisan rencana Hari Santri Nsional merujuk hari jihad nasional tanggal 22 Oktober 1945.

Sementara itu, hubungan dan komunikasi Ketua Umum PBNU Prof. DR. K.H. Said Aqil Siradj telah kembali hangat seperti biasa dengan koalisi Jokowi. Beliau sebenarnya sudah sangat akrab dalam lingkungan PDI Perjuangan, bahkan masuk dalam barisan nasionalisme Partai, sejak bedirinya Ormas BAMUSI beliau duduk sebagai Dewan Pembina bersama Hj. Megawati Soekarnoputri dan Taufiq Kiemas dan Buya Syafi’i Maarif. Beliau tidak pernah absen dalam acara-acara besar BAMUSI dan PDI Perjuangan.  Beliau juga turut hadir pada pelantikan Jokowi sebagai Presiden di gedung MPR RI.  Dan dengan didukung sejumlah Ormas Islam lain, beliau gigih mengajukan usul ke Presiden tentang Hari Santri Nasional , yakni mengacu ke tanggai 22 Oktober 1945 hari jihad nasional tersebut. 

Berdasarkan usul-usul tersebut, maka pada akhirnya Presiden Jokowi menunaikan janjinya menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional, yang akan diperingati umat Islam Indonesia setiap tahunnya. Dari pesantren Babu Salam 27 Juni 2014, hingga Masjid Istiqlal 22 Oktober 2015, jadilah Hari Santri Nasional itu.  

Hal ini harus dipahami oleh bangsa Indonesia, terutama oleh umat Islam bahwa PDI Perjuangan bukanlah partai sekuler, melainkan partai nasionalis religius, terbukti telah menjadi pelopor melalui Ormas sayap BAMUSI bagi lahirnya Hari Santri Nasional.  Wallahu A’lam bi al-Showabi.

* Penulis adalah Prof. Hamka Haq, Ketua Umum BAMUSI.