NasionalPariwisataSosial Budaya

Kisah Perjalanan Ketua Umum HKKN Pulang Kampung ke Bumi Kerinci

Penerbangan Tertunda 7 Jam, Terkatung-Katung di Bandara Jambi

JAMBI, SENAYANPOST.comFestival Budaya Kenduri SKO yang digelar di Desa Koto Keras, Kecamatan Pesisir Bukit, Kota Sungai Penuh, Provinsi Jambi, selama sepekan di penghujung tahun 2018 lalu berlangsung sukses. Suasana suka-cita masyarakat Kerinci yang mewarnai rangkaian acara, dari lomba tari iyau – iyau, lomba pencaksilat lom gong, seminar adat, hingga puncak acara penobatan (orang jadi) Depati niniek mamak tegak baru kembarkan, dlsb — menggambarkan even seni-budaya Kerinci itu begitu semarak. Namun, di balik kesuksesan itu ada cerita miris dari belakang layar, tentang tantangan yang dihadapi tokoh Kerinci perantau dalam perjalanan menuju kampung halamannya untuk menyemarakkan acara itu. Cerita miris yang menjadi cermin, betapa sulitnya akses transportasi udara ke Bumi Kerinci dan rendahnya kualitas pelayanan oleh maskapai penerbangan di sana, sehingga menghambat pengembangan wisata alam dan budaya di Bumi Kerinci.

Liputan dari Bumi Kerinci edisi pertama mengangkat kisah perjalanan Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Keluarga Kerinci Nasional (PB HKKN) Brigjen Pol. Syafril Nursal, S.H. M.H  gelar Depati Koto Keras Susun Negeri, ketika pulang kampung untuk mengikuti puncak acara Festival Budaya Kenduri SKO. Simak kisahnya;

Ketua Umum PB HKKN Brigjen Pol Drs. H. Syafril Nursal, SH, MH, bersama Walikota Sungai Penuh Prof. Dr. H. Asafri Jaya Bakri, MA disambut masyarakat dan tokoh adat Kerinci, Sabtu (22/12/2018).

Setiap kali ada keluarga, sahabat dan rekan hendak ikut bersama saya pulang kampung ke Kerinci, saya kerap tidak enak hati. Satu sisi ingin menyenangkan mereka, bisa bersama-sama menikmati kekayaan alam dan budaya Kerinci, sisi lain saya khawatir mereka kecewa dengan perjalanan yang tidak sesuai harapan. Soalnya saya masih teringat kejadian yang tidak mengenakkan pada Mei 2018 lalu, ketika membawa rombongan dari Jakarta sekitar 80 orang pengurus dan anggota HKKN ke Kerinci: pesawat Wings Air yang hendak membawa kami dari Jambi ke Kerinci transit ke Muara Bungo dan tidak dapat melanjutkan perjalanan ke Kerinci. Pihak maskapai penerbangan beralasan cuaca buruk. Akhirnya rombongan kami terpaksa menuju Kerinci melalui jalan darat, yang memakan waktu sekitar 10 jam dan menghabiskan energi.

Pengalaman pahit ini terjadi lagi sepekan menjelang pergantian tahun 2018 yang lalu. Ceritanya, saya dijadwalkan hadir di puncak acara Festival Budaya Kenduri SKO, Minggu (23/12/208). Karena itu, saya harus sudah berada di Sungai Penuh setidaknya Sabtu jelang siang supaya cukup waktu untuk anjangsana ke rumah saudara-saudara, istirahat dan persiapan acara esoknya. Perjalanan saya dari Jakarta ke Kota Jambi dengan menumpang Garuda Indonesia tidak ada kendala, lancar dan tepat waktu. Persoalan mulai muncul ketika terbang menggunakan pesawat Wings Air dari Kota Jambi ke Kerinci. Semula petugas Wing Air menginformasikan pesawat terlambat tiba di Kota Jambi, jadi penumpang diminta menunggu sekitar 2 jam. Baiklah, saya pikir telambat dua jam tidak masalah, bisa dimaklumi.

Setelah 2 jam lebih menunggu, pesawat akhirnya tiba di Bandara Jambi. Waktu terus berjalan dan sementara belum juga ada kepastian terbang ke Kerinci. Lalu, saya konfirmasi kepada petugas maskapai. Petugas menyampaikan pesawat baru akan terbang 5 jam lagi dan saya diminta untuk kembali menunggu keberangkatan. Alasannya kali ini; pesawat rusak. Wah, saya kaget. “Lima jam lagi?. Yang benar saja?,” saya terheran-heran campur kesal dalam hati. Itu berarti saya bakal sampai Kerinci sekitar jam 14.00 atau 15.00 WIB. Dan kemungkinan jam segitu tidak bisa terbang karena cuaca tidak bersahabat. Anehnya selama mengalami kendala penerbangan yang sama, saya belum melihat ada upaya petugas maskapai untuk memberikan solusi kepada penumpang; entah penggantian pesawat yang rusak dan atau menyediakan bis untuk perjalanan darat.

Sempat terpikir untuk kembali ke Jakarta, tapi tak mungkin. Saya berusaha tidak mengecewakan pemangku adat dan masyarakat Kerinci yang sudah menunggu saya di kampung. Selain itu, kehadiran saya di sana bukan sekadar meramaikan acara, saya membawa misi untuk menjadikan Festival Budaya Kenduri SKO sebagai obyek wisata, dengan menjadikan agenda bulanan dan diselenggarakan tiap kampung secara bergantian. Saya harus meyakinkan pejabat daerah dan pemangku adat, serta mengedukasi masyarakat untuk mewujudkan misi itu. Selain itu, misi saya yang kedua, saya berupaya fungsi adat kembali dihidupkan sebagai pranata sosial budaya untuk menciptakan ketertiban, keamanan dan keharmonisan masyarakat Kerinci. Jadi, saya harus segera berangkat ke Kerinci tanpa menunggu jadwal terbang yang berlarut-larut dan tak ada kepastian.

Lalu, saya hubungi teman Kepala Biro Operasional di Polda Jambi. Saya sampaikan, penerbangan saya ke Kerinci tertunda dan saya perlu solusi. Alhamdulillah mendapat respon positif. Sahabat saya satu angkatan di Akpol itu dengan sigap menyiapkan tim patwal. Akhirnya saya berangkat ke Kerinci melalui jalur darat dengan pengawalan Polda Jambi. Perjalanan dengan patwal ditempuh dalam waktu sekitar 10 jam, bayangkan tanpa pengawalan bisa sampai 14 jam. Untuk ke Jakarta esoknya, saya kembali di kawal patwal melalui jalan darat untuk menuju Bandara Jambi karena tidak ada penerbangan dari Kerinci.

Pengalaman ini saya ceritakan tanpa maksud mendiskeditkan siapa pun atau pihak mana pun. Semata-mata sebagai bahan renungan untuk kita terus berbenah. Ini bukan tentang saya, tapi tentang masyarakat yang tiap hari menumpang pesawat ke Kerinci. Kalau pejabat saja mengalami persoalan ini, bagaimana dengan masyarakat yang rutin menggunakan penerbangan ke Kerinci? Ini juga tentang wisatawan dan investor yang kita harapkan berbondong-bondong mengunjungi Kerinci, lalu menciptakan lapangan kerja dan lapangan usaha di Kerinci, dan akhirnya memajukan perekonomian Kerinci. Jangankan berharap investor dan wisatawan bersedia mengujungi Kerinci, kita saja warga asli Kerinci bisa enggan untuk sering-sering pulang kampung jika layanan penerbangan masih seperti ini. Singkatnya, pertanyaan besar untuk kita semua yang mencintai Bumi Kerinci, bagaimana kita bisa memajukan wisata alam dan budaya Kerinci, jika persoalan mendasar transportasi udara belum teratasi?

Kita ingin mengembangkan pariwisata Kerinci. Berbagai ikhtiar sudah dilakukan HKKN sejak awal 2018 untuk mengangkat potensi wisata alam dan budaya Kerinci; mempromosikan obyek wisata alam dan budaya dengan membawa 80 rombongan pengurus dan anggota HKKN pulang kampung; mempromosikan buah-buahan dan hasil bumi lainnya, mendukung dan mempromosikan Festival Budaya Kenduri SKO, menggagas dan melobi pemerintah untuk perpanjangan rute Tour de Singkarak hingga Kerinci, dlsb.  Semua itu nyaris tak ada artinya jika kondisi akses transportasi udara dari dan menuju Kerinci masih mengalami banyak kendala.

Kita harus segera berbenah. Terutama yang paling penting merealisasikan perluasan landasan pacu Bandara Kerinci dari panjang 1.800 meter dan lebar 30 meter menjadi minimal panjang 2600 meter dan lebar 100 meter agar dapat difungsikan untuk melayani penerbangan pesawat jet atau sejenis Boeing sehingga melancarkan transportasi masyarakat, meningkatkan kunjungan wisata dan investasi di Bumi Kerinci. Pemerintah pusat dan provinsi sudah menyediakan anggaran pembebasan lahan untuk perluasan landasan pacu Bandara Kerinci, tinggal kesungguhan Pemerintah Kabupaten Kerinci untuk merealisasikannya. HKKN sempat melobi maskapai penerbangan Sriwijaya Air untuk membuka jalur ke Kerinci. Mereka bersedia, hanya saja mensyaratkan landasan penerbangan yang layak dan memenuhi syarat untuk pesawat jet. Pemerintah pusat dan daerah, bersama-sama berbagai komponen masyarakat harus bersatu saling mendukung untuk membenahi satu-persatu persoalan daerah untuk kemajuan negeri yang kita cintai bersama. Mari kita lanjutkan kerja-kerja membangun Bumi Kerinci untuk kemajuan NKRI.

Baca Juga: Ikhtiar Majukan Wisata Alam dan Budaya Kerinci Jauh Panggang dari Api

KOMENTAR
Tags
Show More
Close