Breaking NewsHot IsuPeristiwa

Kisah Perjalanan Hidup Bapak Teknologi Indonesia BJ Habibie

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Bacharuddin Jusuf Habibie meninggal dunia di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta pada Rabu (11/9) pukul 18.05 WIB.

Sebelumnya, bapak teknologi Indonesia itu telah dirawat dua pekan secara intensif di RSPAD. Pada Maret 2018, Habibie sempat dirawat di klinik Starnberg di Munich, Jerman, karena kebocoran klep jantung.

Anak Bungsu Habibie, Thareq Kamal mengatakan kinerja jantung sang ayah tidak lagi mampu mengimbangi banyak aktivitas. Dia meninggalkan kita semua di usia 83.

“Usia 80 tahun, hati 17 tahun. Hardware-nya 80 tahun tetapi software-nya selalu up to date,” kata Habibie berseloroh kepada Najwa Shihab tiga tahun lalu, saat ditanya soal apakah ia merasa tua. Ketika itu Habibie ulang tahun ke-80, program Mata Najwa membikin acara khusus.

Visioner

Ide Habibie terbukti visioner, hal ini pernah disinggung oleh Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Hammam Riza seusai membesuk pada Selasa (10/9).

“Ia ingin melakukan lompatan dalam mengembangkan teknologi industri untuk Indonesia. Dan sebagian cita-cita itu sudah terwujud dengan begitu banyaknya industri strategis, seperti PT Pindad dan DI [Dirgantara Indonesia], meski banyak tantangan,” kata Hammam.

Pada 1990, Habibe itu ia menulis dalam Sophisticated technologies: taking root in developing countries-International journal of technology management. Pemikiran Habibie pada 29 tahun silam tersebut sudah menyinggung soal keharusan berpijak pada riset dan teknologi.

Habibie dan teknologi, adalah sepasang lain. Selain Habibie dan Ainun. Ketertarikan dia pada teknologi diseriusi pada 1954 dengan memilih belajar di Fakultas Teknik Universitas Indonesia Bandung (sekarang Institut Teknologi Bandung ITB).

Terbang ke Jerman

Setahun berikutnya hingga 1965 ia melanjutkan studi teknik penerbangan spesialisasi konstruksi pesawat terbang di RWTH Aachen, Jerman Barat.

Saat itu Habibie remaja nekat terbang ke Jerman. Pemuda kelahiran Pare Pare itu masih usia 18, berangkat dengan biaya sendiri, kemudian harus menanggung hidup sulit pada setahun pertamanya karena kiriman duit yang seret.

Tapi, sikap yang selalu ingin tahu dan kecintaan terhadap teknologi membuat tekadnya bulat. Hingga akhirnya Habibie menerima gelar diploma ingenieur pada 1960 dan doktor ingenoeur pada 1965 dengan predikat summa cum laude.

Ia sempat bekerja di sebuah perusahaan penerbangan Messerschmitt-Bolkow-Blohm sebelum kembali ke Indonesia pada 1973. Ia dijemput Dirut Pertamnina era Orde Baru, Ibnu Sutowo atas permintaan Soeharto.

Jadi Presiden

B.J. Habibie lantas ditunjuk menjadi Menteri Negara Riset dan Teknologi pada 1978 hingga Maret 1998. Terobosan pertamanya dimulai dengan implementasi “Visi Indonesia” yang mendambakan lompatan-lompatan dari negara agraris menjadi negara industri penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Ia menggagas sejumlah industri strategis seperti PT IPTN, Pindad dan PT PAL.

Bukan saja soal teknologi, Habibie juga dikenal sebagai pemecah problem ekonomi pada masa krisis moneter. Puncak karir Habibie tercatat pada 1998 saat diangkat sebagai Presiden ke-3 Republik Indonesia setelah Soeharto berhenti sebagai pemimpin negara.

Ia mewarisi kondisi negara yang kacau balau; marak kerusuhan dan disintegrasi serta krisis ekonomi. Salah satu tugas pentingnya adalah kembali mendapat dukungan dari Dana Moneter Internasional (IMF) dan komunitas negara donor demi program pemulihan ekonomi. Dia juga disebut membebaskan tahanan politik dan mengurangi kontrol pada kebebasan berpendapat serta berorganisasi.

Dari rahim pemerintahan era Habibie, lahir sejumlah undang-undang yang mendukung iklim demokratik yaitu UU tentang Partai Politik, UU tentang Pemilu dan UU tentang Susunan Kedudukan DPR/MPR. Pada masa dia pula Undang-undang Pers, Undang-undang anti-monopoli, Undang-undang Otonomi Daerah dan Undang-undang Perlindungan Konsumen disahkan.

Kebijakan lain, Habibie adalah orang yang juga mencabut larangan berdirinya serikat buruh independen.

Setelah pelbagai raihan gemilang, Habibie sempat dicemooh sebagian orang lantaran membolehkan referendum Timor Timur. Akibatnya, berdasarkan hasil penentuan jajak pendapat, warga Timor Timur memilih melepaskan diri dari Indonesia.

Lantas purna menjabat presiden, Habibie masih dimintai pendapat untuk pelbagai permasalahan negara. Pada era Susilo Bambang Yudhoyono, ia bahkan aktif menjadi penasihat presiden guna mengawal proses demokrasi.

Kini Habibie sudah telah berpulang. Indonesia kehilangan satu sosok untuk dirujuk dan didengar nasihatnya. Meski begitu, gagasan dan semangat keingintahuan Habibie akan terus hidup. (AR)

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close