Kriminal

Kisah Mansyur yang Disekap 9 Tahun oleh Orang Tuanya

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Mansyur (26) menjadi korban kekerasan kedua orangtuanya dan telah disekap selama 9 tahun di WC rumahnya di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan.

Mansyur kini dalam penanganan tim dari Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A) di Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A).

“Penanganannya sudah kami tangani. Dan hingga saat sekarang ini korban sudah didampingi oleh psikolog, yang mana untuk penanganan psikis dan emosionalnya,” ungkap Kepala Dinas DP3A, Andi Ilham Gazaling dikutip dari kumparan, Kamis (17/10).

Jika kondisinya sudah stabil, Mansyur akan diserahkan kepada pihak keluarga yang bersedia menampungnya. Namun, saat ini pihaknya fokus untuk memberikan terapi khusus kepada Mansyur.

“Namun hingga saat sekarang ini korban harus menerima terapi khusus berupa konseling pendampingan dulu sampai kondisinya stabil. Setelah itu, kami akan mencarikan keluarganya yang bisa mengasuh dia dengan baik,” tuturnya.

Kepala UPT Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Sulsel Meisy Papayungan, menjelaskan selama penanganan untuk sementara korban diinapkan di shelter atau rumah singgah yang bernama Rumah Aman di kawasan Antang.

“Kondisi fisik korban semakin membaik. Dia juga doyan makan. Mungkin karena selama ini hanya diberi makan satu kali satu hari,” kata Meisy.

Meisy mengungkapkan, setiap pagi Mansyur akan dibawa ke P2TP2A Sulsel untuk ditangani dan dibawa kembali ke shelter setelah jam pulang kantor. Hingga saat ini, kata dia, kondisi korban mulai membaik. Dia cukup ramah dan mudah berinteraksi dengan orang di sekitarnya.

Mansyur pun sempat mendapatkan kunjungan dari Kadis DP3A Andi Ilham Gazaling dan Asisten III Tautoto Tana Ranggina. Mereka menanyakan beberapa pertanyaan kepada Mansyur. Mansyur terlihat aktif menjawab pertanyaan, meski jawabannya kurang jelas dan kerap menggunakan bahasa daerah.

Mansyur juga mengaku tidak mau kembali ke rumah karena takut disiksa lagi. Ia bahkan tidak mengakui ayah dan ibunya sebagai orang tua. Ia juga bercerita kekerasan yang dialaminya ketika berada di Malaysia dan di Bulukumba.

“Tidak mau’ka kembali (tak ingin bertemu keluarga). Nanti disiksa baru tidak dikasih makan lagi,” ungkap Mansyur.

Psikolog pendamping Mansyur, Tissa Wulandari, mengungkapkan Mansyur menderita disabilitas intelektual. Daya tangkapnya kadang lamban, dan interaksi dengan lingkungan kurang baik, bahkan terkadang bisa bersikap agresif.

“Kita akan terus memantau perkembangan sampai kondisinya stabil,” tandas Tissa.

Kadis DP3A, Andi Ilham Gazaling, mengatakan kasus seperti ini bisa saja terjadi di daerah lain. Sehingga ia meminta agar stakeholder terkait, khususnya DP3A kabupaten/kota, untuk selalu melakukan pemantauan.

“Kalau ada kasus seperti itu, atau kekerasan dalam rumah tangga, cepat ambil langkah penanganan,” ujar Andi.

KOMENTAR
Tags
Show More
Back to top button
Close
Close