Opini

Kisah Kheiron

ALKISAH, suatu hari Cronus (Titan Kronos) tengah berkencan dengan Philyra, nimfa laut. Keasyikan mereka diganggu oleh Rhea, saudara perempuan dan juga istri  lain Cronus atau Saturnus dalam astrologi. Sebenarnya dari Rhea–putri Uranus dan Gaea–Cronus sudah memiliki anak: Zeus, Poseidon, Hera, Hades, Demeter, dan Hestia.

Oleh karena terus diganggu, Cronus mencari akal. Ia lantas mengubah diri menjadi seekor kuda. Demikian pula, Philyra berubah menjadi seekor kuda. Hubungan mereka berlanjut. Dan, suatu ketika Philyra melahirkan. Yang ia lahirkan ternyata bayi laki-laki yang berujud setengah manusia setengah kuda. Dari kepala hingga pinggang adalah ujud manusia; dari pinggang ke bawah ujud badan kuda dengan empat kaki.

Philyra begitu ngeri setelah tahu bahwa anak yang dilahirkan berujud setengah manusia setengah kuda, Centaur. Ia memohon pada dewa agar diubahlah wujud anaknya itu. Namun, anak lelaki itu yang diberi nama Kheiron (Chiron) itu tetaplah tidak berubah ujud. Bahkan, anak-anak Philyra yang lain juga berujud setengah manusia, setengah kuda.

Tak mau menerima kenyataan itu, Philyra meninggalkan Kheiron, tak mau mengasuhnya. Inilah penderitaan pertama Kheiron: ditolak oleh ibunya. Kheiron kecil ditemukan seorang gembala dan dibawa ke hadapan Dewa Matahari, Apollo.  Ia tumbuh menjadi dewasa dan tinggal di kaki Gunung Pelion di Thessaly.

Tidak seperti Centaur lainnya, yang kejam dan biadab, Kheiron terkenal karena kebijaksanaan dan pengetahuannya tentang obat-obatan. Banyak pahlawan mitos Yunani, termasuk Heracles, Achilles, Jason, Peleus, Asclepius, dan juga Aristaios  dididik oleh Kheiron. Ia guru yang bijaksana, sekaligus tabib yang sangat mampuni.

Mereka berharap bahwa Kheiron akan mengajari murid-muridnya untuk menjadi orang yang bijaksana; yang bisa, pertama-tama, mengetahui serta memahami sifat luhur manusia dan sifat binatang; dan kemudian  memisahkan antara keduanya dalam kehidupan nyata.

Dengan kata lain, mereka belajar kepada Kheiron untuk menjadi manusia bijak: mampu memisahkan kemanusiaan dan kebinatangan. Manusia, menurut istilah Carolus Linnaeus (1707-1778), seorang ahli botani dari Swedia adalah homo sapiens, manusia yang memiliki pengetahuan atau kebijaksanaan. Ini yang secara jelas membedakan manusia dan binatang. Manusia memiliki nalar dan bisa bernalar. Binatang, tidak!

Orang yang bijak selalu berwawasan luas, memiliki karakter, dan mengabdi kepada kebenaran. Untuk mewujudkan kesemua itu, orang yang bijak selalu hidup dalam tuntunan virtus atau virtue (keutamaan, kebajikan); dalam kesatuan hati atau kesehatian atau saling pengertian yang baik (concordia) dengan semua orang; menjaga kepercayaan (fides) dari orang-orang lain; memegang teguh dan menepati janji (fidem servare); dan terus berusaha mencintai kebenaran (veritas).

Karena itu, orang bijak akan selalu memikirkan, mempertimbangkan dampak dari apa yang akan dikatakan (juga yang akan dilakukan), tidak sekadar melepaskan pernyataan begitu saja (tidak sembarang bertindak). Si decem habeas linguas, mutum esse addecet, (Bahkan) jika engkau memiliki sepuluh lidah, sebaiknya engkau tetap diam. Begitu kata peribahasa. Sebab, orang bijak menyimpan pengetahuan, tetapi mulut orang bodoh adalah kebinasaan yang mengancam.

Kheiron mengajari murid-muridnya tentang bagaimana berjuang dengan dua cara—cara manusia dan cara binatang–tetapi tetap menekankan cara manusia sebagai homo sapiens. Karena, pikiran dan hati Kheiron, tetap pikiran dan hati manusia. Sementara kekuatan dan nafsunya adalah kekuatan dan nafsu binatang, seperti digambarkan dalam bentuk badan kuda dari pinggang ke bawah.

Dalam bahasa lain, Niccolo Machavelli dalam Il Principe, Sang Penguasa (1996), menyebutkan dua cara itu adalah  melalui hukum dan melalui kekerasan. Cara pertama merupakan cara yang wajar bagi manusia. Sedangkan yang kedua adalah cara yang biasa digunakan binatang.

Akan tetapi, kerap kali terjadi, bila orang gagal menggunakan cara pertama, lantas memilih cara kedua: cara binatang. Seorang penguasa (termasuk juga para pemimpin politik, elite politik, juga para pemimpin di lembaga atau organisasi lain), menurut Machiavelli, harus mengetahui bagaimana bertindak menurut sifat dari baik manusia maupun binatang.

Apakah “harus mengetahui” juga berarti “harus melakukan?” Pertanyaan seperti ini tampaknya selalu terlewatkan. Yang dilakukan oleh mereka yang bernafsu memburu kekuasaan (juga pemegang kekuasaan) dalam berbagai tingkatan dan lingkungan adalah justru bagaimana mengikuti nasihat Machiavelli: meniru rubah dan singa.

Mengapa meniru rubah dan singa? Oleh karena singa tidak bisa membela diri sendiri terhadap perangkap; dan rubah tidak dapat membela diri terhadap serigala. Maka dari itu, orang harus seperti rubah untuk mengetahui adanya perangkap, dan seperti singa untuk menakuti serigala. Anjuran seperti itu, tentunya tidak baik bagi orang-orang bijak yang berusaha sekuat tenaga untuk menghindari pola berpikir sektarian, sektoral, hanya mementingkan kelompoknya, golongannya, partainya sendiri.

Sebab orang bijak—meminjam ucapan Marcus Tullius Cicero–selalu berprinsip, Non nobis solum nati sumus, kita tidak dilahirkan untuk diri kita sendiri saja. Karena itu, dalam kehidupan bersama, di tengah masyarakat negeri ini yang sangat plural, sangat majemuk, sangat beragam dalam segala hal, yang tidak lepas dari benturan kepentingan antar-kelompok, antar-golongan, tidak luput dari kekerasan, maka kehadiran orang-orang bijak sungguh sebuah keharusan.

Orang-orang bijaklah yang bisa memisahkan sifat manusia dan sifat binatang. Dan, orang-orang bijak berkewajiban untuk mengajak semua orang untuk berani memilih cara-cara homo sapiens, bukan justru menjadi homo homini lupus est, manusia adalah serigala bagi sesama. Bila demikian, maka “kita tidak lagi akan menjadi homo sapiens”, begitu kata Yuval Noah Harari (2017).  

Oleh Trias Kuncahyono

KOMENTAR
Tags
Show More
Back to top button
Close
Close