Hukum

Kisah Andika Perkasa & Ganja Beutong

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Sebagian petinggi TNI saat ini, pernah beririsan dengan Aceh saat konflik masih mendera. Sebagian orang-orang Aceh menyimpan kenangan pertemuan dengan mereka, seperti ku yang tiba-tiba teringat pada Andika Perkasa, kala masih muda dengan sekarung ganja.

Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) itu, sedang hangat dibicarakan berkaitan dengan jabatan baru, Wakil Panglima TNI, setelah Presiden Joko Widodo meneken Peraturan Presiden Nomor 66 Tahun 2019 tentang Susunan Organisasi Tentara Nasional Indonesia. Menghidupkan kembali jabatan itu di struktur organisasi TNI.
Tentang Andika dalam ingatan ku, begini kisahnya.

Aku tak ingat persis tanggal pastinya, pada awal tahun 1994 seorang perwira muda Komando Pasukan Khusus (Kopassus), satuan elit TNI Angkatan Darat berkunjung ke sekolah kami, SMA 1 Bireuen, Provinsi Aceh.

Dia datang bersama beberapa rekannya membawa sekarung ganja, sebagian daun masih melekat ke batang. Ada juga satu tahanan yang telah dicukur ala anak punk. Kami, para siswa dikumpulkan oleh para guru di ruang aula, duduk berjejer.

Memperkenalkan diri sebagai Andika Perkasa, perwira muda itu penampilannya bersahabat, memakai seragam SMA yang kuketahui belakangan pinjaman dari seorang rekanku, Mulyadi namanya alias Wak Moel. Rekannya berseragam loreng, sebagian kaos.

Dia dipanggil komandan oleh beberapa yang lain, bertubuh tinggi lumayan tampan, dan berbicara lugas terlatih komunikasi, membuat rekan-rekanku yang perempuan menebar gosip tentangnya sampai tiga hari kemudian. Dia lulusan AKABRI angkatan 1987.

Pos mereka saat itu, tak jauh dari sekolah kami, kawasan Stadion Cot Gapu Bireuen. Berkunjung ke sekolah, mereka punya misi sosialisasi narkoba tentang bahaya ganja bagi remaja. Ganja dalam karung ditunjukkan sebagai barang haram yang harus dibasmi. Kopassus itu mengaku mendapatkannya di Beutong Ateuh, Kabupaten Nagan Raya yang tumbuh subur di perbukitan.

Dalam ingatanku yang samar, tentara itu menyebut telah membasmi ratusan batang di kawasan itu. Berton-ton didapat, sengaja atau tidak telah ditanam oleh warga sekitar. Saat itu konflik Aceh masih berkecamuk, Gerakan Aceh Merdeka (GAM) masih mengangkat senjata melawan pemerintah.

(Bukan komentar dari Kopassus itu) GAM bahkan diklaim aparat menanam ganja untuk membeli senjata, aku kerap mendengar dugaan ini dari beberapa tentara di kampungku.

Kembali ke sekolah. Pemuda berpangkat Letnan Satu terus memberikan petuah, yang didengar acuh tak acuh oleh beberapa kawanku. Maklum, ganja saat itu menjadi kebiasaan beberapa remaja sekolah kami, dicampur dengan rokok commodore, rokok legenda para pemula, murah dan terjangkau. Bahkan setelah sosialisasi, masih ada yang meneruskan kebiasaan mengisap ganja di kantin belakang.

Tapi setidaknya, sebagian kami paham tentang kerusakan tubuh yang disebabkan oleh ganja jika dihisap. Beberapa guru, kerap mengulang-ulang bahaya ganja sesudah Andika berkunjung. Bahkan disertai ancaman dikeluarkan dari sekolah jika kedapatan. Kendati tak seorang pun kami yang berkasus karena ganja di sekolah.

Belakangan, aku teringat lagi pada Kopassus itu ketika satu nama TNI dilantik menjadi Komandan Paspampres pada 22 Oktober 2014, Mayor Jenderal Andika Perkasa. Nama itu pula dengan tiga bintang di pundaknya, Jumat, 23 Juli 2018 diangkat menjadi menjadi Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad). Karirnya naik, diangkat menjadi KSAD dengan bintang penuh di pundaknya, 22 November 2018.

Saat diangkat menjadi Pangkostrad, aku masih ragu, benarkan dia yang dulu berkunjung ke sekolah kami. Maklum, penampilannya sedikit berubah dan badannya lebih berisi. Lalu kutanyakan kepada beberapa kawan seangkatan SMA tentangnya, beberapa mengingatnya, bahwa benar dialah yang membawa sekarung ganja.
Bahkan seorang kawanku bernama Halim, mengaku pernah mengirimnya pesan ucapan selamat saat Andika diangkat menjadi Komandan Paspampres. Mengingatkan pengalamannya, dan dibalas senyuman oleh beliau.

Kenangan itu sempat kami bicarakan kembali, saat reuni perak atau 25 tahun angkatan ku, di SMA 1 Bireuen, pada Sabtu 8 Juni 2019 lalu. Kami tertawa mengingatnya.

Andika terakhir berkunjung ke Aceh pada 29 Agustus 2019 lalu, kunjungan kerja ke Kodam Iskandar Muda. Aku tak sempat mengusiknya dengan kenangan itu. Mungkin suatu saat nanti, kalau dia berkunjung lagi.
Begitulah sebaris kenangan tentang Andika yang masih kuingat, saat kami bersua 25 tahun lalu. Selamat bertugas Jenderal.

Dikutip dari Aceh Kini

KOMENTAR
Tags
Show More
Back to top button
Close
Close