Kiprah dan Prestasi Pangkostrad Letjen Andika Perkasa

Kiprah dan Prestasi Pangkostrad Letjen Andika Perkasa

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto mempercayakan jabatan Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat atau Pangkostrad kepada Letnan Jenderal Andika Perkasa.

Andika Perkasa sebelumnya menjabat sebagai Komandan Komando Pembina Doktrin, Pendidikan, dan Latihan Tentara Nasional Indonesia (Kodiklat TNI). Menggantikan seniornya Letnan Jenderal TNI Agus Kriswanto, yang diangkat menjadi Panglima Tinggi (Pati) Markas Besar TNI AD dalam rangka pensiun.

Keputusan Panglima TNI itu tertuang dalam Dalam Surat Keputusan Panglima TNI Nomor Kep/673/VII/2018 yang ditetapkan di Jakarta pada Jumat, 13 Juli 2018.

Karier Andika Perkasa cukup moncer di TNI. Lulus Akademi Militer pada 1987, Andika mengawali kariernya sebagai Komandan Peleton Grup 2/Para Komando, Kopassus. Sejak itu, Andika lebih banyak bergelut di tubuh Kopassus, pasukan elite di Angkatan Darat.

Ia sempat menjadi Komandan Tim 3 Satuan Penanggulangan Teror atau Sat Gultor 81 Kopassus. Andika pernah diperbantukan Badan Intelijen Negara (BIN) untuk menangkap gembong teroris Umar Al Faruq di Bogor.

Andika juga pernah bertugas di Komando Pendidikan dan Latihan TNI AD dan Sekretaris Pribadi Kepala Staf Umum TNI.

Menantu mantan Kepala BIN, Hendropriyono, itu pernah menjabat Komandan Komando Resimen Induk Komando Daerah Militer Jaya dan Komandan Komando Resor Militer 023/Kawal Samudera, Sibolga, Sumatera Utara, pada 2012.

Saat bertugas di sini, nama Andika Perkasa sempat disebut oleh mantan Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Surono, saat menangani letusan Gunung Sinabung pada 2012.

Surono saat itu mengungkapkan komunikasi yang tak jalan antara pemerintah daerah dan masyarakat.

“Akhirnya incident commander dipegang oleh Komandan Korem Sibolga Kolonel Andika Perkasa. Saya bilang ke dia, daerah bahaya radiusnya hanya 3 kilometer. Ini pengungsi sudah melebihi kapasitas. Kasihan anak-anak dan manula terlunta-lunta di tenda. Mereka bisa pulang,” kata Surono, kala itu.

Setelah itu, karier Andika melesat hingga ia menjadi Kepala Dinas Penerangan TNI AD pada 2013. Selain memiliki karier militer yang cemerlang, Andika dikenal cakap di bidang akademik. Dia sempat melanjutkan studi di Harvard University untuk jenjang magister. Lulusan terbaik Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat pada 2000 ini menyabet gelar doktoralnya di George Washington University.

Karier Andika Perkasa mendekatkan ia dengan Presiden Joko Widodo. Pada Oktober 2014, Andika diangkat menjadi Komandan Pasukan Pengamanan Presiden dengan pangkat Mayor Jenderal. Saat menjadi Komandan Paspampres ini, Andika Perkasa pernah diminta Presiden Jokowi menjemput Abraham Samad ke Istana Bogor.

Saat itu tengah terjadi ketegangan antara kepolisian dan Komisi Pemberantasan Korupsi. Samad, yang menumpang mobil Andika, kemudian tiba di Istana Bogor dan bertemu dengan Kapolri saat itu, Jenderal Badrodin Haiti, untuk meredakan ketegangan.

Selama menjadi Komandan Paspampres, Andika Perkasa membuat beberapa gebrakan. Salah satunya gaya berpakaiannya yang lebih santai dan sporty. “Saya lebih nyaman seperti ini,” kata Andika di kantor Presiden, Senin, 27 Oktober 2014.

Andika tampil memakai celana berbahan parasut yang memiliki beberapa kantong tambahan. Selain itu, ia memakai sepatu sport untuk kegiatan mendaki dan lari.

Para pendahulunya, termasuk Doni, selalu memakai pakaian formal, yaitu kemeja lengan panjang, celana bahan gelap, dan sepatu pantofel.

“Belum dibicarakan dengan Presiden. Tapi, kalau disetujui, semua Paspampres mungkin akan seperti ini,” katanya. Dan kini pakaian anggota Paspampres dalam beberapa kesempatan terlihat lebih santai dan sporty.

Pada 2016, Andika Perkasa diangkat menjadi Panglima Kodam XII Tanjungpura. Kemudian, pada Januari 2018, Andika melepas jabatan sebagai Pangdam untuk menempati jabatan baru sebagai Komandan Komando Pembina Doktrin, Pendidikan, dan Latihan TNI AD.

Kini Andika Perkasa, yang berpangkat Letnan Jenderal, akan menjadi Panglima Kostrad saat Indonesia memasuki tahun politik karena ada dua hajatan besar, yaitu pemilu legislatif dan pemilihan presiden 2019.

Menurut seorang mantan Gubernur Akademi Militer (Akmil), Andika Perkasa seharusnya lulus pada tahun 1987 dengan Adhi Makayasa.

Tapi tidak jadi karena Andika terlibat dalam perkelahian membela teman dalam satu Korps sebagai taruna.

Dalam karir penugasannya, Andika Perkasa juga padat dengan penugasan operasi militer, seperti di Aceh dan penumpasan terhada geriliawan pengacau di Papua. (JS)