Mutiara Hikmah

Kini Ia Tidak Lagi Menyukai Kebenaran!

Kini Ia Tidak Lagi Menyukai Kebenaran!
Ahmad Rofi’ Usmani

Oleh: Ahmad Rofi’ Usmani

KAIFA ashbahta, Hudzaifah?”

Demikian sapa akrab ‘Umar bin Al-Khaththab, seorang penguasa kedua dalam sejarah Islam, selepas berbagi salam, kepada seorang sahabat kondang yang berpapasan dengannya di jalan di Kota Nabi. Pagi itu. Dengan sapaan tersebut, maksud ‘Umar adalah untuk menanyakan “bagaimana keadaanmu pagi ini, Hudzaifah”. Namun, kata ashbahta oleh Hudzaifah dipahami dengan pengertian lain. Yaitu: “Engkau kini menjadi apa, Hudzaifah?” 

Mendengar sapaan demikian, Hudzaifah sejenak terpana. Lalu, ia menjawab sapaan akrab ‘Umar tersebut dengan nada suara yang sangat ketus, “Amir Al-Mukminin! Engkau ingin tahu kini saya menjadi apa? Perlu engkau ketahui, saya kini menjadi orang yang tidak menyukai kebenaran (al-haq). Saya juga menyukai fitnah. Saya juga memercayai sesuatu yang tidak pernah kulihat. Malah, kini saya shalat tanpa wudhu. Juga, kini saya memiliki sesuatu di bumi yang tidak dimiliki Allah di langit!”

Siapakah Hudzaifah yang sedang jengkel kepada ‘Umar itu?
 
Lembaran sejarah Islam menuturkan, sahabat yang satu itu adalah seorang sahabat yang terkenal  sebagai orang yang diberitahu Rasulullah  Saw.  mengenai beberapa  rahasia. Ia lahir di Madinah dan bernama lengkap  Abu ‘Abdullah  Hudzaifah bin Husail bin Jabir.  

Namun, karena  ia berdarah  Yaman, maka untuk menghormati asal  usul  keturunannya itu,  ia  kemudian lebih dikenal  dengan nama Hudzaifah bin  Al-Yaman.  Sejak memeluk Islam bersama ayah dan saudaranya, ia amat dekat dengan  Rasulullah Saw. 

Lantas,  karena perhatian Hudzaifah bin Al-Yaman yang luar  biasa terhadap  penghayatan  dan pengamalan Islam,  bukan  hanya  dalam bentuk  lahir  yang bercorak simbolik, tapi  lebih  pada  bentuk-bentuk batin  yang bercorak hakiki, ia dikenal  sebagai  sahabat yang  memiliki pengetahuan khusus tentang rahasia batin. Juga, tentang  hal-hal  yang tersembunyi dalam diri manusia. Karena itu, ia terkenal sebagai orang mampu membedakan  antara orang yang beriman dan munafik. 

Karena itu pula, tidak aneh  bila ‘Umar  bin Al-Khaththab tidak turut  menyembahyangkan  seseorang yang   berpulang   ketika   ia   melihat Hudzaifah  tidak ikut menyembahyangkannya.  Pada  tahun  22  H/643 M Hudzaifah bin Al-Yaman diangkat ‘Umar  bin  Al-Khaththab  sebagai  gubernur pertama Azerbaijan.  

Sepuluh  tahun kemudian,  sahabat  yang pernah mengatakan: “Bukanlah  yang terbaik  di antara kalian itu yang meningggalkan hal-hal  duniawi demi  akhirat. Namun,  yang  terbaik di  antara  kalian  itu  yang menggeluti keduanya” ini diangkat sebagai gubernur Muslim pertama di  Armenia. Jabatan itu ia pangku hingga berpulang kepada Sang Pencipta di Kota Al-Mada’in (Ctesiphon) pada 36 H/657 M. 

Mendengar jawaban tokoh asal Yaman yang demikian itu, ‘Umar bin Al-Khaththab benar-benar kaget. Wajahnya pun berubah menjadi merah membara. Sangat marah. Lalu, tanpa berkata sepatah kata pun ia berlalu. Ketika di tengah jalan, ia kebetulan bertemu dengan ‘Ali bin Abu Thalib yang hendak menemuinya di rumahnya. Melihat wajah ‘Umar yang merah membara, menantu tercinta Rasulullah Saw. itu pun bertanya kepadanya dengan ramah dan santun, “Amir Al-Mukminin. Tampaknya engkau sangat marah. Ada apa?”
       
“Ya. Aku sangat marah kepada Hudzaifah bin Al-Yaman. Tadi, ketika aku berpapasan dengannya dan menyapanya, ia mengatakan hal-hal yang nyleneh. Pertama-tama ia menyatakan bahwa kini ia tidak lagi menyukai kebenaran!” jawab ‘Umar. Sangat kesal dan geram.
       
“Oh, begitu. Amir Al-Mukminin. Menurut saya, ucapan Hudzaifah tersebut tidak salah, lo. Ia “tidak menyukai kebenaran”, maksudnya, ia tidak menyukai kematian. Bukankah kematian  merupakan kebenaran?” ucap suami tercinta Fathimah Al-Zahra’ itu membenarkan ucapan Hudzaifah bin Al-Yaman. 
       
“Benar engkau, ‘Ali!” jawab ‘Umar. Masih kesal. “Tetapi, ia juga mengatakan bahwa kini ia juga menyukai fitnah.”
       
“Ucapannya itu juga benar, Amir Al-Mukminin. Ia “menyukai fitnah”, maksudnya, ia menyukai harta dan anak-anak. Bukankah Allah berfirman, ‘Dan ketahuilah bahwa harta dan anak-anak kalian hanyalah fitnah (cobaan).’ (QS Al-Anfâl [8]: 28).
       
“Benar engkau, ‘Ali,” kata ‘Umar. Dengan nada suara yang tidak lagi menggelegak karena marah. “Tetapi, ia juga mengatakan bahwa ia memercayai sesuatu yang tidak pernah ia lihat.”
       
“Amir Al-Mukminin. Ucapannya itu juga benar, lo. Maksud ia, dengan ucapan tersebut, ia memercayai keesaan Allah, ajal, kebangkitan kembali di Hari Kiamat, surga, dan neraka. Bukankah ia tidak pernah melihat semua itu?” papar ‘Ali bin Abu Thalib. Sambil memandangi wajah ‘Umar bin Al-Khaththab.

“Benar engkau, ‘Ali! Tetapi, mengapa Hudzaifah juga mengatakan bahwa kini ia shalat tanpa wudhu. Apa maksud ucapannya yang demikian!” ucap ‘Umar lebih lanjut. Masih belum puas.
       
“Ucapannya itu juga benar, Amir Al-Mukminin,” ucap ‘Ali bin Abu Thalib yang seakan tidak pernah kehilangan khazanah jawaban. “Yang ia maksudkan dengan ucapannya tersebut adalah ucapan shawalat (shalawat adalah kosakata jamak bagi kosakata shalat) kepada Rasulullah Saw.”
      
“Benar engkau, ‘Ali. Yang paling keterlaluan, Hudzaifah mengaku memiliki sesuatu di bumi yang tidak dimiliki Allah di langit!” ucap ‘Umar. Kembali dengan nada tinggi. 
       
“Amir Al-Mukminin,” jawab ‘Ali bin Abu Thalib meredam amarah ‘Umar. “Dalam hal itu pun ia juga tidak bersalah, lo. Ini karena di bumi ini ia mempunyai anak dan istri. Sedangkan Allah Mahasuci: Dia tidak beristri dan tidak beranak.”
       
“‘Abu Al-Hasan. Sungguh cerdas dan cermat engkau! Sungguh, andai tiada engkau, tentu celakalah aku. Hudzaifah nyaris aku cari lagi dan aku hajar!” ucap ‘Umar bin Al-Khaththab. Sangat kagum dan puas dengan jawaban-jawaban menantu tercinta Rasulullah Saw. tersebut. 

Perbincangan indah di antara dua sosok kondang ini menebarkan hikmah: ucapan seseorang hendaklah tidak disikapi dengan amarah. Selain itu, ‘Ali bin Abu Thalib, lewat jawaban-jawaban cerdas yang ia kemukakan, “mengajarkan” kepada ‘Umar bin Al-Khaththab, juga kepada kita, bahwa “ucapan dan ungkapan” yang sekilas aneh dan nyleneh bisa saja tidak salah. Perlu kecermatan dan kehati-hatian dalam memahami dan menyikapi setiap ucapan dan ungkapan yang dikemukakan orang lain. Juga, dengan kepala dingin dan hati yang lapang! (*)