Kinerja Ekonomi DIY Alami Kontraksi -6,74%

Kinerja Ekonomi DIY Alami Kontraksi -6,74%

YOGYAKARTA, SENAYANPOST.com – Perekonomian Daerah Istimewa Yogyakarta paa Triwulan II/2020 ini mengalami kontraksi yang cukup kuat.

Hal itu menyebabkan kinerja perekonomian DIY pada triwulan II-2020 semakin menurun tumbuh -6,74% (yoy), lebih rendah dari perekonomian Nasional yang terkontraksi tumbuh -5,32% (yoy).

Kontraksi perekonomian DIY yang cukup dalam tersebut utamanya bersumber dari merosotnya kinerja industri pariwisata dan beberapa sektor pendukungnya.

Padahal, kata Deputi Direktur Bank Indonesia Perwakilan Daerah Istimewa Yogyakarta, Miyono, Kamis (6/8/2020) pada Triwulan I 2020 perekonomian DIY tumbuh 0,17% (yoy).

Berdasarkan Lapangan Usaha (LU), kata Miyono, hampir sebagian besar sektor utama di DIY mengalami kontraksi, antara lain LU Akomodasi dan Makan Minum dan LU Konstruksi. Sedangkan LU yang tetap tumbuh positif adalah LU Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan.

“Kontraksi ekonomi yang cukup dalam terjadi terutama di LU akomodasi dan makan minum. Pembatasan aktivitas di DIY pasca merebaknya covid-19 dan penerapan PSBB di sejumlah wilayah di luar DIY, serta larangan mudik lebaran, menyebabkan okupansi hotel di DIY pada Juni 2020 tumbuh – 75,9% (yoy),” kata Miyono.

“Sementara itu, jumlah penumpang angkutan udara sepanjang Triwulan II 2020 juga tumbuh -92,58% (yoy). Menurunnya kinerja pariwisata DIY tersebut berdampak pada penurunan industri pengolahan yang didominasi UMKM produk kerajinan/pendukung pariwisata, serta sektor perdagangan dan beberapa sektor lain,” jelasnya.

Kinerja LU Kontruksi juga masih tercatat terkontraksi pada triwulan laporan. Selain dampak pandemi covid-19 yang menyebabkan mundurnya beberapa proyek strategis pemerintah, kontraksi di sektor ini disebabkan oleh faktor statistical base effect usai berakhirnya konstruksi Proyek Strategis Nasional (PSN) di 2019, yaitu pembangunan Bandara Internasional Yogyakarta (BIY).

Dari sisi kelompok pengeluaran, katanya, kinerja seluruh komponen mencatatkan kontraksi. Ia mengungkapkan, konsumsi rumah tangga yang merupakan pangsa terbesar dari komponen PDRB DIY, mengalami penurunan -5,62% (yoy) seiring dengan menurunnya penghasilan masyarakat.

Di sisi lain, katanya, ekspor yang sempat mencatatkan pertumbuhan positif pada triwulan sebelumnya, mengalami kontraksi yang cukup dalam (-34,24% (yoy)) akibat menurunnya permintaan global.

Konsumsi pemerintah yang diharapkan dapat menjadi motor pendorong ekonomi di saat pandemi juga belum berfungsi optimal.

“Sampai dengan akhir Triwulan II, serapan anggaran belanja pemerintah daerah baru mencapai 33,82%,” jelasnya.

Meski belum akan berjalan optimal, namun perekonomian DIY pada Triwulan III 2020 diperkirakan tumbuh lebih baik jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya.

Optimisme ini, katanya, tercermin dari nilai Saldo Bersih Tertimbang (SBT) perkiraan kegiatan usaha pada Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) di Triwulan III 2020 yang tumbuh jauh lebih baik (-1,03%), dibandingkan dengan SBT Triwulan II 2020 (-46,15%).

Selain itu, lanjutnya, dari hasil survei juga terdapat indikasi tingkat konsumsi masyarakat mulai meningkat, yang tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen pada Juli 2020 yang berada pada level 99,3 poin, atau meningkat 2,47% (mtm).

Untuk mewujudkan harapan agar ekonomi DIY pada Triwulan III tumbuh lebih baik, perlu upaya peningkatan daya beli masyarakat.

Hal tersebut dapat dilakukan diantaranya dengan mempercepat realisasi bantuan sosial (bansos), baik berupa bantuan tunai jaminan hidup (jadup), Bantuan Pangan Nontunai (BPNT), dan bantuan Program Keluarga Harapan (PKH). (WS)