Mutiara Hikmah

Kiai, Pandemi, dan Dunia Literasi

Kiai, Pandemi, dan Dunia Literasi
Ahmad Rofi’ Usmani | SENAYANPOST.com

Oleh: Ahmad Rofi’ Usmani

INNÂ LILLAHI wa innâ ilaihi râji ‘ûn. Allâhumma ighfir lahu warhamhu wa‘afihi wa‘fu ‘anhu wanawwir qabrahu wa lahu Al-Fâtihah.”

Entah sudah berapa kali, di masa pandemi covid-19 ini, ucapan dan doa demikian itu terucapkan pelan dari bibir saya, setiap kali mendengar seorang ulama atau kiai berpulang karena terkena virus tersebut. Mungkin, lebih dari dua ratus kali. 

Sedih dan menangis dalam hati. Itulah suasana hati saya setiap kali mendengar ulama atau kiai berpulang dan menghadap Sang Pencipta. Sedih dan menangis dalam hati, karena kepulangan mereka berarti ilmu dan pengalaman berharga mereka pun sirna pula. Bersama kepulangan mereka. Kesedihan hati saya kian membuncah ketika tahu, ternyata banyak mereka tidak meninggalkan karya tulis.

“Duh. Sirna sudah ‘warisan’ (ilmu dan pengalaman) bernilai mereka. Ini karena sebagian besar di antara mereka tidak menuangkan ‘warisan’ itu. Dalam bentuk karya tulis,” gumam sangat pelan bibir saya. 

Lama merenung demikian, kemudian dalam benak saya “melenting” pertanyaan, “Apakah menjadi ulama atau kiai menjadi penghalang untuk juga menjadi penulis?”

“Tidak. Menjadi ulama dan kiai tidak menjadi penghalang untuk menjadi penulis. Contohnya adalah Syeikh Muhammad Mahfuzh bin ‘Abdullah Al-Tarmisi,” jawab pelan bibir saya.

Syeikh Mahfuzh Al-Tarmisi? Siapakah kiai kondang yang juga seorang penulis piawai itu? 

Desa Tremas, Pacitan, sebuah desa di bagian selatan Jawa Timur, di lingkungan Pondok Pesantren Tremas, itulah tempat kelahiran ulama yang satu ini. Lahir pada Selasa, 12 Jumada Al-Ula 1285 H/31 Agustus 1868 M, pada akhir tahun 1880-an, setelah remaja ia belajar kepada seorang ulama kenamaan di Jawa kala itu, yaitu Kiai Saleh Darat, Semarang, Jawa Tengah. Di bawah bimbingan kiai kondang yang seangkatan dengan Syeikh Nawawi Al-Bantani dan Syeichona Cholil Bangkalan, Madura itu, Mahfuzh muda  memelajari Syarh Al-HikamTafsîr Al-JalâlainSyarh Al-Mardînî, dan Wasîlah Al-Thullâb.

Selepas beberapa tahun di bawah bimbingan Kiai Saleh Darat, putra Kiai Haji ‘Abdullah bin ‘Abdul Mannan itu, seorang kiai kondang di kota kelahirannya, kemudian bertolak  ke Makkah bersama adiknya, Dimyathi. Untuk menimba ilmu. Selama menimba ilmu di Tanah Suci, ia berguru kepada sederet ulama terkemuka. Antara lain kepada Syeikh Ahmad Al-Minsyawi. Dari sang guru, ia  belajar qiraah ‘Ashim (Abu Bakar ‘Ashim bin Abu Al-Najudi Al-Kufi bin Bahdalah), tajwid, dan fikih 

Pada masa yang bersamaan, Mahfuzh muda juga menimba ilmu kepada Syeikh ‘Umar bin Barakat Al-Syami, untuk mendalami karya Ibn Hisyam, Syarh Syudzur Al-Dzahab, kepada Syeikh Mustafa Al-‘Afifi untuk mendalami karya Al-Mahalli, Syarh Jam‘ Al-Jawâmi‘ dan Mughnî Al-Labîb, kepada Sayyid Al-Husain bin Muhammad Al-Habsyi untuk mengkaji Shahîh Al-Bukhârî,  kepada Syeikh Muhammad Sa‘id Babashail untuk mendalami Sunan Abî Dâud, Sunan Al-Tirmîdzî, dan Sunan Al-Nasâ’î, kepada Sayyid Ahmad Al-Zawawi  untuk mendalam Syarh ‘Uqûd Al-Juman dan sebagian kitab Al-Syifa’ (karya Qadhi Al-‘Iyadh), kepada Syeikh Muhammad Al-Syarbini Al-Dimyathi untuk mendalami Syarh Ibn Al-Qashîh, Syarh Al-Durrah Al-Mudhî’ah, Syarh Thaibah Al-Nasyr fî Al-Qirâ’ât Al-‘Asyar, Al-Raudh Al-Nadhir, Syarh Al-Ra‘iyyah, Ithaf Al-Basyar fî Al-Qirâ’ât Al-Arba‘ah Al-‘Asyar, dan Tafsir Al-Baidhawi, dan kepada Sayyid Muhammad Amin bin Ahmad Ridhwan Al-Madani serta ulama-ulama terkemuka lainnya. Sedangkan guru utamanya yang paling banyak mengajarnya berbagai ilmu adalah Sayyid Abu Bakar bin Sayyid Muhammad Al-Syatha, penyusun kitab I‘ânah Al-Thâlibîn.

Karena cerdas dan tekun, Mahfuzh Al-Tarmisi akhirnya menjadi salah seorang pengajar di Masjid  Al-Haram, Makkah. Malah, ia dipandang  sebagai seorang pakar hadis tentang Shahîh Al-Bukhârî. Selain  itu, ia juga merupakan isnâd (mata rantai)  yang sah dalam meneruskan pengajaran Shahîh Al-Bukhârî dan diberi  hak memberikan  ijazah kepada murid-muridnya (antara lain K.H. Hasyim Asy‘ari, pendiri Nahdlatul Ulama) yang berhasil  menguasai karya  itu. Ijazah itu berasal dari Al-Bukhari sendiri  (sekitar seribu tahun yang silam) dan diserahkan secara beranting melalui 23 generasi. Kala itu, Syeikh Mahfuzh Al-Tarmisi merupakan mata rantai terakhir.

Ulama yang berwawasan luas ini berpulang pada  Ahad, 1 Rajab 1338 H/21 Maret 1920 M, dengan meninggalkan sejumlah  karya. Antara lain Al-Siqâyah Al-Mardhiyyah fî Asâmî Al-Kutub Al-Fiqhiyyah li Ashhâbinâ Al-Syâfi‘iyyah,  Muhihbah  dzi Al-Fadhl ‘alâ Syarh Al-‘Allâmah Ibn Hajar,  Kifâyah Al-Mustafîd limâ ‘Alâ min Al-Asânid,  Manhâj Dzawî Al-Nazhar fî Syarh Manzhûmah ‘Ilm Al-Âtsâr,  Nail Al-Ma‘mûl,  Al-Khil‘ah Al-Fikriyyah fî Syarh Al-Minhah Al-Khairiyyah, Al-Badr Al-Munîr fî Qirâ’ah Ibn Katsîr, Tanwîr Al-Shadr fî Qirâ’ah Ibn ‘Amr, Insyirâh Al-Fawâ’id fî Qirâ’ah Hamzah,  Ta‘mîm Al-Manâfi‘ fî Qirâ’ah Nâfi‘, Al-Fawâ’id Al-Tarmîsiyyah fî Asâmî Al-Qirâ’at Al-‘Asyariyyah, dan Is‘âf Al-Mathâli‘ Syarh Al-Badr Al-Lâmi‘. 

Perjalanan hidup ulama yang satu itu menyajikan suatu teladan indah: ketika berpulang, ia meninggalkan sejumlah karya tulis. Mungkin, ketika menyusun karya-karya tulisnya tersebut, ia ingin meneladani para ulama raksasa sebelum dirinya. Sehingga, lewat karya-karya tulis tersebut, nama mereka tidak lekang ditelan zaman dan ilmu serta pengalaman mereka tetap terwariskan. Dari satu zaman ke lain zaman. Misalnya, Al-Bukhari, Muslim, Al-Ghazali, Ibn Rusyd, Al-Qurthubi, Ibn Sina, dan lain-lainnya.

Kiranya jejak indah Syeikh Mahfuzh Al-Tarmisi, di dunia literasi,  diikuti para ulama dan kiai masa kini. Juga, kita yang bukan ulama dan kiai.

Semoga!