Kiai-Kiai yang Membuat Kalbu Sejuk 

Kiai-Kiai yang Membuat Kalbu Sejuk 

Oleh: Ahmad Rofi’ Usmani

“YA ALLAH.  Limpahkanlah kasih sayang dan cinta-Mu kepada para kiai itu.” 

Tiba-tiba dini hari kemarin, saya teringat dan kangen sekali dengan dua kiai yang sangat tawadhuk. Segera, bibir saya pun berdoa demikian. Dengan khusyuk.

Selepas berdoa, terkenang dengan dua kiai yang sangat rendah hati itu, benak saya kemudian “melayang-layang”. Ke sekitar tahun 1974. Kala itu, saya masih sebagai santri di Pondok Pesantren Al-Munawwir, Krapyak, Yogyakarta. Juga, sebagai salah seorang pengurus pondok pesantren yang mendapat amanah mendampingi ribuan santri. Dari berbagai penjuru negeri Indonesia ini.

Sebagai pesantren besar, pesantren yang berada di ujung paling selatan jalan dari arah Beteng Selatan, Yogyakarta  itu kerap menerima banyak tamu. Utamanya untuk bersilaturahmi dengan Mbah K.H. Ali Maksum, kiai kondang di pesantren tersebut kala itu dan seorang guru besar Tafsir Alquran di Institut Agama Islam Negeri Sunan Kalijaga.

Tamu-tamu yang datang ke pesantren tidak hanya para orang tua santri. Namun, juga para kiai dan pejabat. Di antara para pejabat, yang kerap bersilaturahmi adalah seorang menteri agama yang pernah menjadi murid Mbah K.H. Ali Maksum ketika menjadi santri di Pondok Pesantren Tremas, Pacitan, Jawa Timur: Prof. Dr. A. Mukti Ali. Tokoh terakhir tersebut, seingat saya, setiap Hari Idul Fitri, senantiasa sowan kepada Mbah K.H. Ali Maksum. Hingga pun ketika tokoh yang asal dari Cepu, Jawa Tengah itu sedang menjabat sebagai Menteri Agama. Saya lihat, setiap kali sowan, Prof. Dr. A.  Mukti Ali senantiasa mencium tangan gurunya itu. Lama dan penuh hormat: sikap sangat menghormat yang biasanya dilakukan oleh para santri kepada para kiai. Indah sekali!

Sebagai pengurus pesantren, kami (saya dan para pengurus pesantren kala itu) senantiasa diberitahu tentang para tamu yang akan datang. Bagi saya pribadi, ada dua “tamu” yang senantiasa saya nantikan kehadiran mereka: Mbah K.H. Abdul Hamid Pasuruan dan Mbah K.H. Arwani Kudus. Yang pertama adalah seorang kiai sufi yang terkenal sangat tawadhuk dan berwajah teduh dan meneduhkan hati. Kiai yang senantiasa mengenakan busana putih, dari serban, baju, hingga sarung ini pernah bersama Mbah K.H. Ali Maksum menimba ilmu di Pondok Pesantren Tremas, Pacitan, Jawa Timur dan malah kemudian menjadi besan beliau.

Setiap kali Mbah K.H. Abdul Hamid, asal Pasuruan, Jawa Timur, bersilaturahmi ke Pondok Pesantren Krapyak, dan seusai melaksanakan shalat Shubuh di masjid pesantren, Mbah K.H. Ali Maksum kemudian menyilakan sang tamu mendampingi beliau. Untuk berdiri di depan mihrab masjid. Segera, para santri berbaris dan kemudian menjabat tangan serta mencium tangan dua kiai kondang tersebut. Dalam suasana demikian, saya sengaja menanti. Sebagai santri terakhir yang antri.

Lo, mengapa?

Sebagai orangg terakhir yang menjabat tangan dan mencium tangan dua kiai yang guru ayah saya, ketika menimba ilmu di Pondok Pesantren Tremas itu, saya pun berkesempatan mencium lama dua tangan lembut dua kiai tersebut. Ada suatu kebahagiaan yang tidak dapat diungkapkan, ketika mencium lama tangan lembut dua kiai tersebut.

Kiai kedua yang senantiasa dambakan kehadirannya adalah Mbah K.H. Arwani. Kiai yang berasal dari Kudus, Jawa Tengah ini, seperti halnya Mbah K.H. Abdul Hamid Pasuruan, setiap kali datang ke Pondok Pesantren Krapyak, juga senantiasa mengenakan serban, baju, dan sarung putih. Kiai yang murid kinasih Mbah K.H. Moenawwir, pendiri Pondok Pesantren Krapyak, ini terkenal dengan salah seorang tokoh tahfizh Alquran di Indonesia.

Seperti halnya Mbah K.H. Abdul Hamid, Mbah K.H. Arwani senantiasa lembut ketika berbincang, sangat santun dalam bertindak, dan memiliki wajah yang memancarkan kebeningan dan kejernihan kalbu. Yang jauh lebih utama: lewat asuhan beliau, lahir ribuan hafizh Alquran. Dengan standard tinggi. Ya, dengan standard tinggi. Dengan kata lain, mereka tidak sekadar hapal Alquran dan menguasai bacaan yang bagus semata. Namun, mereka juga dilengkapi dengan penguasaan ilmu-ilmu Alquran, juga diajar untuk memiliki akhlak yang mulia. Ya, akhlak yang mulia. Ini karena seorang hâmil Alquran harus memiliki akhlak Alquran!

Dua kiai tersebut, setahu saya, tidak pernah terlibat dalam hingar bingar perpolitikan di Indonesia. Meski demikian, dalam sunyi dan sepi mereka senantiasa berdakwah dengan cara bijak dan indah yang mereka pilih: tanpa banyak cakap dan cuap-cuap. Mereka berdakwah dengan sangat ikhlas dan tanpa ingin disanjung. Oleh siapa pun. Ternyata, hasil dakwah mereka luar biasa dan sangat efektif.

Teringat dua kiai yang rendah hati dan menyejukkan kalbu tersebut, seusai shalat Shubuh tadi pagi pun saya berdoa, “Ya Allah, dua kiai yang rendah hati itu kini telah berpulang kepada-Mu. ‘Peluk’lah keduanya dengan penuh kasih sayang. Dan, munculkanlah para pengganti mereka yang memiliki akhlak dan kualitas seperti mereka berdua. Di negeri tercinta kami ini, Indonesia.”

 Âmîn yâ Mujîbas Sâ’ilîn bi fadhlika wa karamika yâ Arhamar râhimîn. Ya Allah, Tuhan Yang Mengabulkan Doa, dengan karunia dan kedermawan-Mu, terimalah doa kami. Dan, semoga di negeri ini muncul para kiai baru yang juga menyejukkan kalbu dan memiliki akhlak mulia selalu.

Semoga demikian!