Catatan dari Senayan

Khutbah Insinuatif Jelang Pilpres

SAYA dan ratusan jamaah shalat Iedul Adha di halaman suatu masjid di kawasan Jakarta Timur kecewa berat pada saat shalat Id 22 Agustus lalu. Awalnya sehabis shalat Id semua jamaah tak beranjak untuk mendengarkan khutbah sang khatib. Begitulah ajaran agama, mesti menunggu khatib selesai berkhutbah baru boleh meninggalkan masjid atau lapangan.

Menyimak dan terus menyimak sang khatib berkhutbah jamaah berharap mendapatkan pencerahan tentang makna kurban dan Idul Adha. Semua ingin mendengar aktualisasi dari pengorbanan Nabi Ibrahim AS terhadap putranya Ismail.

Ternyata dua hal itu tak kunjung disinggung khatib. Jamaah semula sabar menanti, bisa jadi ihwal makna Idul Kurban akan disinggung di tengah atau di akhir khutbah. Setengah jam, lalu sejam khutbah berlangsung. Sejumlah jamaah tampak tak sabar lagi. Satu demi satu meninggalkan tempat. Ada beberapa yang sambil menggerutu. “Ini khutbah Iedul Adha kok yang dibahas masalah lain,” ujar seorang ibu sambil menampakkan wajah kesal

Saya tetap bertahan menunggu khatib beralih ke tema khutbah yang kontekstual. Eh sampai khutbah pertama berakhir di tutup dengan khutbah kedua dan doa, tetap tidak disinggung soal makna kurban, aktualisasi penyembelihan Ismail dan lainnya. Lalu apa isi khutbah yang memakan waktu satu jam lebih itu? Ternyata khatib membahas gempa bumi di NTB. Tadinya saya berharap khatib mengajak jamaah berempati dan peduli terhadap para korban atau masyarakat yang terdampak gempa. Mengajak jamaah ramai-ramai mengulurkan bantuan untuk sesama. Kalau itu arahnya, maka khutbah itu benar-benar sesuai sasaran, ber- amar ma’ruf nahi munkar.

Tapi apa yang terjadi? Sang khatib malah menyebut musibah gempa di NTB itu tak bisa hanya didekati secara ilmiah tapi itu karena ulah manusia, utamanya pemimpin di sana. Sang pemimpin, kata khatib, tidak lagi amanah, tidak berpihak kepada umat. Memang khatib tidak menyebut nama, tapi bagi jamaah, pendengar khutbah, bisa mengambil kesimpulan bahwa yang dimaksud adalah Muhammad Zainul Majdi alias Tuan Guru Bajang (TGB), Gubernur NTB. Khatib seolah mengarahkan jamaah untuk menuding dan menyalahkan TGB.

Saya dan umumnya jamaah kecewa mengapa khutbah yang seharusnya substansinya ajakan kebaikan bersama malah diarahkan untuk menyalahkan kepada individu. Dari sisi etika maupun tujuan khutbah tak pantas dilakukan sang khatib. Jelas menyesatkan.

Itu hanya satu kasus. Rasanya banyak khatib lain di Jakarta dan sekitarnya yang melakukan model khutbah seperti itu, provokatif, insinuatif, dan menyesatkan. Bukan hanya pada momentum Idul Adha saja, tapi pada khutbah Jumat atau lainnya. Tentu kalau sifatnya masif khutbah semacam itu bukan suatu kebetulan, tapi diduga kuat dirancang oleh suatu komunitas yang ingin memelihara politik identitas. Siapa saja yang dinilai sesuai dengan aspirasi mereka selalu dibela, sebaliknya yang tidak sejalan akan dibenci dan dimaki dengan menggunakan forum keagamaan.

Fenomena seperti ini tentu dalam jangka pendek dan jangka panjang akan membahayakan peradaban dan semangat keberagaman. Kita masih terus berkutat dengan cara berpikir dangkal dan menyesatkan. Cara berpikir seperti ini sebenarnya sangat jauh dari nilai-nilai agama dan kemaslahatan kemanusiaan. Bermain dalil dan ayat yang cenderung dikemas dan dimanipulasikan untuk tujuan pragmatis kelompok tertentu. Terlebih semua itu berlangsung menjelang pesta demokrasi, pemilihan legislatif dan pemilihan presiden 2019 ini.

Salam.

KOMENTAR
Tags
Show More
Close