Ketinggian Air Bendungan Katulampa Masih Normal Walau Bogor Sering Hujan

Ketinggian Air Bendungan Katulampa Masih Normal Walau Bogor Sering Hujan

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jakarta mengungkapkan ketinggian air bendungan Katulampa di Bogor, Jawa Barat, masih dalam status normal meski kawasan Bogir mulai sering diguyur hujan sejak beberapa hari lalu.

Dari data di akun twitter BPBD Jakarta @BPBDJakarta pada Sabtu (2/11) pukul 15.00 WIB, tinggi air di Katulampa tercatat setinggi 10 cm dengan kondisi langit terang.

Sesuai batas siaga banjir, kondisi yang termasuk siaga III atau waspada jika ketinggian air mencapai 81 hingga 150 cm. Sementara siaga II atau kritis jika ketinggian air mencapai 151 hingga 200 cm dan siaga I atau bencana jika ketinggian air lebih dari 201 cm.

BPBD DKI Jakarta

Baca Juga

@BPBDJakarta


UPDATE TINGGI MUKA AIR
Sabtu, 02 November 2019, pukul 15.00 WIB

Link >>> http://bpbd.jakarta.go.id/index.php/waterlevel 

Sumber : @DinasSDAJakarta

View image on Twitter
Status normal juga terpantau di Pintu Air Manggarai, Jakarta. Hingga pukul 15.00 WIB, ketinggian air masih di angka 550 cm dengan kondisi langit mendung. Ketinggian air mulai masuk status waspada jika mencapai 751 sampai 850 cm.

Sementara itu, status waspada terpantau dari Pasar Ikan. Ketinggian air mencapai 198 cm dengan kondisi langit terang. Sesuai batas siaga, kondisi waspada atau siaga III jika ketinggian air mencapai 171 hingga 200 cm.

Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan potensi hujan lebat hingga angin kencang masih berlangsung sampai 3 November 2019 di beberapa wilayah di Indonesia.

BMKG mencatat pada Sabtu (2/11) ini, wilayah yang berpotensi hujan lebat disertai angin kencang yaitu Aceh, Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Jawa Barat, Kalimantan Selatan, Papua dan Jabodetabek.

Pada Minggu (3/11), wilayah yang berpotensi hujan lebat disertai angin kencang yaitu Aceh, Jawa Barat, Jabodetabek, dan Papua.

Potensi turun hujan lebat menurut BMKG, terdapat intrusi massa udara kering dari Belahan Bumi Selatan (BBS) yang melintasi wilayah Samudera Hindia Selatan Jawa. (WS)