Ekonomi

Ketika Tuhan Mengulurkan Tangan-Nya Lewat AMITRA

SUASANA duka waktu itu masih menyelimuti keluarga besar almarhum Abdul Mursyid (54) di Brebes, Jawa Tengah. Kepala keluarga yang selama ini menjadi bagian terpenting dalam mengarungi perjalanan hidup keluarga, telah dipanggil menghadap Tuhan terlebih dahulu.

Suasana rumah yang biasanya penuh canda dengan suara berat almarhum Abdul Mursyid, kini berbeda. Suara khas Abdul Mursyid kini tiada terdengar lagi. Hanya keheningan dan sesekali tercium bau harum bunga di dalam rumah, menjadi bukti bahwa ada yang telah pergi meninggalkan rumah itu untuk selamanya.

Tak ada yang bisa dilakukan Nurhayati selaku istri dan anak-anaknya kecuali pasrah dan berserah diri kepada Allah. Karena ia menyadari, umur memang menjadi rahasia Illahi dan keluarga harus iklas menerima perpisahan ini. Nurhayati juga memahami, hidup ini harus tetap berjalan meski tanpa suami. Dirinya harus bisa mengemban dua tugas sekaligus, sebagai ibu dan juga bapak.

Meski iklas menerima kepergian sang suami, di relung hati terdalam Nurhayati tetap ada ganjalan. Terutama masalah kewajiban mengangsur biaya umrah suaminya yang belum lama ini dijalaninya. Masih ada tunggakan yang harus dibayar tiap bulannya kepada lembaga pembiayaan AMITRA.

Dalam kedukaan yang mendalam itu, Nurhayati harus realitis menghadapinya dan ia mulai berhitung. Mengkalkulasi semua pengeluaran rumah tangga yang harus ia lakukan tiap bulannya. Termasuk melunasi angsuran ibadah umrah bagi suami tercinta.

Nurhayati mengakui, tanpa sosok seorang suami yang menjadi imam dalam rumah tangga, keadaan ekonomi keluarga pasti akan mengalami perubahan. Sedangkan biaya dan pengeluaran lainnya harus tetap ia pikul bersama anak-anak.

Masih dalam suasana duka dan belum stabilnya mengatur keuangan rumah tangga itu, tiba-tiba Nurhayati dikejutkan dengan kedatangan utusan dari perusahaan pembiayaan PT Federal International Finance (FIFGROUP) yang membawahi pembiayaan religi ibadah umrah dan haji AMITRA.

Utusan itu hanya memberikan surat undangan dan menyampaikan informasi bahwa ada santunan asuransi bagi dirinya sebagai ahli waris dari almarhum Abdul Mursyid yang mengambil program pembiayaan ibadah umrah lewat AMITRA, untuk datang di Hotel Primebiz Tegal, Kamis (8/8/2019).

Dengan informasi yang hanya sedikit itu, Nurhayati semakin bingung dan bahkan mulai timbul kecurigaan terhadap almarhum suaminya. Berbagai pertanyaanpun mulai berkecamuk di batinnya. Apakah suaminya mengambil asuransi tanpa memberi tahu dirinya sebagai istri, atau suaminya meminjam dana lain selain yang ia ketahui? Lantas, untuk apa dan untuk siapa semua itu?

Semua ketidakpatian dan berbagai pertanyaan yang belum terjawab itu, diakui sempat menguras pikiran dan energinya. Salah satu pertanyaan yang mendasar adalah, kenapa bapak menyembunyikan sesuatu dari dirinya yang selama ini begitu setia? Ketika ada informasi penting yang menyangkut suaminya, kenapa bukan dirinya yang pertama kali mengetahui informasi itu? Ini benar-benar tidak adil, batin Nurhayati.

Hingga akhirnya, hari Kamis itu ia memenuhi undangan dari FIFGROUP. Di hotel itu, Nurhayati menerima penyerahan klaim asuransi yang dilakukan Area Head Jateng 2 FIFGROUP, Jahara Reza F, yang didampingi Branch Head FIFGROUP Brebes.

“Saya kaget sekaligus senang, ternyata suami saya yang ikut umrah AMITRA dilindungi Asuransi Astra Syariah. Maaf, saya sebelumnya sempat berpikir macam-macam ke bapak,” kata Nurhayati, sambil sesekali mengusap air mata bahagia.

Nurhayati mengungkapkan, pada masa pembiayaan, almarhum mengalami sakit setelah menjalankan ibadah umrah hingga akhirnya meninggal dunia.

Nurhayati selaku istri almarhum mengaku tidak menyangka bahwa suami yang menjadi customer aktif pada pembiayaan paket umrah syariah melalui AMITRA itu, juga dilekatkan Asuransi Siaga Plus Amanah dari Asuransi Astra Syariah.

Waktu itu, nama Abdul Mursyid tercatat dengan nomor kontrak 418900009418 sebagai nasabah pembiayaan syariah melalui AMITRA dan sekaligus menjadi tertanggung Asuransi Astra Syariah.

“Bapak juga tidak pernah bercerita soal asuransi ini, padahal keberadaan asuransi ini sangat membantu dan bisa membuat kita tenang dalam beribadah,” katanya.

Jahara Reza mengakui, pembayaran klaim ini adalah yang pertama dan merupakan bukti nyata serta tanggung jawab AMITRA bersama Asuransi Astra Syariah dalam memberikan pelayanan yang terbaik kepada nasabah.

Reza menambahkan, AMITRA bersama Asuransi Astra Syariah terus berkomitmen untuk mewujudkan impian kaum muslim bisa menjalankan ibadah umrah maupun haji ke tanah suci sesuai prinsip-prinsip syariah dengan mudah, aman, dan tenang.

“Masyarakat tidak perlu khawatir dalam memilih AMITRA sebagai solusi pembiayaan syariah, karena prosesnya yang terpercaya dan ada fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia,” ujar Reza.

Keyakinan menjalankan ibadah umrah dan haji melalui AMITRA, juga diungkapkan Heru Pamungkas selaku Senior Assistant Vice President AMITRA Sales Management Departement.

“Sebenarnya, apalagi yang mau dikhawatirkan? Ibadah umrah yang diimpikan setiap umat muslim itu bisa dijalankan hanya cukup dengan membayar uang muka yang tidak terlalu besar. Setelah itu bisa langsung berangkat umrah, kekurangan biayanya bisa dicicil. Dan jika sewaktu-waktu meninggal atau mengalami cacat permanen akibat kecelakaan atau penyakit selama dalam masa pertanggungan, semua cicilan diluansi Asuransi Astra Syariah,” kata Heru.

Adanya pertanggungan asuransi bagi jamaah ini juga dibenarkan Direktur AMITRA Yulian Warman. “Ini sebenarnya itikat baik kita, agar jamaah yang mengambil paket umrah bisa tenang dalam menjalankan ibadah dan juga tetap nyaman setelah kembali ke tanah air kembali,” kata Yulian.

Dengan jaminan asuransi yang bisa dipilih sesuai klausul yang ada, lanjut Yulian, jelas akan memberikan jaminan keamanan dalam proses pembayaran.

“Jangan sampai di saat peserta program umrah meninggal atau cacat tetap selama masa pertanggungan, justru akan membebani keluarga. Kita tidak menginginkan itu semua,” katanya.

Yulian mengakui, program asuransi ini memang bukan sebuah paksaan bagi jamaah. Tetapi menejemen selalu mengingatkan berbagai kemungkinan yang bisa terjadi jika tanpa proteksi asuransi.

“Alhamdulillah niat baik kami bersambut. Ini menunjukkan bahwa masyarakat sudah mulai memahami pentingnya berasuransi,” katanya. (Joko Sriyono)

KOMENTAR
Tags
Show More
Back to top button
Close
Close