Nasional

Kesulitan Ngaji Online, Pesantren di Jatim Bersiap Dibuka Kembali

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Setelah diliburkan karena pandemi Corona, sejumlah pondok pesantren di Jawa Timur kini tengah bersiap untuk kembali aktif melakukan kegiatan pendidikan.

Salah satu alasan pembukaan kembali adalah kendala belajar dari rumah seperti mengaji online antara para santri dan pengajar.

Sudah hampir tiga bulan pesantren meliburkan dan memulangkan ribuan santri akibat pandemi virus corona (Covid-19). Namun, mereka mengaku butuh perhatian lebih dari pemerintah.

Salah satunya yakni, yang disampaikan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Ma’arif, Jombang, Jatim, KH Abdussalam Shohib. Ia mengaku sudah dua bulan lebih lamanya sekira dua ribuan santrinya dipulangkan. Selama itu pula kegiatan belajar dan mengaji dilakukan secara daring.


“Jadi waktu pertama ditetapkan [darurat corona] sekitar bulan Maret pertengahan kita dari pesantren langsung mengambil sikap cepat dengan memulangkan semua santri,” kata Gus Salam, sapaan akrabnya dilansir CNN Indonesia, Jumat (29/5/2020).

Namun nyatanya kondisi pembelajaran yang dilakukan secara daring itu tak bisa berjalan efektif. Sebab tak semua santri bisa mengaksesnya. Hak itu lantaran akses internet dan kemampuan ekonomi wali santri juga berbeda-beda di tiap daerah.

“Tapi kendalanya sinyal. Santri juga banyak yang tidak memiliki perangkat teknologi yang bisa untuk mengakses ngaji secara online, karena memang kemampuannya berbeda-beda, kami memahami itu,” ujarnya.

Kini usai, hampir tiga bulan lamanya, pihak pesantren mengaku tak bisa menunda lebih lama lagi. Mereka berencana memanggil para santrinya untuk kembali ke pesantren. Namun bersamaan dengan itu pengurus pun tengah menggodok protokol baru atau New Normal, agar keselamatan para santri juga terjamin.

Maka itu, pihaknya pun meminta perhatian dan bantuan dari pemerintah. Agar skema new normal di pasentren ini bisa berjalan. Apalagi, kata dia anggaran pemerintah juga cukup besar dalam menanggulangi Covid-19.

“Kami berusaha komunikasi dengan pemerintah, kalau pemerintah ini menganggarkan New Normal untuk sektor ekonomi, maka kita berharap sektor pendidikan itu juga ada anggarannya, salah satunya adalah pondok pesantren,” ucapnya.

Berharap Fasilitas Protokol Kesehatan

Bantuan yang diharapkannya antara lain, pelaksanaan rapid test, swab tes, peningkatan fasilitas kesehatan, termasuk fasilitas cuci tangan dan ketersediaan pasokan masker di pesantren-pesantren. Selain itu, ia juga berharap agar pemerintah bisa memberikan bantuan untuk pembangunan fasilitas tempat tinggal santri.

Sebab, kata dia selama ini, pendidikan pesantren itu identik dengan kehidupan berkelompok dan berkerumun. Para santri biasanya tidur di dalam sebuah kamar, berjejal 15-10 orang secara bersamaan, risiko penularan pun cukup besar bila dibiarkan.

“Ya mungkin rapid test, kemudian masa isolasi, peningkatan fasilitas kesehatan. Kalau di pesantren itu kan biasanya 1 kamar 15-20 anak. Ya mungkin dengan situasi seperti ini kan nggak boleh. Pesantren bagian dari pendidikan yang selama ini sudah bergerak cepat maka tentu tidak salah apabila didukung New Normal ini, ada perhatiannya ke pesantren,” kata dia.

Senada, Pengasuh Pondok Pesantren An Nur Bululawang, Kabupaten Malang, KH Ahmad Fahrur Rozi, mengatakan bahwa dalam waktu dekat pihaknya bakal kembali mengaktifkan kegiatan pendidikan di pesantrennya. Para santri yang saat ini masih berada di daerah asal, juga akan diminta untuk kembali ke pesantren.

“Kami berharap pesantren segera dibuka karena sudah libur terlalu lama, jadi masyarakat ini wali santri sudah banyak yang bertanya,” ujar Gus Fahrur, sapaan akrabnya.

Namun, sebelum hal itu dilakukan, Gus Fahrur mengaku pihaknya juga tak bisa gegabah. Ia ingin memastikan para santri nanti tetap aman dan kesehatannya terjaga saat kembali ke pondok. Pihaknya pun meminta pemerintah agar memberikan perhatian lebih kepada pesantren untuk mempersiapkan hal itu.

Perhatian itu, kata dia bisa berupa bantuan persediaan fasilitas kesehatan untuk melakukan rapid test hingga swab test. Hal itu bertujuan agar kesehatan santri bisa terpantau dengan baik.

“Pemerintah kan punya anggaran yang sangat besar ya untuk penanggulangan Covid-19, itu kan bertriliun-triliun, yang bisa berupa swab gitu ya di pesantren itu di alokasikan,” kata dia.

Sementara untuk jangka panjangnya, kata Gus Fahrur, pihak pesantren juga mengharapkan bantuan dari pemerintah untuk menyediakan bangunan rumah susun di dalam area pesantren. Hal itu diperuntukkan agar santri tak perlu lagi berkerumun dalam satu ruangan untuk kebutuhan tidur.

“Misalnya pemerintah mau kan, mereka bisa mengasih subsidi berupa perumahan atau rusun seperti itu lah. Kami sih berharap kami bisa dikasih rusun, supaya kita bisa menambah kamar, bisa longgar gitu, walaupun itu tak bisa cepat ya tapi itu untuk jangka panjang ke depan,” ujarnya.

Rencananya kedua pesantren tersebut telah meminta para santrinya untuk kembali ke pesantren dan aktif melakukan kegiatan pendidikannya pada pertengahan Juni 2020 mendatang dengan memerhatikan protokol kesehatan.

Risiko Penularan Makin Besar

Sementara itu, pakar epidemiologi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, dr Windhu Purnomo menilai rencana pembukaan kembali pondok pesantren di Jatim, bisa menimbulkan potensi penularan Covid-19 yang mengkhawatirkan.

“Pesantren ini kan cukup berbahaya ya. Karena kan biasanya satu ruangan tidur itu dipenuhi santri, luar biasa padatnya. Jadi seharusnya kalau santri-santri sekarang sedang di pulangkan, jangan kembali dulu,” kata Windhu.

Apalagi, mengingat sudah ada salah satu pesantren di Temboro, Magetan, Jawa Timur, yang menjadi klaster besar penularan corona. Ia pun meminta pihak pesantren untuk tak terburu-buru membuka dan memanggil semua santrinya.

“Saya rasa harus ditahan dulu jangan keburu untuk membuka pondok lagi. Karena kita tahu Pesantren Temboro itu bagaimana. Sudah ada contohnya. Jangan keburu buka pondok lagi,” pungkasnya.

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close