Keruntuhan, Kurban, dan Peradaban

Keruntuhan, Kurban, dan Peradaban

Oleh: Ahmad Erani Yustika

PETERNAKAN Huls dan Gardar dipakai oleh Jared Diamond (penulis buku kondang "Collapse")
sebagai latar atas keruntuhan (besar) suatu peradaban akibat aneka sebab: perang, iklim,
bencana, dan yang lain. Buku itu terbit pertama kali pada 2005 dan kedua peternakan yang
memiliki lokasi berbeda itu sedang mekar usahanya. Peternakan Huls terletak di Lembah
Bitterrot, negara bagian Montana, sebelah barat Amerika Serikat; sedangkan Peternakan Gardar
berposisi di Nors Tanah Hijau, pulau besar di lepas pantai Amerika Utara dekat Kutub Utara.
Kedua tempat itu tak laik sepenuhnya sebagai usaha peternakan, namun berkat sentuhan
teknologi sebuah peradaban bisnis bisa didirikan. Pengetahuan menindih keterbatasan.

Masyarakat Nors Tanah Hijau lebih dari 500 tahun lalu pernah runtuh tanpa bekas: ribuan
penduduk wafat kelaparan, terbunuh dalam huru-hara atau perang melawan musuh, atau
beremigrasi, sampai tak tersisa satu manusia pun. Diamond mencatat banyak kebudayaan lain
yang runtuh, semacam kota-kota Maya di Amerika Tengah, Moche dan Tiwanaku di Amerika
Selatan, Angkor Wat dan kota-kota Lembah Indus Harappa di Asia, Yunani Mikene dan Kreta
Minos di Eropa, dan Pulau Paskah di Samudra Pasifik. Babad ini nukilan dari "keruntuhan besar"
yang melumat kehidupan. Di luar itu, banyak warta "keruntuhan kecil" yang menjadi sumbu
ledakan. Keruntuhan menjadi ekor tiap zaman.

Awal 2020 menjadi saksi sebuah pandemi menghajar satu demi satu negeri hingga seluruh
dunia terguncang. Negara adidaya dilumat oleh virus sehingga jutaan warga terpapar. Kawasan
Amerika, Eropa, Asia dan lainnya panik memitigasi wabah: penduduknya lintang pukang
mencoba menyelamatkan. Ilmu pengetahuan seperti lumpuh dan kedigdayaan teknologi
kelihatan tumpul. "Collapse" sedang merayap dan tiap negara sekarang sedang mempertaruhkan
takdirnya: runtuh besar, sedang, atau kecil. Peradaban yang dibangun ribuan, ratusan, dan
puluhan tahun tengah berada dalam ancaman. Hidup dalam cekam kekalahan dan kematian.

Sampai saat ini tidak ada satu pun yang bisa tegas menyatakan bangsanya bebas dari pandemi.
Beberapa negara sudah membebaskan warga tidak memakai masker, misalnya penduduk yang
telah divaksin. Sebagian kegiatan telah dilakukan relatif normal, seperti perkantoran, olah raga,
atau transportasi. Namun, seluruh aktivitas itu tidak bisa dikatakan alamiah seutuhnya. Jaga
jarak dan protokol wabah tetap dijalankan dalam dosis tertentu. Ancaman pagebluk belum
punah dan kecambah virus varian baru masih bermunculan. Ilmu pengetahuan dan manajemen
kekuasaan terus ditantang memenangkan pertempuran. Harapan dibentangkan melampaui
ratapan.

Nabi Ibrahim, Siti Hajar, dan Ismail juga pencipta peradaban besar. Ketika Ismail lahir, Allah
menyeru agar Ibrahim membawa Siti Hajar dan Ismail menyusuri padang pasir yang gersang
menuju Lembah Bakkah (kini Mekkah) yang tandus. Ibrahim kerap pulang ke Palestina
(tempat bermukim sebelumnya) sampai peristiwa penemuan mata air zam zam dan perintah
penyembelihan Ismail. Ibrahim menukar mimpi dengan keimanan. Tidak dapat dibayangkan
seorang anak dikurbankan secara ikhlas bila tanpa keyakinan. Ismail mengkonversi nubuat
menjadi sikap tawakal mutlak. Ia percaya tetes darah yang akan keluar dari lehernya ialah
semburat kehidupan makhkuk lainnya. Kurban bukan peristiwa kematian, tapi menyalakan
kehidupan.

Pandemi bukan cuma kisah kesakitan dan kemangkatan, tetapi juga riwayat pengorbanan. Para
dokter dan tenaga medis memeluk virus yang mengayak nyawanya sendiri. Para relawan sibuk
mencangkul tanah mengubur kerabat atau sahabat yang mangkat. Warga berbagi makanan
demi menyangga kehidupan. Ilmuwan menemukan vaksin dengan menggratiskan nisbah
atas hak atas paten. Itulah peradaban kurban masa pandemi. Sejarah kurban sendiri adalah
kisah keyakinan yang dipertaruhkan karena imaji agung kebudayaan. Hidup bukan melulu
perkara memiliki dan menguasai, tapi juga mengikhlaskan dan membagi. Riwayat mencatat
penyembelihan Ismail bukanlah sebuah keruntuhan, tapi justru awal penciptaan peradaban;
seperti halnya sejarah peternakan Huls dan Gardar.

*Prof. Ahmad Erani Yustika, PhD, kolumnis dan Guru Besar FEB Universitas Brawijaya, Malang