Lintas Daerah

Kepala Lab di Minahasa Tewas Dimangsa Buaya, Begini Kondisnya

MINAHASA, SENAYANPOST.com – Wanita bernama Deasy Tuwo (44) tewas diterkam buaya di Minahasa, Sulawesi Utara, Jumat (11/1). Kondisi jasad korban sudah sangat mengerikan.

Diketahui, Deasy Tuwo (44), adalah Kepala Laboratorium CV Yosiki Desa Ranowangko, Kecamatan Tombariri, Kabupaten Minahasa tewas diterkam buaya milik bosnya.

Maikel Mokodompit, pemandi jenasah di RSUP Kandou Malalayang menceritakan seperti apa kondisi korban.

Dikutip dari Tribunnews, Maikel mengaku selama delapan tahun menjadi personel di unit pemulasaran jenazah RSUP Kandou Malalayang, baru kali ini ia memandikan jenazah korban buaya.

Dia mengaku ada tiga orang yang memandikan jasad tersebut. Proses pemandian tak lama, tak sampai 30 menit.

Digambarkan, saat itu bagian tubun korban sudah habis. Tersisa kepala dan dua kaki. Tangan pun sudah raib.

“Kemungkinan buaya menerjangnya dari pinggir. Mungkin juga karena masih kenyang, makanya tak makan sampai habis,” ujarnya.

Baginya jasad yang tak utuh sudah biasa. Hanya saja memang baru kali ini ia menangani korban gigitan buaya.

CV Yosiki merupakan perusahaan pembibitan mutiara milik warga negara Jepang bernama Mr Ochiai.

Jasad korban pertama kali ditemukan sudah tak bernyawa oleh rekan sekerjanya, Erling Rumengan (37).

Isi perut, dada hingga tangan kanan korban sudah dicabik buaya yang berusia 30 tahun bernama Merry itu.

Kabar buaya peliharaan menyerang manusia di Perum Mutiara, Tanawangko, Kecamatan Tombariri, Kabupaten Minahasa menjadi viral di Facebook pada Jumat (11/1)

Hal ini diunggah oleh akun Facebook Richell Kawalod. Dia mengunggah sejumlah foto lokasi kejadian dan foto buaya dan korban.

Dia memberi foto keterangan pada unggahannya berikut:

TKP mutiara tanawangko …

korban buaya

Unggahan itu sudah ratusan kali dibagikan, mendapatkan banyak like dan komentar dalam 1 jam sejak di-posting.

Di kolom komentar, Richell Kawalod menyebutkan bahwa peristiwa itu terjadi di Perum Mutiara Tanawangko, Minahasa.

Dia menyebutkan korban adalah pekerja yang hendak memberi makan hewan peliharaan itu. Namun, korban terpeleset dan jatuh ke lubang yang berisi buaya

Warganet pun menyatakan keprihatinan atas musibah tersebut

Erling Rumengan (37) warga Desa Ranowangko menemukan jasad Deasy Tuwo (44) di dalam kolam penangkaran buaya.

Teman sekerja korban ini memang sedang mencari keberadaan korban yang juga Kepala Laboratorium CV Yosiki pada pagi itu.

Dia mencari dan mengecek ke lokasi CV Yosiki, perusahaan pembibitan mutiara milik warga negara Jepang.

Dia bersama rekannya mengecek ke dalam lokasi perusahaan kemudian masuk ke dalam areal perusahaan pembibitan mutiara tersebut sesampainya di dalam tidak ada orang yang ditemukan,

Namun, mereka melihat ada benda terapung yang menyerupai tubuh manusia berada diatas kolam tempat peliharaan seekor buaya.

“Kami penasaran saat melihat kearah kolam buaya, ada benda mengapung, ternyata tubuh Deasy. Kami takut menyentuhnya dan melaporkan kejadian tersebut di Polsek Tombariri,” katanya.

Mr Ochiai, pemilik buaya yang menerkam Deasy Tuwo tak ada di lokasi kejadian di Desa Ranowangko, Kecamatan Tombariri, belum tahu keberadaannya.

Pemilik perusahaan CV Yosiki tak hanya memelihara buaya tapi juga ikan arwana dan pembibitan mutiara.

Kapolres Tomohon AKBP Raswin B Sirait mengatakan, pihaknya hingga saat ini masih mencari pemilik buaya berukuran 5 meter itu.

“Kita masih mencari pemilik buaya itu, selain itu kami juga sudah berkoordinasi dengan camat dan hukum tua ,” katanya.

Korban Deasy Tuwo (44) ternyata masih lajang. Dia dikenal rekannya sebagai wanita yang sangat rajin.

Nasran, rekan korban mengatakan korban merupakan sosok wanita yang ulet dan teliti. “Apalagi dia sebagai kepala lab mutiara, sosok yang pendiam juga sih,” kata Nasran saat ditemui di lokasi kejadian.

Ia pun kaget saat mendapat informasi bahwa wanita berumur 44 tahun itu hilang setengah badan dimakan buaya.

“Bingung juga kenapa bisa sampai dimakan buaya, memang kesehariannya selain menjaga lab, dia memberi makan buaya setiap pagi dan menjelang malam,” kata dia.

Bahkan, ia mengatakam, anaknya juga sering menemani Deasy saat memberi makan buaya. “Buaya itu setiap hari diberi makan ikan tuna, ayam bahkan hewan babi,” katanya.

Merry Supit (36) terkejut mendengar kabar kematian Deysi Tuwo (44) yang diterkam buaya milik pemimpin perusahaan pembibitan mutiara itu.

Selama 18 tahun, Merry Supit pernah bekerja di tempat itu dan mengundurkan diri pada 2005 silam.

“Saya sebagai pegawai pembibitan mutiara. Saat itu buaya yang juga diberi nama seperti nama saya ini, masih berukuran sama seperti kayu ini,” kata Merry sembari menunjuk batang pohon berukuran panjang 1,50 meter yang tergeletak di sampingnya.

Sejak dahulu, lanjut dia, buaya itu sering diberi makan ayam, tongkol, dan ikan tuna.

“Semuanya harus fresh, dia tak mau makan bila sudah dibekukan atau sudah mati beberapa hari,” kata warga Jaga X Ranowangko.

Ia mengungkapkan, beberapa waktu lalu buaya itu ingin diserahkan ke penangkaran namun mereka menolak karena tak punya kandang sebesar milik perusahaan itu.

Menurut Merry, kematian Deasy diketahui dua hari setelah peristiwa. Pasalnya, saat Deysi diterkam buaya, tak ada saksi mata yang melihat

Tim penyelamat dari BKSDA Sulut langsung menurunkan tim ke lokasi buaya menerkam seorang wanita di Tombariri, Minahasa

Namun karena keterbatasan personel, buaya tersebut belum bisa dievakuasi. Rencananya buaya tersebut akan dievakuasi ke Pusat Penyelamatan Satwa Tasikoki di Bitung.

Hendrik Rundengan, personel BKSDA Sulawesi Utara menyatakan, warga tak bisa seenaknya memelihara satwa liar. Harus ada izin dari pihak berwenang. Dari izin inilah akan ditinjau kelayakan lokasi dan hal-hal yang mendukung lainnya.

“Harus ada izin, ada aturan yang mengatur tentang itu. Tak bisa sembarang,” katanya.

Hewan tersebut tak bisa dibunuh, demikian Hendrik. Sebab ada isu beredar karena amarah warga, sehingga buaya tersebut akan dibunuh.

“Kami sudah berkoordinasi dengan PPS Tasikoki Bitung, rencananya akan dievakuasi ke sana. Tim rescue sudah turun tadi, tapi belum bisa evakuasi karena keterbatasan,” ucapnya.

Buaya ini juga menjadi barang bukti polisi untuk kasus kematian korban. Bahwa benar, korban memang dimakan buaya. Bisa juga jika ada kemungkinan lain, buaya ini tetap harus diamankan.

Sementara itu, pukul 13.30 Wita, buaya sepanjang empat meter yang tampak sangat gemuk itu masih berada di kandangnya.

Sejumlah warga tampak antusias mengamati pergerakan buaya itu. Bahkan, ada yang melemparinya batu sehingga buaya meronta dan membuka mulut. Namun, dari bagian luar kompleks itu sudah diberi garis polisi. (WW)

KOMENTAR
Tags
Show More
Close