Kenapa Engkau Seperti Ini!

Kenapa Engkau Seperti Ini!
Ilustrasi | Imam Anshori Saleh

KETIKA Salman Al-Farisi, sahabat yang terkenal dengan idenya untuk membuat parit dalam Perang Khandaq, memeluk Islam, Rasulullah Saw. mempersaudarakannya dengan Abu Al-Darda’, sahabat beliau dari suku Khazraj. Sahabat terakhir itu bernama lengkap Abu Al-Darda’ ‘Uwaimir bin Zaid bin Qais bin ‘A’isyah bin Umayyah bin Malik bin ‘Adiy bin Ka‘ab bin Al-Khazraj bin Al-Harits. Sebelum memeluk Islam, Abu Al-Darda’ adalah seorang pedagang.

Suatu ketika Salman Al-Farisi berkunjung ke rumah saudaranya yang kelak diangkat ‘Umar bin Al-Khaththab sebagai seorang hakim di Damaskus, Suriah. Kala itu Abu Al-Darda’ belum pulang. Begitu dipersilakan masuk ke dalam rumah, ia melihat istri saudaranya tersebut berpakaian lusuh. Melihat hal itu, Salman pun bertanya kepada Khairah, istri Abu Al-Darda’, “Umm Al-Darda’.Kenapa engkau seperti ini?”

“Saudaramu, Abu Al-Darda’, kini tak lagi memerlukan dunia,” jawab Umm Al-Darda’.Dengan suara lirih. 

Ketika Abu Al-Darda’ datang, makanan pun dihidangkan kepada Salman Al-Farisi. Abu Al-Darda’ kemudian berkata kepada saudaranya yang lahir di Isfahan, Iran, itu, “Saudaraku.Silakan nikmati makanan ini sendirian. Aku sedang berpuasa sunnah.”

“Saudaraku!” jawab Salman. “Aku tak kan makan selama engkau tak makan bersamaku!”

Mendengar ucapan Salman Al-Farisi yang demikian, Abu Al-Darda’ pun makan.Untuk menghormati tamunya.

Ketika malam datang dan kemudian semakin kelam, Abu Al-Darda’ bangun untuk melaksanakan shalat tahajud. Melihat hal itu, Salman pun berkata kepadanya, “Saudaraku! Tidurlah!”

Abu Al-Darda’ pun menuruti permintaan saudaranya yang kelak menjadi Gubernur Mada’in (Ctesiphon) itu. Kemudian, ketika malam kian larut, Abu Al-Darda’ bangun lagi.Untuk melaksanakan shalat Tahajjud. Melihat saudaranya yang memeluk Islam pada tahun terjadinya Perang Badar tersebut hendak melaksanakan shalat Tahajjud, Salman sekali lagi mencegahnya dan memintanya tidur. Permintaan itu dipenuhi Abu Al-Darda’.Untuk menghormati tamunya.

Ketika malam hampir tiba di akhir perjalanannya, Salman Al-Farisi bangun dan berkata kepada Abu Al-Darda’, “Sekarang, mari kita shalat Tahajjud berjamaah!”

Mereka berdua lantas melaksanakan shalat Tahajjud berjamaah. Selepas shalat, Salman kemudian berkata kepada Abu Al-Darda’, “Saudaraku! Tuhanmu punya hak yang harus engkau penuhi. Istrimu pun punya hak yang harus engkau penuhi. Karena itu, penuhilah hak masing-masing. Secara seimbang!” 

Merasa kurang yakin dengan masukan Salman Al-Farisi, keesokan harinya Abu Al-Darda’ menemui Rasulullah Saw. dan menuturkan hal itu. Mendengar keluhan Abu Al-Darda’ tersebut, beliau menjawab, “Abu Al-Darda’. Salman memang benar!”