Kembali Jadi Manusia

Kembali Jadi Manusia
Ilustrasi

Oleh: Eko Kuntadhi

HARI-HARI ini kekuatan solidaritas sosial sedang menunjukan dirinya. 

Setiap orang berusaha membantu orang lainnya. Setiap manusia membantu manusia lainnya. 

Hari-hari ini, kita kembali menjadi manusia. Tanpa atribut. Tanpa sekat. Kita menyatu dalam lautan kemanusiaan. 

Seorang pengusaha laundry menawarkan jasanya antar jemput laundry pakaian para nakes. Gratis. 

Baca Juga

Seorang pedagang makanan, memasang pengumuman, silakan ambil bagi yang lapar. Gratis. 

Seorang tetangga mengirimkan makanan yang digantungkan pada pagar rumah tetangganya yang sedang isoman. 

Seorang kiai, tidak hentinya melakukan sholat ghaib. Berdoa untuk siapa saja yang wafat diterjang virus. 

Seorang romo, melantunkan kidung doa untuk seluruh manusia yang sedang bertarung melawan penyakit. 

Ada teman yang sibuk mencarikan donor plasma konvalesen untuk teman lain yang membutuhkan. 

Ada ibu yang membantu merawat ketiga anak kecil tetangganya sementara ayah-ibu anak itu sedang tergeletak di bangsal rumah sakit. 

Air mata kita terkuras setiap mendengar pengumuman dari speaker masjid. Tentang warga yang mendahului kita. Atau membaca informasi di grup WA. Atau melihat beranda media sosial. 

Hari ini kita sedang berlatih kembali menyempurnakan kemanusiaan kita. Sebab tidak ada yang lebih indah dari kecintaan pada sesama. 

Tidak ada yang lebih membahagiakan  dari membantu merea yang sedang dirundung musibah. Tidak ada yang mengalahkan lelehan air mata kita untuk mereka yang pasrah melawan penyakitnya. 

Hari-hari ini, kita semua merasakan. Bahwa siapapun bisa menjadi kerabat dan saudara kita. Tanpa memandang perbedaan agama, warna kulit dan bahasa. 

Kita hidup mengirup oksigen yang sama. Berjalan menyusuri bumi yang sama. Dan saat malam, memandang langit muram yang sama. 

Sebab manusia sesungguhnya adalah makhluk yang pandai mencintai. 

Kita tidak butuh belajar untuk mencintai. Sementara kita perlu berusaha keras jika ingin membenci. 

Hanya cinta yang membedakan manusia dengan kampret.

Untuk semua kebaikan dari manapun asalnya. Untuk semua kasih dari siapapun datangnya. Allah pasti menghitungnya dengan teliti. Tidak akan ada yang terlewat. 

Pada setiap kebaikan yang dilakukan makhluknya, Tuhan menyambutnya dengan senyum lebar. 

Sungguh. Tidak pernah sia-sia saat Dia meletakkan sebongkah hati di setiap dada hamba-Nya...