Misteri yang Tak Kunjung Terungkap:

Kematian Sederet Ilmuwan Timur Tengah

Kematian Sederet Ilmuwan Timur Tengah
Ahmad Rofi’ Usmani

Oleh: Ahmad Rofi’ Usmani

“SEJUMLAH negara, Minggu (29/11/2020), menyatakan keprihatinannya atas pembunuhan Mohsen Fakhrizadeh (59), ahli nuklir Iran, Jumat lalu!”

Demikian ungkap koran Kompas (Senin, 30 November 2020). Lebih jauh, koran itu menuturkan, “Fakhrizadeh dibunuh dalam penyergapan di dekat Teheran. Ia terluka parah setelah mobilnya diserang orang tak dikenal yang terlibat baku tembak dengan pengawal Fakhrizadeh. Saat itu ia dalam perjalanan ke Kementerian Penelitian dan Inovasi, tempatnya bekerja di kota Ahsard, Damavand. Nyawanya tak tertolong meski sudah ditangani tim medis.”

Membaca berita demikian, tiba-tiba saya teringat kembali kisah kematian misterius sederet ilmuwan Timur Tengah. Antara lain Dr. Sameera Mousssa, Dr. Samer Naguib, Dr. Nabil Al Kallini, Dr. Yahya El Mashad, Dr. Nabil Ahmad Fleifel, dan Dr. Said Sayed Bedair. Nah, berikut kisah misterius kematian beberapa ilmuwan tersebut.

San Fransisco, California, Jumat, 15 Agustus 1952.

Pada hari itu, Dr. Sameera Moussa, seorang perempuan Mesir yang ahli nuklir jebolan Universitas Kairo dan kala itu bekerja di Pusat Reaktor Nuklir San Fransisco, Amerika Serikat, menerima seorang kurir. dari tempat kerjanya. Tanpa curiga apa pun, pakar di bidang fisika nuklir itu berangkat ke kantornya: naik mobil yang dikendarai si kurir. Ketika mobil itu melintasi jalan yang tinggi dan kemudian meluncur turun, si kurir tiba-tiba membuka pintu mobil dan meloncat keluar. Akibatnya, mobil itu pun meluncur cepat tak terkendali dan menabrak sebuah trailer yang tiba-tiba muncul di depan. Mobil itu pun segera “berakrobat” di udara. Dan, mobil itu kemudian melesat ke jurang sedalam 54 meter. Dr. Sameera Moussa pun tewas seketika.

Berdasarkan penyelidikan polisi, ternyata Pusat Reaktor Nuklir San Fransisco hari itu tak mengirim kurir untuk menjemput Dr. Sameera Moussa. Ternyata pula, tak seorang pun mengenal kurir tersebut. Peristiwa kematian Dr. Sameera Moussa yang diwarnai misteri itu sendiri kemudian membuat pemerintah Mesir berhati-hati mengirim putra-putra terbaiknya di bidang tenaga nuklir ke Amerika Serikat. Apalagi, kala itu belum banyak “anak-anak muda berbakat” yang menggeluti bidang yang berkaitan dengan fisika nuklir.

Dirayu Agar “Tidak Mudik” 

Baru pada sekitar permulaan tahun 1960-an Universitas Kairo kembali mengajukan seorang putra terbaiknya, Samer Naguib, untuk melanjutkan studi mengenai tenaga nuklir di Amerika Serikat. Segera, anak muda itu menyabet gelar doktor di bidang yang ia geluti. Segera pula, ia menunjukkan kemampuan ilmiah yang menonjol. Bukan luar biasa bila ketika Universitas Detroit memerlukan seorang associate professor di bidang fisika, Dr. Samer Naguiblah yang terpilih di antara sekitar dua ratus pelamar dari berbagai bangsa. Segera pula, sederet penelitian yang ia lakukan mengundang perhatian banyak pihak. Ia lantas mendapatkan berbagai tawaran dengan imbalan materi tinggi untuk mengembangkan hasil-hasil penelitiannya.

Berbagai tawaran menarik itu, ternyata, tak mudah membuat Dr. Samer Naguib tergiur. Tak aneh bila sekitar sebulan selepas negerinya kalah dalam Perang 5 Juni 1967 M, ia memesan tiket pesawat terbang menuju Kairo pada Ahad, 7 Jumada Al-Ula 1387 H/13 Agustus 1967 M. Merasakan getirnya kekalahan yang diderita negeri dan bangsanya, dalam Perang Arab-Israel tersebut, ia merasa terpanggil untuk segera pulang ke negerinya. Begitu Dr. Samer Naguib menyatakan maksudnya untuk “pulang kampung”, berbagai pihak di Amerika Serikat dan beberapa negara Barat “merayu”nya agar ia “tidak mudik”. Namun, ia telah mengambil sikap bulat: ia akan tetap “pulang kampung”. Untuk mendarmabaktikan diri pada negara dan bangsanya.

Pada malam itu, Sabtu 13 Agustus 1967, Dr. Samer Naguib bersiap-siap menuju Bandara Detroit. Segera, selepas semua persiapannya beres, ia pun mengemudikan mobilnya menuju bandara. Dengan perasaan gembira, mungkin. Tidak lama lagi ia akan bertemu kembali dengan Tanah Airnya dan keluarganya yang lama ia tinggalkan. 

Ketika mobil itu memasuki high-way, tiba-tiba sebuah trailer memburu mobil yang ia kemudikan. Semula Dr. Samer Naguib mengira, trailer tersebut tak mengejarnya. Namun, ketika trailer itu kian kencang jalannya, ia pun menggerakkan mobilnya ke tepi jalan. Ternyata, trailer itu tetap memburunya dan memperkencang jalannya. Ia pun berusaha keras berkelit. Namun, terlambat. Tak lama kemudian, trailer itu benar-benar “menerkam dan mencabik-cabik” mobil doktor muda tersebut beserta istrinya. Dan, kemudian, “kisah” ahli nuklir itu sirna laksana ditelan kekelaman malam.

Akibat kehilangan dua putra terbaiknya di Amerika Serikat, Universitas Kairo lantas mengalihkan perhatiannya ke Eropa Timur. Pada awal 1970-an, universitas negeri tertua di Negeri Piramid itu pun mengirim Nabil Al Kallini ke Cekoslowakia. Anak muda itu ditugaskan untuk melakukan penelitian lanjut tentang tenaga nuklir. Ternyata, ia segera berhasil meraih gelar Ph.D dari Universitas Praha. Hasil penelitiannya membuahkan temuan penting di bidang tersebut. 

Lantas, pada Senin, 14 Muharram 1395/27 Januari 1975 M, selepas gelar Ph.D berada di tangan dan Dr. Nabil Al Kallini bersiap-siap untuk balik ke Mesir, telpon di flatnya berdering. Begitu rampung menerima telpon, ia kemudian meninggalkan flatnya dan tak pernah kembali. Ketika Universitas Kairo lama tak menerima laporan dari Dr. Nabil Al-Qalini, universitas itu lantas menghubungi Universitas Praha. Ternyata, tiada jawaban. Selepas Universitas Kairo berkali-kali meminta penjelasan tentang Dr. Nabil Al Kallini, barulah ada jawaban dari pemerintah Cekoslowakia: selepas menerima telpon dan meninggalkan flatnya, Dr. Nabil Al Kallini tak pernah kembali. Keterangan itu diberikan atas dasar laporan dari Universitas Praha. 

Ada sesuatu yang aneh di balik informasi yang disampaikan Universitas Praha itu. Sebab, dalam kasus tersebut, universitas tahu itu bahwa Dr. Nabil Al Kallini menerima telpon. Pertanyaannya: dari mana universitas tersebut mengetahui hal itu? Jika Universitas Praha tahu  hal itu dari pihak kepolisian, dari manakah kepolisian tahu hal itu? Tidak ada jawaban. 

Operasi La Seyne-sur-Mer
Sekitar lima tahun selepas Dr. Nabil Al Kallini lenyap tak jelas rimbanya di Praha, tepatnya pada Sabtu, 14 Juni 1980, dunia dikejutkan oleh kematian Dr. Yahya El Mashad, di kamar no. 9041 Hotel Le Meridien, Paris, Perancis. Peristiwa kematian terjadi sekitar 14  bulan sejak Operasi La Seyne-sur-Mer berlangsung.

Lembaran sejarah mencatat, dalam operasi La Seine-sur-Mer, yang terjadi pada 9 April 1979, tujuh anggota pasukan komando Israel, di bawah pengarahan Mossad, badan intelijen luar negeri Israel, berhasil memasuki  Pelabuhan Seyne-sur-Mer. Mereka berhasil meledakkan seluruh peralatan reaktor nuklir yang akan dikirimkan ke Irak. Reaktor tersebut tersimpan di gudang pelabuhan tersebut. Akibat ulah pasukan komando tersebut, program pembangunan reaktor nuklir Irak tertunda sekitar dua tahun.

Menurut penyidikan pertama kepolisian Perancis, kematian Dr. Yahya El Mashad di lantai 9 Hotel Le Meridien, Paris  diakibatkan oleh pukulan palu. Menurut analisis mereka, pemicu kematian doktor ahli nuklir asal Mesir dan pemimpin proyek pembangunan reaktor nuklir itu adalah perkelahian antara si korban dan seorang pencuri yang memasuki kamarnya. Sementara beberapa media massa Perancis menyatakan, kematian Dr. Yahya El Mashad terjadi karena ia dipukul palu oleh seorang PSK kelas tinggi berinisial MKM. Ternyata, selepas wanita itu diinterogasi polisi, Dr. Yahya El Mashad tidak memiliki hubungan apapun dengan wanita tersebut. Dan, selepas wanita itu dibebaskan oleh polisi, tidak lama kemudian ia ditemukan tewas di sebuah jalan di Paris. Tidak diketahui siapa pembunuhnya,

Semula, polisi Perancis mengira, Dr.  Yahya El Mashad adalah seorang turis. Namun, selepas melakukan penyidikan lebih lanjut, terbukti bahwa korban bukan turis biasa. Dr. Yahya El Mashad adalah seorang ahli nuklir yang selama sekitar  lima tahun sebelum peristiwa itu memimpin sekitar 250 ahli nuklir Irak dalam langkah membangun reaktor nuklir di negeri itu. 

Dalam posisi sebagai seorang ahli nuklir, Dr. Yahya El Mashad kerap datang ke Paris, Perancis. Sebab, ia yang bertanggungjawab dalam menerima dan memeriksa seluruh peralatan reaktor nuklir Perancis yang dibeli Irak. Selain, ilmuwan kelahiran Benha, Mesir itu juga menangani pendidikan sejumlah ilmuwan Irak yang menimba ilmu di beberapa pusat reaktor nuklir Perancis. Dengan kematiannya, program pembangunan reaktor nuklir Irak tertunda selama sekitar dua tahun.

Selepas itu, polisi Peraancis lantas melakukan penyidikan ulang secara lebih teliti dan cermat. Ternyata, kematian Dr. Yahya El Mashad bukan diakibatkan oleh pukulan palu. Namun, oleh tembakan pistol pada bagian kepala. Pistol itu sengaja tidak diberi peredam. Konon, menurut bahasa dunia agen rahasia, ini merupakan “cap pelaku kejahatan”. Oleh pengadilan Perancis, tindak kriminal tersebut dituduhkan kepada seseorang yang tidak dikenal. Aneh.

Sementara misteri kematian Dr. Yahya El Mashad belum terungkap secara tuntas, empat tahun kemudian, tepatnya pada Sabtu, 28 April 1984, terjadi kematian misterius seorang ahli nuklir Palestina: Dr. Nabil Ahmad Fleifel. Pada hari itu, doktor muda di bidang fisika nuklir dan pakar futurologi asal Palestina itu didapatkan tidak bernyawa ketika sedang berada di Beit Aur, Palestina. Lagi-lagi, kematian ahli nuklir yang meraih gelar doktornya pada usia 30 tahun itu tidak diketahui siapa pelakunya.

Mendapatkan Penemuan Penting

Empat  tahun selepas itu, tepatnya pada Jumat, 10 Dzulhijjah 1409 H/14 Juli 1989 M, media massa Mesir menyiarkan sebuah berita kecil tentang peristiwa bunuh diri Dr. Said Sayed Bedair. Semula, berita itu tak banyak menarik perhatian. Sebab, nama anak muda itu tak banyak dikenal orang. Namun, kemudian terbukti kematian itu bukan diakibatkan oleh peristiwa bunuh diri. Dan, ternyata, anak muda itu adalah seorang doktor di bidang teknik elektro yang belum lama mudik dari Duisburg, Jerman.

Sebelum berangkat ke Jerman, antara 1403-1407 H/1983-1987 M, Dr. Said Sayed Bedair menjabat Kepala Bagian Penelitian Gelombang dan Radar, Angkatan Udara Mesir. Gelar doktornya di bidang teknik elektro ia raih di Universitas Kent, Inggris. Pada 1407 H/1987 M, ia mendapatkan kesempatan menimba ilmu di Universitas Duisburg-Essen, Jerman di bidang gelombang mikro. Menurut beberapa sumber yang dekat dengan ilmuwan muda itu, dalam penelitiannya ia berhasil menemukan sistem yang memungkinkan manusia mengadakan kontak dengan semua pesawat ruang angkasa dan satelit, menyadap informasi yang dikirimkan “para penghuni” ruang angkasa, dan mengacak informasi yang mereka kirimkan. Tentu, penelitian itu memiliki nilai strategis. Di bidang militer.

Dengan hasil penelitian itu, bukan luar biasa bila National Aeronautics and Space Administration (NASA), sebuah lembaga pemerintah Amerika Serikat yang bertanggung jawab atas program angkasa AS dan riset ruang angkasa umum jangka panjang, pernah menawari Dr. Said Sayed Bedair untuk bergabung. Namun, ia menolak tawaran itu. Menurut istrinya, Jehan Ahmed, Dr. Said Sayed Bedair menolak tawaran itu, karena pihak NASA mengajukan syarat ia harus menjadi warga negara negara adikuasa itu sebelum ia bergabung dengan NASA. 

Kematian Dr. Said Sayed Bedair tampaknya berkaitan dengan berbagai kejadian aneh yang ia alami bersama keluarganya selama di Jerman. Misalnya, beberapa lama sebelum pulang ke Mesir, seseorang memasuki flatnya serta membongkar buku-buku dan peralatan penelitiannya. Beberapa waktu kemudian, seseorang membakar bunga plastik di beranda flatnya. Melihat hal itu, ia pun mengajukan permohonan pada Universitas Duisburg-Essen agar masa kontraknya diperpendek. Universitas Duisburg-Essen pun menyetujuinya. Masa kontraknya pun dipersingkat hingga Ahad, 26 Dzulhijjah 1409 H/30 Juli 1989 M. Namun, karena berbagai ancaman terhadap dirinya kian menjadi-jadi, pada Ahad, 5 Dzulhijjah 1409 H/9 Juli 1989 M ia dan keluarganya pulang ke Mesir. Seminggu kemudian, tepatnya pada Kamis, 9 Dzulhijjah 1409 H/13 Juli 1989 M, ia kedapatan terjatuh dari apartemennya di Alexandria. Kala itu, istrinya sedang berada di rumah orang tuanya di Kairo.

Selain mereka, masih ada sederet ilmuwan yang kematian mereka misterius. Antara lain Ali Mostafa Moshrefa (1950), Rammal Hassan Rammal (1991), Ibrahim al-Daheri (2004), Mohamed al-Zawari (2016), dan Fadi al-Batsh (2018). Kematian sederet ilmuwan Timur Tengah tersebut menimbulkan pertanyaan: benarkah mereka meninggal dunia karena faktor “kebetulan”? Ataukah di balik kematian mereka ada “tangan-tangan” internasional di balik layar dan erat kaitannya dengan ketidaksetujuan beberapa negara asing terhadap keinginan beberapa negara Timur Tengah untuk membangun reaktor nuklir untuk maksud damai. 

Wallâhu a‘lam bi al-shawâb!