Opini

Kemarahan Mien Uno, Membuka Tabir Kejiwaan Sandiaga

Pearl S Buck dalam novelnya Maharani (Imperial Women), menggambarkan bagaimana seorang wanita mengatur segala kehidupan anaknya yang sedang berkuasa sebagai Kaisar terakhir China.

Tak ada satupun kebijakan Kaisar yang bisa lepas dari campur tangan Tzu Hsi (Ci Xi atau nama aslinya Yehonala). Wanita yang berasal dari rakyat biasa itu, menjadi sangat berkuasa setelah melahirkan seorang anak laki-laki dari rahimnya sebagai seorang selir. Anaknya menjadi satu-satunya pewaris tahta.

Ketika suaminya wafat, anaknya langsung diangkat menjadi Kaisar China. Anaknya penguasa, Tzu Hsi yang berkuasa. Akan berhadapan dengannya dan menjadi masalah besar bila ada yang berani ganggu sang Kaisar. Dan kemudian berakhir dengan runtuhnya dinasti Qing akibat ulah sang ibu.

Kisah runtuhnya dinasti terakhir itu, teringat kembali ketika Mien Uno marah-marah terhadap orang yang mengganggu sang anak, Sandiaga Uno. Yang kebetulan menjadi calon orang nomor dua di republik ini, cawapres.

“Saya ingin berhadapan dengan orang itu untuk mengatakan bahwa apa yang dilakukan adalah sesuatu yang memang benar terjadi. Jadi sekarang, kalau ada orang yang mengatakan itu Sandiwara Uno, dia harus minta maaf kepada ibunya yang melahirkan dan mendidik Mas Sandi dengan segenap tenaga untuk menjadi orang yang baik. Siapa yang mau berhadapan dengan saya sebagai ibunya?” tantang Mien Uno di Media Center Prabowo Subianto-Sandiaga, Jalan Sriwijaya I, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (11/2/2019).

Akibat dari ungkapan itu, timbul sejumlah reaksi, baik dari tokoh publik, maupun warga biasa. Bahkan banyak netizen (warga net) yang mengejek sebagai ‘anak mamah’.

Politikus Hanura Inaz Nasrullah Zubir, bahkan sangat gemas terhadap peristiwa itu. “Ya ampun! Sandi… Sandi kok manja banget sih, pake ngadu sama mamanya sih soal di-bully Sandiwara Uno sama netizen!” kata Inas kepada wartawan, Selasa (12/2/2019).

Sementara Sekjen PPP Asrul Sani, menganggap Sandiaga Uno sangat baper (bawa perasaan) soal urusan politik. “Kita juga menerangkan kepada keluarga kita bahwa memang di politik itu, ya, seperti itu. Ya, nggak boleh juga kemudian anggota keluarga kita ikut terbawa suasana baper (bawa perasaan),” katanya.

Dalam ilmu psikologi, pria dewasa yang bertingkah seperti anak-anak disebut sindrom Peter Pan. Pria dewasa sudah seharusnya dapat hidup mandiri dan tidak bergantung pada orang lain.

Namun, pria dengan sindrom Peter Pan memiliki sifat sebaliknya. Mereka tidak bersikap sesuai dengan usianya; cenderung tidak mandiri dan sangat kekanak-kanakan, sama seperti tokoh Peter Pan yang ada dalam cerita fiksi. Ada banyak sebutan untuk sindrom ini, seperti king baby atau little prince syndrome.

Faktor yang menyebabkan seseorang bisa memiliki sindrom Peter Pan adalah cara pandang yang salah terhadap diri dan lingkungan sekitarnya. Dilansir dari Science Daily, umumnya, pola asuh orang tua yang terlalu protektif bisa menyebabkan anak tumbuh dewasa dengan sindrom ini. Mereka merasa bahwa tumbuh dewasa harus memikul tanggung jawab yang besar, harus bisa membuat komitmen dengan diri sendiri dan orang lain, dan menghadapi tantangan hidup yang lebih sulit.

Perasaan cemas, takut, tidak mampu, dan tidak percaya diri kemudian membuat mereka ingin melindungi diri dengan bersikap layaknya anak kecil. Tekanan mental berat inilah yang mungkin memicu rasa “ingin kabur dari tanggung jawab” dan membuat seseorang ingin kembali ke masa kanak-kanak yang tidak memiliki beban hidup.

Meski terkait dengan masalah psikologis, sindrom ini bukan termasuk diagnosis resmi gangguan mental, seperti depresi, gangguan bipolar, atau gangguan obsesif kompulsif. 

Dilansir dari Psychology Today, Berit Brogaard D.M.Sci.Ph.D., dosen filsafat di Miami University, menjelaskan ada beberapa ciri khas yang menandakan seorang pria memiliki sindrom ini, yaitu: Cenderung berperilaku seperti anak kecil, remaja, atau orang yang lebih muda dari usianya. Biasanya, orang dengan sindrom ini juga berteman dengan orang yang lebih muda.

Selalu bergantung pada orang lain dan merepotkan orang lain. Mengharapkan untuk selalu dilindungi dan dituruti semua permintaannya. Takut dan memiliki kekhawatiran yang berlebihan jika melakukan segala sesuatu sendiri.

Tidak mau mengakui kesalahan dan melimpahkannya pada orang lain sehingga sulit untuk introspeksi diri.

Bayangkan apa yang akan terjadi bila pengidap sindrom ini memimpin sebuah negara? Jangan-jangan keruntuhan memang akan terjadi.

*Penulis, pengamat sosial politik dan parapsikologi. Tinggal di Jakarta

KOMENTAR
Tags
Show More
Close