Opini

Kelak AHY-Puan Harus Kita Bela Mati-matian

SIAPA tokoh muda yang kemungkinan bersinar di 2024?

Ridwan Kamil? Ganjar Pranowo? Risma? Anies Baswedan?

Simpan dulu nama-nama itu, sodara. Karena bisa jadi Pilpres 2024 adalah Pilpres tergelap sesudah hilang seorang Joko Widodo sebagai standar kepemimpinan di negara kita.

Yang perlu dicatat, sebagus-bagusnya seorang tokoh, dia tidak akan mungkin mencalonkan dirinya sendiri karena Undang Undang kita berbicara begitu. Partai punya “hak istimewa” untuk itu. Bukan sekadar partai, tetapi partai atau kumpulan beberapa partai yang mencapai 20 persen kursi atau disebut Presidential Threshold.

Nah kalau begitu, boleh dong partai mencalonkan “putra mahkotanya”? Boleh banget. Wong mereka yang punya kuasa.

Bayangkan jika PDIP mendadak mencalonkan Puan Maharani sebagai Capres, karena mereka memang partai yang punya kursi paling besar di Senayan. Kawinkan dengan AHY, putra mahkota dari Demokrat maka mereka sudah punya calon yang bisa ditawarkan.

Bisa jadi Pilpres 2024 adalah Pilpres tergelap sesudah hilang seorang Joko Widodo sebagai standar kepemimpinan di negara kita.

Mau melepeh? Ya harus telan bulat-bulat.

Lawannya bisa saja dari Gerindra yang gabung dengan NasDem. Calonnya, Prabowo lagi dengan Cawapres Anies Baswedan. Mau muntah? Silakan. Tolong bersihkan sendiri ya.

Pada akhirnya, rakyat tidak bisa memilih calon yang mereka sukai. Calon yang ada ya calon yang disodorkan partai. Kita akan menyaksikan atraksi para anak mami yang besar karena fasilitas yang mereka punyai, bukan karena rekam jejak berdasarkan track record yang mereka miliki.

Tahun 2024 bisa jadi kita akan kehilangan sosok pemimpin yang sudah sedemikian tinggi sejak era Jokowi. Kita akan dibanting ke tanah lagi karena calon-calon yang ada lebih pada calon kesukaan partai, bukan calon yang dibutuhkan negara.

Mungkin ketika saat itu datang, saya kembali dengan kebiasaan lama. Diam di rumah dan tidak ke mana-mana alias golput lagi. Mau milih kok ya, gada yang pantas. Gada lagi militansi yang harus saya berikan seperti ketika Jokowi ada, karena semua akan menjadi pragmatis, sesuai kepentingan.

Ah, tapi saya tidak peduli. Saya nikmati saja dulu 5 tahun ini, saat saya menyaksikan seorang Presiden sungguhan memimpin negeri. Seorang pemimpin yang datang dari kerasnya kehidupan, dengan intuisi tajam dan berpandangan ke depan.

Bukan seorang pemimpin yang datang karena nama keluarga yang dia punya.

Pada saat itu, saya akan menulis, “Bagaimana bisa seorang yang tidak pernah miskin selama hidupnya berbicara tentang kemiskinan pada rakyatnya?”

Seruput kopinya….

*Penulis buku Tuhan dalam Secangkir Kopi.

KOMENTAR
Tags
Show More
Back to top button
Close
Close