Opini

Kekuasaan Mengetuk Kalbu

One Day One Hikmah (5)

Oleh: Ahmad Rofi’ Usmani

“Muhammad harus diakhiri! Hari ini juga!”

Demikian teriak sangat lantang seorang anak muda berusia sekitar 27 tahun. Amarahnya, kala itu, sangat membara. Seakan memenuhi seluruh relung Kota Makkah. Sebagai seorang penyembah berhala yang amat setia, ia amat berang dengan “kelakuan” Rasulullah Saw. Yang menyebarkan agama baru di Kota Suci itu: Islam. Menurut ia, penyebaran agama baru itu melecehkan agama kuno mereka. Anak muda itu sendiri, kala itu, adalah seorang anak yang mewarisi watak ayahnya: emosinya mudah tersulut dan cepat sekali naik darah. Kesenangannya berfoya-foya dan menenggak minuman keras. Tetapi, terhadap keluarga ia bersikap bijak dan santun.

Lantas, ketika seruan yang dilakukan oleh Rasulullah Saw. di Makkah kian mendapatkan sambutan dari sebagian penduduk Kota Suci itu, amarah anak muda itu kian tak terkendali. Malah, sangat tak terkendali. Ia pun segera mengikatkan pedang di pinggang dan berlari menuju Bukit Shafa. Menuju ke sebuah rumah yang biasa digunakan sebagai tempat pertemuan oleh kaum Muslim. Kala itu, di rumah itu, Rasullullah Saw. sedang bertemu dengan sejumlah sahabat.

Di tengah jalan, anak muda pemberang itu, bernama ‘Umar bin Al-Khaththab, berjumpa dengan salah seorang anggota keluarganya. Yang telah memeluk Islam: Nu‘aim bin ‘Abdullah. Memperhatikan kerut gelap di wajah anak muda itu, Nu‘aim pun menanyakan kepadanya apa yang terjadi. Anak muda itu menjawab bahwa ia akan membunuh sang Penebar Agama Baru itu. Mendengar jawaban yang demikian itu, Nu‘aim bin ‘Abdullah segera berpikir keras. Untuk mengalihkan niat anak muda itu. Ia pun menasihati anak muda itu, “Anak muda! Kau hendaklah pertama-tama melihat ke rumahmu sendiri. Saudara perempuanmu dan saudara iparmu pun telah memeluk Islam!”

Mendengar kabar yang demikian itu, ‘Umar bin Al-Khaththab seakan tersambar petir. Amarahnya pun kian membara dan menggelora. Segera, ia membalikkan langkah. Menuju rumah saudara perempuannya, Fathimah binti Al-Khaththab. Kala itu, Fathimah sedang membaca Al-Quran. Mendengar ‘Umar masuk, Fathimah menghentikan bacaannya. Namun, ‘Umar telah mendengar suaranya dan menanyakan apa artinya. Sang adik menjawab bahwa hal itu tiada apa-apanya.

“Fathimah! Kau jangan mencoba menyembunyikan apa pun. Dariku!” hardik ‘Umar dengan nada suara sangat gusar. “Aku tahu segala sesuatunya. Aku telah mendengar, kalian berdua telah ingkar agama!”

Usai berkata demikian, ‘Umar bin Al-Khaththab lantas memegang leher saudara iparnya, Sa‘id bin Zaid bin ‘Amr bin Nufail Al-‘Adawi Al-Qurasyi. Dan, kemudian, memukulnya kuat-kuat. Melihat hal yang demikian, Fathimah mencoba campur tangan.

Tetapi, ia malah juga dipukuli. Hingga tubuhnya berlumuran darah. Dalam keadaan demikian, ia berseru, “‘Umar! Tega benar kau berbuat seperti ini. Kepada aku. Lakukanlah apa saja yang kau kehendaki. Islam tidak akan pernah lepas dari hati kami!”

Ucapan itu membangkitkan suatu dampak yang aneh dalam pikiran ‘Umar bin Al-Khaththab. Ia pun memandangi adiknya. Lama. Kali ini, dengan pandangan penuh kasih sayang. Apalagi selepas melihat darah yang mengalir keluar dari luka-luka yang ia timbulkan. Hatinya benar-benar luruh. Terharu. Akhirnya, ia berucap lirih, “Fathimah. Tunjukkanlah kepadaku. Apa yang tadi kau baca.”

Fathimah binti Al-Khaththab pun membawa kertas-kertas kulit petikan Al-Quran yang ia sembunyikan dan meletakkannya di depan abangnya. ‘Umar bin Al-Khaththab pun mengambilnya. Dan, ia pun menjumpai ayat-ayat Al-Quran yang dibaca oleh adiknya (QS Thâhâ [20]: 1-8).

‘Umar bin Al-Khaththab pun membaca ayat-ayat itu. Dengan sepenuh hati. Tampaknya, setiap kata mengilhami hatinya. Dengan rasa segan dan hormat. Sehingga, akhirnya, ia berucap pelan, “Betapa luar biasa dan mendalamnya kalam ini! Ya, semua ini benar. Aku seharusnya memeluk agamamu, Fathimah. Aku akan pergi menemui Muhammad. Aku akan pergi menemui Muhammad. Aku akan pergi menemui Muhammad. Untuk menyatakan keimananku kepada Allah. Di hadapannya.”

‘Umar bin Al-Khaththab pun segera meninggalkan rumah adiknya. Kemudian, ia pun lari, lari, dan lari. Melintasi jalan-jalan Kota Makkah. Menuju Bukit Shafa. Tepatnya, menuju rumah Abu ‘Abdullah Al-Arqam bin Abu Al-Arqam, tempat Rasulullah Saw. sedang menyampaikan pengarahan kepada para sahabat. Setiba di rumah itu, ‘Umar segera mengetuk pintu.

Mengetahui yang datang adalah ‘Umar, para sahabat pun menjadi gentar dan ketakutan. Kecuali Hamzah bin ‘Abdul Muththalib. Rasulullah Saw. pun menyuruh membuka pintu dan menyilakan ‘Umar masuk. Melihat sikap beliau yang sangat santun dan bijak, ‘Umar merasa kecil di hadapan beliau.

Dengan suara lirih, ia pun segera menyatakan niatnya menjadi seorang Muslim, “Wahai Rasul! Aku datang kepadamu. Untuk beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta pesan yang engkau bawa.” Rasulullah Saw. pun berseru, “Allâhu Akbar. Allah Maha Besar!”

Keislaman ‘Umar bin Al-Khaththab itu, sejatinya, memberikan hikmah dan pelajaran yang sangat berharga. Berkenaan dengan proses keislaman seseorang. Berkaitan dengan hal itu, Tariq Ramadan, dalam karyanya berjudul In the Footsteps of the Prophet: Lessons from the Life of Muhammad, menulis, “Nabi Saw. tahu, dirinya tidak berkuasa atas kalbu manusia. Dalam menghadapi penganiayaan dan kesulitan besar, beliau berpaling kepada Allah Swt. Beliau berharap, Dia akan memberikan petunjuk kepada salah satu dari dua tokoh Quraisy yang beliau ketahui memiliki kualitas dan kekuatan yang diperlukan untuk membalikkan keadaan. Tentu saja beliau tahu, hanya Allah Swt. yang berkuasa menuntun kalbu manusia. Bagi sebagian orang, perpindahan agama merupakan sebuah proses panjang. Yang memerlukan masa penuh pertanyaan, keraguan, dan langkah maju-mundur. Sedangkan bagi yang lain, perpindahan agama berlangsung singkat. Segera selepas membaca teks atau memerhatikan gerak tubuh atau perilaku.

Hal yang demikian itu tidak dapat dijelaskan. Peralihan agama yang memakan waktu paling lama tidak berarti melahirkan keimanan yang kukuh. Kebalikannya juga tak sepenuhnya benar. Jika bicara urusan peralihan agama, kecenderungan kalbu, keimanan, dan cinta, tiada lagi logika. Yang berlaku adalah kekuasaan Allah Swt. yang luar biasa. ‘Umar keluar rumah dengan niat kuat untuk membunuh Nabi Saw., dibutakan oleh pengingkarannya terhadap Allah Yang Maha Esa.

Namun, beberapa jam kemudian, ‘Umar berubah dan mengalami sebuah transformasi. Sebagai hasil perubahan keyakinan akibat sentuhan sebuah Al-Quran dan maknanya. Malah, ia kemudian menjadi salah seorang sahabat setia dari orang yang ia inginkan kematiannya. Tidak seorang pun di antara para pengikut Nabi Saw. yang dapat membayangkan, ‘Umar akan mengikuti pesan Islam. Mengingat ia dengan sangat jelas telah mengungkapkan kebenciannya terhadap Islam. Revolusi kalbu ini merupakan sebuah pertanda. Dan, ia mengajarkan dua hal: tiada yang mustahil bagi Allah Swt. Dan, kita tidak boleh memberikan penilaian mutlak terhadap sesuatu atau seseorang!

Sekali lagi, proses keimanan ‘Umar bin Al-Khaththab menunjukkan pertama-tama: Allah Swt. sangat kuasa atas kalbu manusia: pagi hari seseorang berlaku sebagai musuh besar Islam. Tetapi, siang nanti ia dapat berubah menjadi seorang pendukung agama itu. Begitu pula sebaliknya.”

Sejak itu, ‘Umar bin Al-Khaththab memeluk Islam. Malah, ia kemudian menjadi pendukungnya yang sangat teguh dan tangguh. Hingga ia berpulang pada 7 November 644 M. Luar biasa!

Penulis alumnus Universitas Al-Azhar, Kairo, pernah nyantri di Ponpes Al-Munawwir, Krapyak, Yogyakarta.

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close