Opini

Kekanak-Kanakan Mensikapi Pandemi

Oleh: Al-Zastrouw

Sudah beberapa hari ini adikku yang paling kecil ngambek. Dari segi usia sebenarnya dia tidak tergolong anak-anak, tapi karena dia anak terakhir yang sering dimanja, segala kebutuhannya dicukupi dan segala keinginannya dituruti, maka akhirnya menjadi tidak kreatif, jiwanya lemah seperti anak-anak. Mudah ngambek dan marah jika keinginannya tidak dituruti. Tak bisa menyelesaikan masalah, tetapi selalu cari masalah. Ketika kalah bersaing dalam bermain, dia selalu menyalahkan pesaingnya, bahkan tidak segan-segan menghabisi mitra saingnya dengan sengan segala cara. Seringkali dia meminta ayah membela dirinya. Dia juga sering menuntut berbagai fasilitas  agar menang dalam persaingan. Jika tidak dituruti maka tidak segan-segan dia mengundang teman-temannya datang untuk bikin ribut di rumah kami. Kalau sudah demikian, dia tidak peduli rumah kami jadi rusak dan berisik, yang penting keinginannya terpenuhi.

Akhir-akhir ini dia marah, karena merasa keinginannya dihalangi-halangi oleh ayah. Di bulan ramadhan ini dia ingin shalat di masjid secara berjamaah sebagaimana Ramadhan tahun lalu, dia ingin mengajak teman-temannya melaksanakan kegiataan ramadhan secara berkerumun supaya suasana Ramadan menjadi syiar dan meriah. Tapi Bapak dengan tegas melarangnya. Bapak tahu resiko, kalau kegiatan itu dilaksanakan wabah Corona akan semakin menyebar dan makin sulit dikendalikan. Bapak ingin melindungi keluarga kami, bapak ingin agar keluarganya sehat, lepas dari pandemi corona yang sedang mengancam. Jika  ada diantara keluarga kami yang terpapar virus corona maka kondisi keluarga akan tambah sulit. Inilah yang membuat bapak ngotot melarang keluarga kami beribadah secara berkerumun.

“Ini saatnya kita menunjukkan kebesaran Islam” kata adikku dengan wajah bersungut-sungut “Ini kan bulan Ramadhan, bulan suci umat Islam, monetum yang tepat untuk membuat syiar Islam, kok malah masjid ditutup, dilarang beribadah, aneh……” lanjutnya

“Tak ada yang melarang melaksanakan ibadah, nak” jawab ayah lembut “saya hanya ingin melindungi anak-anak saya selamat dari ancaman wabah corona. Silahkan beribadah sepuasmu di rumah. Allah bisa disembah dari mana saja dan ibadah bisa dilakukan di mana saja, tidak harus di masjid” demikian ayah menjelaskan

“Ahh…. tidak asyik, masa ibadah di rumah saja, tidak kumpul-kumpul, tidak rame-rame, bagaimana syiar Islamnya bisa kelihatan”

“Nak, ibadah itu bukan untuk mencari kepuasan diri, supaya asyik, supaya rame atau supaya dilihat orang. Kalau seperti itu ibadahmu bukan untuk Allah tetapi untuk menuruti keinginan nafsumu spuaya asyik dan terlihat orang”

“Bapak ini pasti sudah dipengaruhi pemikiran orang-orang kafir yang menginginkan masjid umat Islam ditutup, agar umat Islam jauh dari masjid, agar tidak terjadi syiar Islam” Jawab adikku dengan suara tinggi.

Sebagai kakak yang lebih dewasa aku bisa memahami kalau dia kurang mengerti etika dan sopan santun karena dia masih kekanak-kanakan.  Aku juga bisa menerima kalau dia suka ngambek, pingin menang sendiri, suka marah atau bikin gaduh  saat bermain dengan teman-temannya. Tapi sikapnya yang sok tahu,  merasa paling benar sendiri dengan menyalahkan orang lain inilah yang kadang membuat saya tidak sabar. Apalagi jika dibandingkan dengan sikap saudara-sudaraku yang lain yang lebih tua, seperti mas Imam, Hamdani dan mbak Wulan.

Mereka ini lebih alim dan lebih mendalam ilmu agamanya karena bertahun-tahun ngaji di pesantren. Tapi mereka ini tak pernah ngeyel urusan agama, tak pernah pamer ibadah dan selalu nurut dhawuhnya bapak. Jangankan melawan, membantah pun mereka tidak berani. Tidak seperti adik bungsuku yang masih kekanak-kanakan ini yang selalu ngeyel dan membantah jika ada yang tidak sesuai kemauannya. Padahal dia tidak pernah ngaji dan belajar agama hanya dari tulisan di medsos dan youtube.

“Jangan suka suuzan…” jawab ayah dengan penuh kesabaran

“bagaimana tidak suuzan, bapak melarang kita ibadah di masjid sehingga masjid ditutup, tapi Bapak membiarkan orang berdesak-desakan di pasar, berkerumun di mall, bahkan di bandara orang bergerombol kayak semut. Malah mereka mengabaikan protokol kesehatan, karena banyak yang tidak memakai masker”

“Nak, mereka itu sudah diberi tahu, sudah diingatkan tapi tetap ngeyel. Kita jangan menyamakan diri dengan mereka. Masjid tak bisa disamakan dengan pasar, mall dan bandara. Masjid memang lebih suci daripada tempat-tempat tersebut, tapi virus tak bisa dideteksi hanya dengan tempat yang kita anggap bersih. Sudah banyak kejadian, virus menyebar di kerumunan orang saat pengajian, di pesantren, di masjid dan tempat-tempat ibadah lainnya” Demikian Bapak menjelaskan tetap dengan suara lembut penuh kasih

“Sebagai orang beriman dan berakal” lanjut Bapak “kita tidak boleh beragama hanya berdasarkan nafsu.  Kita harus melihat kerumunan massa di tempat tersebut dengan dua sudut. Jika mereka berdesakan di tempat tempat tersebut karena nafsu, ingin belanja, ingin hura-hura, ingin berhibur karena jenuh di rumah atau ingin pamer diri, maka tidak layak kita iri pada mereka apalagi menuntut agar kita boleh berlaku seperti mereka. Jika mereka yang berkerumun itu karena desakan kebutuhan, misalnya sedang kerja mencari nafkah, maka kita juga tidak boleh mengikuti mereka, karena kita tidak dalam keadaan terdesak kebutuhan. Artinya ibadah di masjid itu bukan kewajiban yang mendesak”.

“Kenapa sih kamu kok ngotot amat ibadah berkerumun sehingga berani mengambil resiko berbahaya dan menentang larangan ayah” tanya saya mulai tidak sabar

“Ya karena karena ayah bersikap tidak adil, kami dilarang ke masjid, tidak boleh mensyiarkan Islam, sedangkan kegiatan yang sama-sama mengandung resiko tertular virus dibiarkan……” Jawabnya ngotot

“Justru ini keadilan Bapak” bentakku kepada adikku yang terus ngeyel “Bapak ingin melindungi kamu dan seluruh anggota keluarga kita dengan cara bersikap tegas pada kita. Inilah cara bapak menyayangi kita, cara bapak melindungi kita. Kok malah Bapak dituduh tidak adil dan pilih kasih. Bapak tidak ingin kita seperti mereka, ini upaya minimal yang bisa kita lakukan. Kalau kita tidak mencegah masyarakat melakukan tidakan bahaya, paling tidak kita dan keluarga kita tidak ikut menambah bahaya dengan bertindak seperti mereka”.

“Benar kata kakakmu itu…” sahut ayah menengahi “Ayah tak punya kekuatan menahan mereka, ayah hanya punya kemampuan mencegah kalian. Ayah tidak ingin masjid dan agama kita menjadi seperti pasar, mall dan bandara yang menjadi tempat beresiko penyebaran virus.  Maka ayah bersikap tegas pada kalian agar jangan berkerumun di masjid dulu untuk sementara”.

Mendengar penjelasan ayah, adikku pergi degan wajah bersungut-sungut. Kelihatannya dia belum bisa menerima keputusan ayah.

Melihat sikapnya yang suka  ngeyel dan marah, aku bisa memaklumi, namanya juga anak-anak.  Lebih-lebih jika keinginannya dicegah dan dihalang-halangi. Sebagai anak-anak yang nalarnya belum cukup, dia belum bisa membedakan antara bahaya dan keinginan. Asal sesuai keinginan dia akan ngotot menjalankan sekalipun hal itu membahayakan dirinya dan orang lain.

Kejadian seperti ini pernah terjadi beberapa tahun lalu, ketika ayah melarang dia bermain di sungai yang arusnya deras. Dia ngambek dan marah kepada ayah. Menuduh ayah otoriter, mengekang kebebasan, melanggar HAM, tidak adil dan berbagai tuduhan negatif lainnya. Padahal ayah melarang dia bermain di arus deras karena ayah tahu dia belum bisa berenang, tidak memiliki pengetahuan tentang air sehingga akan membahayakan bagi dirinya. Artinya larangan itu dilakukan untuk melindunginya dan sebagai bentuk rasa sayang ayah padanya. Yang bikin jengkel tuduhan negatif pada ayah itu disampaikan kepada teman-teman bahkan sampai ke tetangga. Akibatnya suasana rumah kami jadi gaduh, karena teman-teman dia dan tetangga yang tidak tahu urusan ikut-ikutan berkomentar dan menanggapi luapan emosional adik kami yang masih kanak-kanak itu.

Kadang jengkel dan pingin marah melihat ulah adik saya yang kekanak-kenakan ini. Tapi kami harus tetap sabar menghadapi ulahnya yang suka ngeyel dan berisik itu  demi menjaga keutuhan keluarga. Namun demikian, jika tindakannya sudah keterlaluan sehingga merusak rumah dan mengancam keutuhan keluarga, maka seluruh anggota keluarga akan bertindak tegas pada adikku yang masih kanak-kanak itu. Semoga dia segera tumbuh dewasa…… ****

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close