Mutiara Hikmah

Kejujuran Itu pun Membuahkan Pertobatan Para Perampok

Kejujuran Itu pun Membuahkan Pertobatan Para Perampok

Oleh: Ahmad Rofi’ Usmani  

“BOLEHKAH saya pergi ke Baghdad Madinah Al-Salam, Ibu. Untuk menimba ilmu pengetahuan dan mereguk pengalaman. Di kota itu?” 

Demikian ucap seorang anak muda kepada ibunya. Suatu malam. Mendengar permintaan sang putra yang demikian, betapa bahagia sang ibu. Apalagi, niat sang putra dalam berkelana ke kota yang jauh dan terkenal sebagai pusat ilmu pengetahuan kala itu, Baghdad Madinah Al-Salam, adalah untuk menimba ilmu pengetahuan dan mereguk pengalaman hidup. 

Sang putra itu, yang kala itu masih muda usia, tidak lain adalah Abu Yazid Al-Bisthami (atau Al-Busthami): seorang Tuan Guru kondang pada abad ke-3  H/9 M. Bernama lengkap Abu Yazid Thaifur bin  ‘Isa bin  Adam bin Surusyan, ia  lahir sekitar 188 H/804 M. Keluarganya  berasal dari  Bistham,  Khurasan, Persia. Kakeknya,  Surusyan,  sebelum memeluk   Islam,  adalah  seorang  pemeluk  Agama   Majusi.   Ia tumbuh dan berkembang  dalam  keluarga  yang taat beragama. Ibunya, yang mencintai dunia ilmu pengetahuan, secara teratur mengirim putranya ke beberapa lembaga pendidikan. Untuk menimba ilmu, tentu saja. 

Selepas tumbuh menjadi anak muda,  Abu Yazid Al-Bisthami kemudian menimba ilmu pengetahuan dan pengalaman. Ke berbagai  kawasan Dunia Islam kala itu.  Di  antara guru-gurunya  adalah  Abu ‘Ali Al-Sindi. Sehingga, akhirnya,  ia  menjadi seorang  pakar hukum Islam. Yang mengikuti  Mazhab Hanafi.  Namun,  dalam  perjalanan  hidupnya,  selanjutnya,   ia memilih  meniti jalan kebenaran. Yang sunyi dan senyap. Untuk itu, selama 30 tahun, ia berkelana  di gurun pasir Suriah. Ya, 30 tahun berkelana di gurun pasir. Dalam kelananya, ia hidup sederhana dan sedikit tidur. Hingga ia berpulang di bumi kelahirannya pada 260 H/874 M dan dimakamkan  berjajaran dengan Al-Hujwiri, Nashir-i Khusraw, Yaqut Al-Hamawi. 

Gembira dan bahagia dengan tekad sang putra, maka ketika sang putra hendak menapakkan kakinya menuju ibukota Dinasti ‘Abbasiyah itu, sang ibu memberinya bekal uang sebanyak 40 dinar. Dari harta warisan ayahnya yang telah berpulang. Agar uang yang sangat bernilai itu tidak hilang, di tengah perjalanan, sang ibu memasukkan uang itu ke dalam lengan baju putranya dan menjahitnya. Sangat rapat. Ketika memberikan uang itu, sang ibu berpesan kepada putra kesayangannya itu untuk berjanji agar tetap bersikap jujur dan tidak pernah berdusta. Dalam keadaan apapun. Ya, dalam keadaan apapun senantiasa jujur dan tidak pernah berdusta. Sang putra pun berjanji akan memegang teguh pesan ibu tercintanya. 

Selepas segala sesuatunya siap, Abu Yazid Al-Bisthami remaja itu pun bermohon diri kepada sang ibu. Lantas, ia pun meninggalkan bumi kelahirannya. Bersama kafilah yang hendak menuju Baghdad Madinah Al-Salam. 

Nah, ketika di tengah perjalanan, kafilah itu dihadang oleh sekawanan perampok gurun pasir. Kawanan lanun yang terkenal ganas dan brutal itu dengan leluasa merampas semua harta yang dibawa kafilah itu. Sejatinya, salah seorang perampok melihat lengan baju Al-Bisthami yang tampak berisi sesuatu. Namun, perampok itu tidak mencurigainya. Malah, perampok itu sempat bertanya kepada Al-Bisthami muda, “Anak muda! Apakah kau membawa sesuatu?”

“Ya. Aku membawa uang sebanyak 40 dinar,” jawab Al-Bisthami remaja. Jujur dan apa adanya. 

Jawaban lugu Al-Bisthami remaja itu, justru membuat perampok itu mengira ia adalah seorang remaja tolol. Dan pembohong. Karena itu, perampok itu tidak mencoba membuktikan kebenaran ucapan Al-Bisthami. Dengan memeriksa dirinya. 

Kawanan perampok gurun pasir itu kemudian berlalu dan menemui pemimpin mereka. Yang tengah menantikan hasil rampokan yang dibawa oleh anak buahnya. Mereka pun melaporkan bahwa seluruh hasil rampokan terhadap kafilah tersebut. Kecuali harta yang dikatakan oleh Al-Bisthami remaja. Mendengar penuturan mereka tentang Al-Bisthami remaja, sang pemimpin sangat penasaran. Akhirnya, “benggol”, alias pemimpin para perampok , itu memutuskan untuk menemui sendiri Al-Bisthami. 

Betapa terkejut kafilah itu ketika melihat kawanan perampok gurun pasir itu datang lagi. Untuk kedua kalinya. Hati mereka agak lega ketika tahu, ternyata kawanan perampok itu hanya ingin mencari Al-Bisthami. Ketika para perampok itu berhasil menemukan Al-Bisthami, mereka kemudian menyeret anak muda itu kepada pemimpin mereka. Begitu melihat Al-Bisthami, pemimpin kawanan perampok itu pun menggertaknya, “Anak muda! Sejatinya, apa yang kau bawa?”

“Bukankah telah saya katakan, saya membawa uang sebanyak 40 dinar?” jawab Al-Bisthami remaja. Apa adanya. Tanpa perasaan gentar sama sekali.

“Di mana kau sembunyikan uang itu?” cecar “sang benggol”. Dengan suara melengking dan menggelegar. 

Al-Bisthami muda pun dengan jujur menunjuk ke lengan bajunya. Ia kemudian membuka jahitan di lengan bajunya itu dan menyerahkan uang 40 dinar itu kepada pemimpin kawanan perampok itu. Melihat kejujuran Al-Bisthami, pemimpin kawanan perampok itu sejenak tertegun dan tercenung. Lama. Kemudian, pemimpin kawanan perampok itu dengan penuh rasa ingin tahu bertanya kepada Al-Bisthami, “Anak muda. Apakah kau gila. Mengapa kau tunjukkan dan serahkan dengan suka rela uang yang kau simpan itu. Sehingga, andaikan kau berbohong pun tentu kami tidak akan mengetahuinya?” 

Apa yang kemudian terjadi? 

Al-Bisthami kemudian menuturkan pesan ibunya ketika ia akan berangkat menuju Baghdad Madinah Al-Salam. Untuk menimba ilmu pengetahuan dan mereguk pengalaman hidup. Juga, janjinya bahwa ia akan melaksanakan pesan ibunya itu. Mendengar penuturan Al-Bisthami yang demikian, beberapa lama pemimpin kawanan perampok itu kembali tercenung: hatinya sangat tersentuh. Akhirnya, dengan suara lirih, ia berucap, “Anak muda. Kau begitu takut mengkhianati ibumu. Sedangkan kami ini sama sekali tidak takut mengkhianati Allah Swt. Tindakanmu itu benar, anak muda. Dan, selama ini, kami salah.” 

Sang pemimpin kawanan perampok itu kemudian memerintahkan agar semua harta yang dirampas dari kafilah itu dikembalikan. Dan, kemudian, ia berucap kepada Al-Bisthami, “Anak muda! Kini, selepas mendengar kisah kejujuranmu, aku bertobat.” 

Pertobatan sang pemimpin kawanan perampok gurun pasir itu kemudian diikuti oleh semua anak buahnya.

Pelajaran indah tertebar lewat kisah Abu Yazid Al-Bisthami: betapa tidak mudah “menggenggam” kejujuran. Namun, meski “menggenggam” kejujuran berat dan tidak mudah, kejujuran pada akhirnya senantiasa membuahkan hasil yang tidak terduga. Seperti pertobatan kawanan para perampok gurun pasir yang terkenal brutal dan kejam. Kepada siapa saja dan kapan saja!@ru