Kejelian Bung Karno dalam Menikmati Seni

Kejelian Bung Karno dalam Menikmati Seni
Merdeka.com

JAKARTA, SENAYANPOST.com - Sosok Sukarno Sang Proklamator tak hanya dikenal dari kehebatannya berorasi dan memimpin negeri ini menuju kemerdekaan.

Di balik kewibawaannya, Bung Karno juga dikenal sebagai pengagum berat akan keindahan karya seni. Karakter Presiden pertama Republik Indonesia ini bisa dilihat dari 'kacamatanya' dalam dunia seni seperti seni rupa dan lukisan.

Sebagai pria berzodiak Gemini kelahiran 6 Juni 1901, Bung Karno amat jeli dalam menikmati dan menilai setiap karya seni. Sebut saja dalam hal seni lukis, ia bisa dibilang sebagai pengagum keindahan.

Kurator Galeri Nasional Indonesia, Suwarno Wisetrotomo, menyebut bahwa koleksi lukisan Bung Karno lebih banyak membahas tentang keindahan alam atau sosok-sosok yang indah seperti yang terdapat dalam lukisan berjudul Rini. Lukisan karya Dullah ini menggambarkan sosok perempuan berparas cantik yang sedang duduk seorang diri.

"Kalau melihat koleksinya Bung Karno bisa dilihat, pertama-pertama beliau mengedepankan prinsip keindahan baik itu sosok [manusia] atau panorama alam, keindahan alam, dalam [koleksi lukisan] yang banyak itu ada sosok perempuan yang cantik dan panorama yang cantik dan sedikit sekali yang menggambarkan spirit perjuangan atau revolusi," ujar Suwarno kepada CNNIndonesia.com, Jumat (4/6/2021).

Lebih lanjut, Suwarno mengatakan bahwa lukisan juga sebagai medium penyeimbang dalam kehidupan Sukarno yang penuh dualitas yakni sebagai penikmat seni dan tokoh politik.

"Seni Bung Karno ini lebih pada ingin menciptakan keseimbangan hidup, dalam sepenuh-penuhnya hidup Bung Karno adalah berjuang melahirkan republik, melahirkan dasar-dasar negara, tentang NKRI dan seterusnya pokoknya pikiran berat," ujar Suwarno.

"Jadi dalam pandangan saya, seni jadi penyeimbang dalam dirinya untuk mencairkan ketegangan politiknya, mengendurkan syaraf-syaraf. Nah, lukisan panorama indah itu bagian dari cara Bung Karno menciptakan kesimbangan," imbuhnya.

Hal ini tercermin dalam deretan koleksi benda seni milik Sukarno. Suwarno mengatakan bahwa karya seni koleksi pribadi Sukarno berbeda dengan koleksi yang menjadi aset negara.

"Kalau seni lukis [koleksi pribadi] lebih pada visi keindahan, [tujuannya] menciptakan keseimbangan di tengah kepenatan sosial politiknya, ada juga tema-tema revolusi, sebagian lainnya mencerminkan kehidupan sehari-hari rakyat, dan cita-cita kebangsaan," ujar Suwarno.

Tak hanya di seni lukis, dualisme Sukarno ini juga terlihat dalam deretan koleksi patung milik Sukarno.
"Seni patung untuk koleksi pribadi lebih pada sosok dan bentuk keindahan, itu koleksi pribadi. Kalau koleksinya menyangkut monumen dalam arti koleksi negara yang diinisiasi Bung Karno, spiritnya adalah bagaimana menghadirkan Indonesia dengan lebih manusiawi dengan sentuhan seni," ujarnya.

Suwarno memandang bahwa benda seni berupa monumen-monumen yang digagas Bung Karno lebih banyak mengandung semangat tentang kenegaraan seperti Patung Selamat Datang yang berada di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat. Patung ini didirikan untuk menyambut kontingen peserta Asian Games 1962.

Selanjutnya Patung Dirgantara yang didirikan pada 1964 memiliki tujuan sebagai lambang kebesaran dan kemegahan kedirgantaraan Indonesia. Sedangkan, Patung Pembebasan Irian Barat yang berlokasi di Lapangan Banteng dibangun dengan tekad untuk mengobarkan semangat melawan penjajah dalam membebaskan Irian Barat.

Hal senada juga disampaikan oleh Pematung sekaligus pengajar di Fakultas Seni Rupa IKJ, Dolorosa Sinaga. Dalam pandangan Dolo, karya seni patung monumental Sukarno bukan semata-mata bentuk apresiasi seni melainkan medium untuk mengimplementasikan gagasan atau ide yang pada waktu itu.

Dalam pandangan Sukarno, ia menilai ekspresi patung bisa menggugah kesadaran orang. Ekspresi di patung itu menurut Dolo diharapkan bisa menjadi inspirasi gerakan sosial, bukan sekadar politik demi kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia.

"Jadi hampir semua patung Sukarno kalau mau dilihat apa yang menjadi cirinya adalah melalui ekspresi patung, [Sukarno] ingin menyampaikan harapan bagaimana manusia Indonesia akan dibangun, bangsa ini akan berkembang di masa depan," kata Dolo kepada CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu.

Dolo melanjutkan gagasan Sukarno tentang rakyat terutama petani juga muncul pada Tugu Tani atau Patung Pahlawan. Monumen buatan pematung Soviet ini menampilkan sosok perempuan yang membawa bakul dan seorang pria yang memakai topi caping yang mirip seperti petani.

Sosok petani juga muncul di relief Gedung Sarinah yang baru-baru ini ditemukan oleh tim konstruksi Sarinah. Namun, Dolo tetap mendorong pihak terkait untuk melakukan penelitian sejarah tentang pembuat relief itu.

Lebih lanjut, Dolo juga mendorong pemerintah untuk membuka akses seluas-luasnya bagi generasi sekarang untuk mengakses patung-patung monumental dan karya seni di era Sukarno.

Sementara itu, dalam Buku Lukisan Lukisan dan Patung Patung Koleksi Presiden Soekarno keluaran tahun 1994 terdapat 500 foto koleksi lukisan dan patung yang dimiliki oleh Presiden Sukarno. Karya-karya yang ditampilkan merupakan karya dari para maestro pelukis legendaris Indonesia dan dunia, seperti Basuki Abdullah, Affandi, Lee Man Fong, Hendra Gunawan, S.Sudjojono, Theo Meiyer, Le Mayeur, Antonio Blanco, dan R. Bonnet.

Namun menurut Dosen Seni Rupa ISI Yogyakarta, Mikke Susanto, Presiden Sukarno memiliki lebih dari 2000 karya lukisan dan patung yang telah dikoleksi selama hidupnya.