Opini

“Kau Kirim Bulan, Agar Kukirimkan Matahari”

KIAN di sebuah masa, di masa depan yang tak seberapa jauh itu, di antara mereka yang terpilih menjadi teraju di negeri ini, tetaplah istiqamah dengan azam yang ditanam selama bulan puasa yang terik dan menjulang hawa panas ini.

Perjumpaan dan persuaan dengan beragam kaum selama bulan puasa ini, menjadi sesuatu yang mengikat akal budi dan mata fikir para pemimpin terpilih di masa depan. Ada yang muda, ada yang mengaku berpengalaman, ada pula yang mengaku berprestasi, bersih, bijak bestari.

Semua tagline itu datangnya sepihak dari sang penggoda. Dan rakyat pun tidak mudah tergoda dengan tampilan serba wah dan “seksi” para calon yang semestinya berangkulan dengan senyap, menyapa hati kaum miskin dan memajeliskan anak yatim.

Rakyat rindu dengan sesuatu yang berubah, beranjak lebih baik dan sejahtera, senantiasa hidup berbahagia dengan ragam kaum yang menjadi warga tanah ini. Ketika itulah kita tak perlu membangga-banggakan asal usul keturunan. Kita bermuasal dari satu punggur dan tunas manusia bernama Adam. Di masa puasa ini pula kita perlu mengungkai mengenai hidup sebagai percikan dari rangkaian panjang antrean menuju kematian.

Dan para penguasa di masa depan, tak bisa seenak badan menyempalkan kehendaknya bahwa negara hanya dijadikan semacam “agen tunggal penafsir kebenaran”.

* Sosiolog, pengajar di Universitas Indonesia.

KOMENTAR
Tags
Lihat selanjutnya

Cek juga

Close
Close