Internasional

Kata Putra Mahkota Soal Pendiri Saudi, Sunni-Syiah hingga Osama bin Laden

RIYADH, SENAYANPOST.com – Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman bicara blak-blakan kepada majalah TIME seputar pendiri kerajaan, Osama bin Laden, Iran, hingga sekte Sunni-Syiah yang kerab diributkan.

Pangeran Mohammed berbagi cerita dalam wawancara panjang dengan editor Karl Vick di Plaza Hotel New York City selama tur Amerika-nya.

Hasil wawancara itu akan diterbitkan di majalah TIME edisi 16 April.

Vick bertanya alasan putra Raja Salman ini melakukan lawatan panjang di Amerika.

“Amerika Serikat adalah salah satu sekutu tertua kita di seluruh dunia, dan kami adalah sekutu tertua Amerika Serikat di Timur Tengah. Dan hubungan ekonomi antara kedua negara sangat dalam,” kata pangeran yang akrab dengan nama singkatan MbS ini.

Dia mengaku memiliki hubungan yang baik dengan Presiden Donald Trump.

“Tentu saja kami memiliki hubungan yang baik dengan Presiden Trump, dengan timnya, dengan keluarganya, dengan semua tokoh kunci di pemerintahannya, dan juga kami memiliki hubungan sangat baik dengan banyak anggota Kongres dari kedua belah pihak dan banyak orang di Amerika Serikat. Dan semua orang percaya akan pentingnya kedua negara untuk menghadapi bahaya yang kita hadapi,” bebernya.

Pangeran Mohammed lantas membahas Iran yang selama ini dianggap sebagai rival utama Riyadh di Timur Tengah.

Baginya, Teheran dan Riyadh sebenarnya sudah selaras 99 persen.

“Satu-satunya perbedaan adalah taktik bagaimana kita harus berurusan dengan narasi jahat rezim Iran. Jadi itu bukan perbedaan besar. Kami selaras 99 persen. Perbedaannya hanya 1 persen. Tapi, Anda tahu, orang mencoba fokus pada 1 persen dan menghindari 99 persen yang kami sepakati,” katanya.

Ia mendukung penunjukan John Bolton sebagai Penasihat Keamanan Nasional AS yang baru menggantikan Jenderal HR McMaster. Bolton selama ini dikenal sebagai sosok yang anti-Iran.

“Saya yakin ketika dia ditunjuk dia akan mewakili pandangan Amerika Serikat, dan kami akan berurusan dengannya dan kami akan melihat apa yang terjadi. Tapi tentu saja kami akan mendukungnya,” ujarnya.

MbS berbagi cerita soal rencana masa depan Saudi. Namun, dia secara sekilas mengulas awal berdirinya Kerajaan Arab Saudi oleh kakeknya, Raja Abdulaziz al-Saud.

“Kami sekarang berada di Arab Saudi ketiga yang didirikan oleh Raja Abdulaziz, juga dikenal sebagai Ibn Saud, kakek saya,” katanya.

“Raja Faisal datang dengan tim muda yang sangat hebat, dan di antara timnya adalah Raja Khaled, Raja Fahd, Raja Abdullah, Raja Salman, Pangeran Sultan, Pangeran Nayif, dan banyak orang lainnya. Dan mereka telah mengubah negara dari rumah lumpur menjadi kota modern berstandar dunia,” puji MbS.

“Tetapi bagi kami sebagai generasi muda, kami belum melihat ini, karena kami lahir di kota modern yang hebat. Kami hidup dalam ekonomi yang sudah termasuk dalam 20 ekonomi teratas dunia, dan mata kami fokus pada apa yang hilang, apa yang tidak bisa kami lakukan. Dan kami percaya bahwa Arab Saudi hingga saat ini hanya menggunakan 10 persen dari kapasitasnya, dan kami memiliki 90 persen untuk bangkit,” paparnya.

Menurut laporan TIME, pangeran muda ini seperti “pria tergesa-gesa” dalam hal membangun ekonomi negaranya.

MbS menjelaskan bahwa beberapa ide telah menantang pemikiran lama. “Saya muda. Saya tidak ingin 70 persen penduduk Saudi membuang-buang hidup mereka mencoba untuk menyingkirkan ini. Kami ingin melakukannya sekarang. Kami ingin menghabiskan 70 persen waktu kami untuk membangun berbagai hal, meningkatkan ekonomi kami, menciptakan lapangan kerja, menciptakan hal-hal baru, membuat berbagai hal terjadi,” katanya.

Mengenai “Saudi Vision 2030″ dan perkembangan industri di Kerajaan, Putra Mahkota MbS menekankan bahwa;

“Kami menghabiskan USD230 miliar setahun di luar Arab Saudi. Jika kita tidak melakukan apa-apa, itu akan naik pada tahun 2030 menjadi antara USD300-USD400 miliar yang dihabiskan AS di luar Arab Saudi. Rencananya adalah menghabiskan setengahnya di Arab Saudi. Kami memiliki banyak program untuk melakukan ini.”

Sektor pendidikan di Saudi juga tak luput dia singgung.”Kami berada di peringkat 41 di antara sistem pendidikan di seluruh dunia. Prancis berada di peringkat 40, jadi kami hampir seperti Prancis, sebagai sistem pendidikan yang berkualitas kami ingin menggerakkan bakat terbaik. Untuk mendapatkan bakat terbaik, datang ke luar negeri untuk bekerja di Arab Saudi. Jadi ini sangat hal penting yang kami coba tingkatkan. Dan saya percaya dalam tiga tahun terakhir, Arab Saudi melakukan lebih dari 30 tahun terakhir,” katanya.

Sosok pendiri al-Qaeda, Osama bin Laden langsung dilontarkan Pangeran Mohammed ketika ditanya tentang upaya Saudi dalam memerangi ekstremisme. Dia mengakui bahwa Arab Saudi adalah negara yang paling rawan bagi kelompok teroris untuk menyebarkan ideologinya.

“Jika saya ingin menyebarkan ideologi saya, saya harus pergi ke Arab Saudi. Saya harus pergi ke kiblat Muslim. Saya harus pergi ke negara yang menjadi tempat masjid suci. Karena jika saya menyebarkannya di sana, itu akan menjangkau ke mana-mana,” katanya.

Dia menambahkan bahwa kegiatan teroris pertama yang dilakukan oleh Osama bin Laden adalah pada tahun 1990-an yang menargetkan Arab Saudi dan Mesir. Dia mengatakan kerajaan sejatinya sudah terus meminta agar Osama bin Laden ditangkap pada saat itu.

Mbs mempersoalkan artikel The Independent tahun 1993 yang mengulas sosok Osama bin Laden. Dalam artikel itu, Osama ditulis sebagai “pejuang kemerdekaan yang mempraktikkan kebebasan berpendapat.

“Anda dapat kembali ke artikel ini di The Independent pada tahun 1993, Osama bin Laden! Itu sebelum 9/11, 10 tahun sebelum 9/11. Kami mengatakan bahwa dia adalah orang yang berbahaya. Dia adalah seorang teroris. Bahwa dia harus segera ditangkap. Kami memiliki serangan teroris di Arab Saudi. Kami memiliki serangan teroris di Mesir pada tahun 1990-an tetapi kami dituduh menindas kebebasan berbicara sampai 9/11 terjadi,” ungkap MbS.

Putra Mahkota ini mengatakan solusi untuk menghilangkan kelompok-kelompok ekstremis adalah menangkap dan membunuh mereka

Menurutnya, ancaman teroris terbesar saat ini adalah Ikhwanul Muslimin, bukan sekte-sekte seperti Sunni dan Syiah.

Berkaitan dengan sekte Sunni dan Syiah, dia menegaskan bahwa negaranya tidak membedakan warga berdasarkan sekte.”Kami tidak membedakan di antara orang Saudi berdasarkan sekte. Kami tinggal di Arab Saudi sebagai seorang Saudi di Arab Saudi,” katanya.

Menurutnya, yang perlu dipahami tentang hidup di Saudi adalah aturan hukum, kebebasan berbicara, kebebasan untuk bekerja dan jaminan keamanan.

“Ini adalah tujuan yang semua orang setujui, yang kami sepakati di Arab Saudi dengan cara kami sendiri,” katanya. (WW)

KOMENTAR
Tags
Lihat selanjutnya
Close