Hot Isu

Kasus Baiq Nurul, Eks Kepala SMAN 7 Mataram Berfantasi Seks dengan Bintang Porno

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Di pengadilan, bendahara SMAN 7 Mataram (L), yang diduga telah melakukan hubungan seksual dengan Kepala Sekolah (M), telah membantah dirinya mempunyai hubungan istimewa dengan Kepsek itu.

Tapi, keterangan M menlca-mencle. Selain tidak berhubungan intim dengan L, M malah mengaku bahwa L itu hanya inisial dari bintang porno Australia, yaitu Megan Lex. Sebab, jika tak membayangkan L Megan Lex itu, M tak bisa tidur.

“Di Pengadilan keduanya, L dan M mengaku tak punya hubungan istimewa. Bahwa L itu hanya inisial dari bintang porno Megan Lex dari Australia. Padahal, hubungan istimewa itu terjadi di pagi hari, sebelum sorenya menelpon Baiq Nuril,” kata kuasa hukum Baiq Nuril, Joko Junaidi, Rabu (21/11/2018).

Hal itu disampaikan Joko dalam diskusi empat pilar MPR RI ‘Perlindungan Perempuan dari Ancaman Kekerasan Seksual’ bersama anggota MPR RI Rieke Diah Pitaloka (PDIP), Komisioner Komnas Perempuan RI Masruchah, dan Wakil Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), Hasto Atmojo.

Dalam percakapan dengan Baiq Nuril, M sudah terang menjelaskan hubungan istimewa itu dengan L. Tapi, ketika kasusnya mulai terungkap, M menitipkan Hp-nya ke kakak iparnya, dan sang kakak ipar tak tahu jika di Hp itu ada rekaman percakapan seksual.

Saat para guru dan karyawan SMAN 7 tak nyaman dengan kepemimpinan M, mereka terus menggugat rekaman itu ke DPRD dan Diknas Mataram. Alhasil, Hp M tersebut dijadikan bukti.

“Nah, setelah rekaman dari Hp itu ditransmisikan ke Laptop, tak lama kemudian rekeman mesum itu tersebar. Dari sinilah Baiq Nuril yang dituduh dan dilaporkan oleh M,” kata Joko.

Padahal, saksi Khusnul Aini dan saksi lain menegaskan jika yang mentransmisikan, memasang kabel data, atau nyolokin kabel dari Hp ke Laptop itu adalah H.IM. Karena itu, PN Mataram memutus Baiq Nuril bebas, tidak bersalah.

“Jadi, tak benar Baiq Nuril yang menyebarkan rekaman itu,” tambah Joko lagi.

Rieke Diah Pitaloka mengaku sudah mengawal kasus Baiq Nuril itu sejak Mei 2017. Bahwa Baiq Nuril tidak terbukti sebagai penyebar rekaman pelecehan seksual tersebut.

Karena itu Rieke terkejut ketika Mahkamah Agung (MA) menganulir keputusan PN Mataram tersebut. “Dengan MA memutus Baiq Nuril bersalah, sementara bukti-bukti di PN Mataram menyatakan tidak terbukti, ini kan ada ketidakadilan hukum,” kata Rieke.

Rieke pun mendukung PK Baiq Nuril berikut penundaan eksekusi oleh Kejagung RI, yang seharusnya dilakukan pada Rabu (21/11/2018).

“Kita berharap PK akan membatalkan putusan MA dan Baiq Nuril bebas,” ujarnya.

Baiq Nuril tidak terbukti melanggar UU No. 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas UU No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), pasal 27 ayat (1), juncto pasal 45 ayat (1).

“Kalau putusan MA ini dibiarkan, Indonesia ini sudah dalam darurat kekerasan seksual. Sehingga putusan MA itu harus adil, tidak diskriminatif terhadap perempuan sebagai korban,” pungkasnya. (AF)

KOMENTAR
Tags
Show More
Close