Catatan dari Senayan

Kartini, Emansipasi dan Korupsi

PEREMPUAN berkebaya, memakai konde, dan asesoris lain tampak di mana-mana. Polisi wanita, petugas kereta api, pekerja di hotel, rumah makan, anak-anak sekolah dan lainnya pun tak ketinggalan. Lagu Ibu Kartini dikumandangkan dengan khidmat, media massa dan media sosial pun menyebarkan semangat Kartini, semangat kesetaraan gender. Bermacam seremoni Kartinian pun dihelat di seantero negeri.

Hari ini bangsa Indonesia memperingati Hari Kartini. Simbol emansipasi perempuan Indonesia. Dengan semangat Kartini, perempuan Indonesia mampu berperan dalam berbagai forum perjuangan dan pembangunam, baik yang formal maupun informal.

Tokoh-tokoh kaum Hawa di negeri ini tidak sekadar menjadi kanca wingking teman di belakang pria. Mulai jabatan gubernur, bupati, sampai lurah. Di jajaran TNI/Polri juga demikian. Di lembaga yudikatif maupun legislatif perempuan juga terus tampil berkiprah. Demikian pula di sektor swasta atau usaha, tidak sedikit perempuan yang berprestasi.

Tentu semua ini membanggakan. Kita tak lagi memperlakukan perempuan sebagai warga kelas dua. Perempuan justru kita nomorsatukan. Harkat dan martabat perempuan kita hormati sepenuh hati. Lady first.

Dulu semua menginginkan perempuan Indonesia tampil maju karena secara kodrati kaum perempuan relatif lebih jujur, tekun dan bersih. Perempuan lebih sensitif terhadap tindakan tidak terpuji. Ada sifat sosok ibu untuk melindungi dan mengayomi.

Namun nyatanya semua itu tak mudah diwujudkan. Yang terjadi malah sebaliknya, kita sangat prihatin, semangat emansisipasi di negeri ini banyak disalahartikan. Di beberapa tahun terakhir ini muncul tokoh-tokoh perempuan yang tadinya membanggakan berubah menjadi figur yang mengecewakan karena terlibat kasus korupsi dan masuk bui.

Di kalangan eksekutif ada Fadillah Sapari, Ratu Atut, Rita, beberapa bupati perempuan, di lembaga legislatif ada Angelina Sondakh, Miryam S Haryani, dan beberapa anggota DPRD di sejumlah daerah. Di lembaga yudikatif terdapat sejumlah hakim dan jaksa perempuan yang dicokok KPK atau penegak hukum lainnya dalam kasus yang sama.

Dulu kita semua berupaya agar perempuan Indonesia tampil lebih maju. Untuk mengisi keanggotaan di legislatif, misalnya, ada kuota sedikitnya 30 persen untuk calon anggota perempuan. Pengurus partai pusat sampai tingkat kabupaten/kota pun dipatok kuota yang sama. Ini semua demi kesetaraan gender dan mengurangi dominasi lelaki. Sayang hasilnya, emansipasi itu berimbas pada tindak pidana korupsi.

Semangat Kartini yang sepenuhnya untuk mengabdi kepada bangsa dan negara dicederai untuk tujuan nista melakukan korupsi dan manipulasi. Pada momentum Hari Kartini tentu menjadi komitmen bersama kita untuk kembali ke misi suci RA Kartini: mengabdi untuk mencapai kemajuan kaum perempuan khususnya, bangsa dan negara pada umumnya.

Salam.

KOMENTAR
Tags
Show More
Close