Gaya Hidup

Karl Lagerfeld, Si Ponytail Jerman yang Jadi Legenda Couture

JAKARTA, SENAYANPOST.com — Desainer legendaris Karl Lagerfeld meninggal dunia dalam usia 85 tahun. Dia meninggal dunia pada Selasa (19/2/2019) karena sakit yang dideritanya tak kunjung sembuh dalam beberapa minggu terakhir.

Dunia fesyen pun berduka. Sosok legendaris di dunia fesyen dengan karya-karya cemerlang, elegan, dan penuh sentuhan kreatif di baliknya tak ada lagi di dunia.

Lagerfeld merupakan otak di balik suksesnya label fesyen ternama, Chanel. Dia merupakan Creative Director Chanel sejak 1983.

Selain Chanel, Lagerfeld juga menjadi desainer di Fendi dan mengembangkan labelnya sendiri, Karl Lagerfeld. Dengan ide kreatifnya yang tak habis-habis, Lagerfeld juga sukses ‘mengangkat’ nama Chloe, Tommy Hilfiger, dan Fendi.

Kesuksesan ini membuat pria berambut putih dan ponytail ini disebut-sebut sebagai perancang paling terkenal di dunia.

Lagerfeld lahir dan besar di Hamburg, Jerman, pada 10 September 1933. Sejak kecil, dia sudah menunjukkan ketertarikannya pada desain dan mode. Dia kerap memotong gambar dari majalah fesyen. Lagerfeld juga terkenal kerap kritis mengomentari pakaian orang lain di sekolah.

Pada usia 14 tahun, Lagerfeld dengan berani memutuskan pindah ke Paris untuk mendapatkan pendidikan mode yang lebih memadai.

Dikutip dari Biography, dua tahun di kota mode, dia langsung memenangkan desain jas dan bertemu dengan pemenang lainnya yang menjadi kawan akrabnya, Yves Saint Laurent.

Lagerfeld lalu mendapatkan pekerjaan sebagai asisten junior desainer Prancis Perre Balmain selama tiga tahun. Dia juga menimba pengalaman di beberapa rumah mode lainnya.

Kerja keras Lagerfeld lalu terbayar saat dia merancang koleksi untuk Chloe dan Fendi pada tahun 60-an. Dia terkenal dengan garis rancang gaya inovatif tapi tetap memberikan penghormatan terhadap masa lalu yang klasik.

Sentuhan klasik dan vintage ini yang banyak menjadi inspirasinya ini didapatkan dari kegemarannya belanja di pasar loak. Lagerfeld suka mencari gaun-gaun lama dan memodifikasinya kembali dengan sentuhan khasnya.

Nama Lagerfeld semakin tenar saat tahun 80-an. Dia merupakan bintang besar dalam dunia fesyen dan jadi sorotan media. Dia pun dipercaya memimpin Chanel pada 1983. Setahun kemudian dia meluncurkan labelnya sendiri yang kemudian dijual pada Tommy Hilfiger.

Di tangannya, Chanel berkembang menjadi label yang punya busana paling ikonik. Chanel mungkin harus berterima kasih pada Lagerfeld karena membuat suit Chanel dan little black dress menjadi salah satu siluet busana yang paling terkenal di Eropa.

Sejak saat itu, Lagerfeld terus merancang busana yang aspiratif dan menuai decak kagum dan mendapatkan pujian serta penghargaan. Busana-busana Lagerfeld terkenal dengan pendekatan desain yang aspiratif, relevan, dan kekinian.

Di tangannya juga, fashion show menjadi tak lagi membosankan. Dengan kreativitasnya, show Chanel selalu jadi bagian paling ditunggu. Dia menghadirkan kabin pesawat, air terjun, pantai di tengah kota, sampai restoran ke atas panggung show.

Totalitas Lagerfeld, seperti diwartakan cnnindonesia, tak tertandingi dalam soal ide segar untuk tata pertunjukan dan juga fesyen.

Meski telah bekerja untuk Chanel dan Fendi, pada 1992 ia ditarik kembali oleh House of Chloe. Ia pun menggambarkan dirinya sebagai ‘fashion chameleon’ alias bunglon mode.

“Ketika saya bekerja untuk Fendi, saya adalah orang yang berbeda dari ketika bekerja untuk Chanel, Karl Lagerfeld, atau KL. Seperti menjadi empat orang dalam satu tubuh. Mungkin saya tidak memiliki kepribadian sama sekali, atau mungkin saya memiliki kepribadian lebih dari satu,” kata Lagerfeld dikutip dari MSN.

“Desainer yang tak tertandingi dalam menerjemahkan suasana saat ini,” tulis Vogue mengenai Lagerfeld.

Totalitas kerjanya juga ditunjukkan lewat usianya. Usianya sudah tak muda lagi tapi dia masih tak ingin menyerah dengan usia. Di usia 85 tahun dia pun masih berkarya dan tentunya berlibur. Gaya hidup totalitasnya, dan juga awet mudanya pun membuat dia dianggap gila oleh ilmuwan.

“Saya ditanya oleh seseorang dan diajak untuk tes DNA (karena awet muda dan tetap kuat bekerja di usia tua). Mereka pikir saya tidak normal,” katanya dikutip British Vogue dari Telegraph.

“Tapi saya menolaknya dengan baik. Hal uni adalah hal unik. Tapi saya tersanjung.”

Selamat jalan Karl Lagerfeld. (JS)

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close