Catatan dari Senayan

Kampanye, Antara Saling Hujat dan Janji Palsu

KITA setuju sekali dengan pendapat Romo Magnis Suseno, bahwa memilih Presiden bukan sekadar mencari yang terbaik, tapi menghindarkan terpilihnya orang yang berpotensi merusak negara jika mereka menjadi pemimpin.

Tapi bukan karena itu lantas dalam masa kampanye Pemilu dan Pilpres ini muncul pihak-pihak yang bebas menghujat, caci maki, memuji diri setinggi langit, dan menjatuhkan pesaingnya dengan cara-cara kasar dan sarkas.

Dalam berkampanye sesungguhnya tak perlu menuding siapa yang berpotensi merusak negara. Kampanye sejatinya adalah ajang untuk mengajak rakyat menilai pasangan calo dengan melakukan muhasabah, mengaudit semua pasangan calon dengan obyektif, saling membaca dan menilai rekam jejak masing-masing calon.

Kini kita berada di tengah masa kampanye. Kampanye untuk pemilu legislatif dan kampanye untuk pemilihan presiden atau Pilpres. Seperti yang kita saksikan, hiruk pikuk kampanye lewat media massa, media sosial, maupun di darat, di tengah khalayak sejauh ini berlangsung sesuai harapan, aman dan damai.

Namun dalam kampanye calon Presiden/Wakil Presiden, hingga kini kita belum menangkap content kampanye yang berkualitas, seperti adu program dan gagasan lima tahun ke depan. Kita lebih banyak dijejali narasi-narasi yang saling menegasikan kebaikan calon. Yang dihamburkan sisi buruk yang di dalamnya sering terselip hoax atau info bohong.

Kita tidak sependapat dengan hamburan narasi yang diproduksi tim kampanye yang sekadar saling hujat, cacian, dan olok-olok. Juga kampanye yang mengandung isu SARA dan yang sensitif lainnya, apalagi sampai menyinggung suatu golongan atau entitas masyarakat tertentu.

Kampanye dengan materi yang menyesatkan dan janji-janji yang tidak realistis juga sering terdengar. Misalnya calon Presiden yang menjanjikan kelak jika terpilih akan meniadakan impor semua barang. Hal yang sepintas sangat baik, menunjukkan hasrat kemandirian, tetapi tidak realistis. Di era global, tak satu negara pun di dunia yang dapat hidup tanpa impor. Itu menunjukkan sang calon maupun juru kampanyenya tidak pernah mempelajari data di negeri sendiri maupun data global. Itu termasuk janji yang membodohi rakyat dan dangkal.

Kampanye menyerang lawan dengan menggunakan data-data yang tidak valid, tidak mempercayai data statistik, juga merupakan pembodohan. Penggunaan data dan angka asal asalan pada akhirnya akan merugikan diri sendiri dan menurunkan elektabilitas di saat akses dan klarifikasi data sangat mudah dilakukan oleh semua orang.

Kita mesti belajar dari kasus kebohongan Ratna Sarumpaet yang sempat menimbulkan sikap saling curiga dan permusuhan. Juga berkembangnya kabar hoax lainnya.

Kampanye dengan menggunakan sentimen, politisasi, dan eksplotasi agama secara salah juga dapat mengancam persatuan bangsa. Harus ditarik batas antara agama dan politik. Agama diturunkan untuk kemaslahatan umat, bukan untuk tujuan memecah belah umat atau menjustifikasi hal yang sesungguhnya salah.

Kita menginginkan isi kampanye adu gagasan dengan data yang benar dan terukur. Janji-janji angin surga hanya akan memberikan harapan-harapan palsu dan kosong kepada rakyat. Kampanye juga mesti mengedukasi dan mencerahkan. Bukan black campaign atau kampanye hitam yang menjelekkan lawan politik.

Di sinilah perlunya semua pihak, pasangan calon, para juru kampanye, dan penyelenggara pemilu untuk kembali ke tujuan kampanye, yakni memberikan referensi kepada rakyat dalam memilih calon-calonnya secara objektif. Semua mesti transparan dengan membuka rekam jejak masa lalu. Tidak perlu ada yang digelapkan. Janji-janji pun mesti terukur dan realistis.

Referensi kampanye haruslah genuine, apa adanya, apa yang sudah dan akan dikerjakan sang calon dalam mewujudkan pemerintahan yang mampu memajukan dan menyejahterakan rakyat. Kita perlu berdemokrasi secara cerdas dan sehat. Sekeras apa pun kontestasi kita harus tetap saling menghargai dan menghormati. Kita memikul tanggung jawab yang sama: menjaga keutuhan bangsa.

Salam.

KOMENTAR
Tags
Show More

Check Also

Close
Close