Kamala, Ibu, dan Demokrasi

Kamala, Ibu, dan Demokrasi
Trias Kuncahyono

Oleh: Trias Kuncahyono 

“Saya keturunan para wanita yang tangguh, luar biasa, dan fenomenal. Nenek saya pergi ke desa-desa di India untuk mengajari para wanita miskin di desa-desa untuk menggunakan alat kontrasepsi. Ibu saya datang ke Amerika Serikat pada usia 19 tahun untuk belajar endokrinologi di UC Berkeley dan akhirnya menjadi peneliti kanker payudara terkemuka.” Begitu kata Kamala Devi Harris dalam pidato kemenangan pemilu AS, hari Sabtu (7/11/2020) lalu.

Yang dikatakan Kamala itu mengingatkan pidatonya tanggal 3 Juli 2017, pada sebuah upacara pengambilan sumpah 41 anak dan remaja sebagai warga negara AS. Ketika itu, Kamala, menurut The Indian Express (13 Agustus 2020) mengatakan:

 “Melihat kelompok ini, saya tidak bisa tidak memikirkan seorang wanita muda kira-kira seusia Anda. Dia lahir di Chennai, di India bagian selatan, seorang penyanyi berbakat dan murid sekolah yang dewasa sebelum waktunya. Dan, wanita muda itu bercita-cita menjadi seorang ilmuwan. Dia ingin belajar di salah satu universitas terbaik di dunia, University of California, Berkeley. Ketika usianya 19 tahun, wanita itu, meninggalkan kampung halamannya pergi ke Amerika. Ayahnya tidak melarangnya. Hanya dengan perjanjian nanti kalau sekolahnya sudah selesai, dia harus pulang dan dinikahkan secara tradisional.”

“Wanita itu, ibu saya,” kata Kamala. Di Berkeley, wanita itu, Shyamala Gopalan bertemu dengan seorang mahasiswa ekonomi dari Jamaika, Donald J Harris. Keduanya, pada tahun 1963, menikah. Shyamala Gopalan mendobrak tradisi kakek-moyangnya di dusun Thulasenthirapuram, dekat Painganadu di Tamil Nadu, India selatan. Ia tidak dijodohkan, sebagaimana tradisi yang hidup di Tamil Nadu selama ribuan tahun, tetapi mencari jodoh sendiri. “Itu adalah pilihan sulit dan pilihan berani yang dia buat, didorong oleh cinta dan optimisme,” kata Kamala.

Gopalan dan Harris, sama-sama mahasiswa doktoral Universitas of California, Berkeley, dan sama-sama terlibat dalam gerakan hak-hak sipil. Mereka bertemu dalam sebuah demonstrasi membela hak-hak sipil. Meski sudah menikah, mereka tetap aktif dalam kegiatan itu. Bahkan, sering membawa anak-anak mereka, Kamala dan Maya ke tempat-tempat demonstrasi. 

Perbedaan ras antara Shyamala Gopalan dan Donald Harris, tidak menjadi perintang. Di hari pernikahannya, tak satu pun anggota keluarganya yang datamg. Bukan karena menentang pernikahan itu, tetapi karena tidak ada biaya untuk datang ke Amerika. Mereka bersedih karena tidak punya uang.

Ibunya—perempuan—telah berulangkali menjadi tema pidato Kamala.

“Dan, wanita yang paling bertanggung jawab atas kehadiranku di sini hari ini, adalah ibuku  Shyamala Gopalan Harris, yang selalu ada di hati kami,” kata Kamala dalam pidato kemenangan.

Ia melanjutkan, “Ketika dia datang ke sini dari India pada usia 19, mungkin dia tidak membayangkan momen ini. Tetapi dia sangat percaya pada Amerika di mana momen seperti ini mungkin terjadi.”

Kata Kamala, “Jadi, saya memikirkan tentang dia dan tentang generasi wanita-wanita kulit hitam. Wanita Asia, Kulit Putih, Latin dan Pribumi Amerika sepanjang sejarah bangsa kita yang telah membuka jalan untuk momen malam ini. Wanita yang berjuang dan berkorban begitu banyak untuk kesetaraan, kebebasan, dan keadilan bagi semua, termasuk wanita kulit hitam, yang terlalu sering diabaikan, tetapi seringkali membuktikan bahwa mereka adalah tulang punggung demokrasi kita.”

“Semua wanita yang bekerja untuk mengamankan dan melindungi hak memilih selama lebih dari seabad: 100 tahun yang lalu dengan Amandemen ke-19, 55 tahun yang lalu dengan Undang-Undang Hak Pilih dan sekarang, pada tahun 2020, dengan generasi baru wanita di negara kita yang memberikan suara mereka dan melanjutkan perjuangan untuk hak dasar mereka untuk memilih dan didengar,” katanya lantang.

“Malam ini, saya merenungkan perjuangan mereka, tekad mereka, dan kekuatan visi mereka—untuk  melihat apa yang tidak terbebani oleh apa yang telah terjadi—saya berdiri di pundak mereka,” kata Kamala dalam pidatonya yang disambut tangan meriah pada pendukungnya.

Kedua.

Kamala Harris bersama ibu dan adiknya (foto: Istimewa)

Ketika Kamala, yang terpilih sebagai wanita pertama di AS sebagai wakil presiden pidato, ibunya sudah tidak bisa menyaksikan. Shyamala Gopalan—yang menjadi single mother membesarkan Kamala yang saat itu berusia tujuh tahun dan adiknya Maya, setelah bercerai dengan Donald Harris—meninggal. Kamala membawa abu jenazah ibunya ke India untuk ditabur di Teluk Bengali.

Shyamala Gopalan Harris meninggal pada tanggal 11 Februari 2009, karena kanker, pada usia 70 tahun. Koran The San Francisco Chronicle pada tanggal 22 Maret 2009, menurunkan obituari dan Shyamala Gopalan digambarkan sebagai seorang “ilmuwan pembaharu dunia, mentor, aktivis, dan seorang ibu.”

Saat berpidato, Kamala mengutip apa yang dikatakan oleh anggota kongres dan pemimpin hak asasi manusia, John Lewis, “demokrasi bukanlah suatu keadaan, melainkan tindakan.” Hal seperti itu sudah dipraktikan ketika masih berusia 13 tahun. Ketika itu ia memimpin teman-temannya untuk memrotes aturan yang melarang anak-anak bermain di halaman rumput di depan bangunan apartemen tempat mereka tinggal. Aksi tersebut berhasil. Pada ketika itu, Kamala bersama ibu dan adiknya, tinggal di Montreal, Kanada. Karena, ibunya mendapatkan kerja di negara itu. .

 ”Apa yang dimaksudkan oleh Lewis bahwa demokrasi Amerika tidak dijamin. Itu hanya sekuat keinginan kita untuk memperjuangkannya; untuk menjaganya — dan itulah yang Anda lakukan, ” katanya kepada massa. Lalu mengatakan, “Dan ketika demokrasi kita berada dalam pemungutan suara dalam pemilihan ini—dengan jiwa Amerika yang dipertaruhkan dan dunia menonton—Anda  menyambut hari baru untuk Amerika.”.

Dalam memoarnya, The Truths we hold: An American Journey (2019) Kamala mengaku sangat dipengaruhi kakeknya PV Gopalan dan neneknya Rajam Gopalam, terutama dalam hal pengetahuan, prinsip-prinsip, dan nilai-nilai demokrasi. Ia ingat selalu diajak jalan-jalan di pantai di India oleh kakeknya dan di pantai ia mendengarkan kakeknya membahas soal demokrasi bersama teman-temannya. Ia juga terinspirasi oleh keterlibatan neneknya dalam membela hak-hak kaum perempuan.

Terpilihnya Kamala menjadi wakil presiden, telah merobohkan dan menyingkirkan berbagai hambatan bagi kaum wanita di AS, terutama bagi mereka yang berkulit warna. Kamala bukan hanya wanita pertama yang menjadi wakil presiden tetapi juga wanita kulit hitam pertama dan wanita Amerika-Asia pertama yang menjadi orang kedua berkuasa di  AS.

Kamala memiliki keyakinan bahwa sebagai pembuka jalan bagi kaum perempuan. Karena itu, dalam pidatonya Kamala mengatakan, “Walaupun saya menjadi wanita pertama yang terpilih sebagai wakil presiden, saya tidak akan menjadi yang terakhir.” Ia meminjam motto ibunya, “Kamu mungkin menjadi yang pertama, tetapi pastikan bahwa kamu bukan yang terakhir.”

Sebelumnya sudah ada dua wanita yang dicalonkan sebagai wakil presiden yakni Geraldine Anne Ferraro (1984) mendampingi Walter Mondale dari Partai Demokrat dan Sarah Palin, gubernur Alaska yang pada Pemilu 2008 dipasangkan dengan kandidat presiden dari Partai Republik yakni John McCain. Namun, baru Kamala saja yang berhasil. Hillary Clinton yang pada tahun 2016 mencalonkan diri sebagai presiden, kalah melawan Trump.

Kamala, sebagai perempuan kulit berwarna, selalu menjadi yang pertama. Ia menjadi wanita kulit berwarna pertama yang menjadi Jaksa Wilayah San Francsisco (2004). Dan, pada tahun 2011, menjadi wanita kulit berwarna pertama yang menjadi Jaksa Agung California. Semangat untuk tidak kenal kata menyerah itu diwarisi dari ibunya, yang suatu ketika mengatakan, “Jangan hanya duduk-duduk dan mengeluh tentang banyak hal, lakukan sesuatu.”

Saat menjadi Jaksa Wilayah California, Kamala menentang pelaksanaan hukuman mati. Meskipun, korban tindak kejahatan pembunuhan adalah seorang polisi. Tetapi, ketika menjadi Jaksa Agung California, Kamala mempertahankan hak negara untuk menggunakan hukuman mati. Kamala juga menjadi wanita Amerika-India pertama yang menjad senator. Dengan membawa isu imigrasi dan reformasi peradilan pidana, menaikkan upah minimum dan perlindungan terhadap hak-hak reproduksi kaum perempuan, Kamala dengan mudah memenangi Pemilu 2016 menjadi senator.

Ketiga

Kenangan akan ibunya begitu kuat. Dalam pidatonya di Konvensi Nasional Demokrat 2020, Senator Kamala Harris menjelaskan pengaruh ibunya terhadap kehidupannya. Dia mencatat bagaimana ketabahan Gopalan dan nilai-nilai moral yang kuat dari ibunya membentuk dirinya baik sebagai pribadi maupun politisi. “Bahkan saat dia mengajari kami untuk menjaga keluarga kami di pusat dunia, dia juga mendorong kami untuk melihat dunia di luar diri kami sendiri,” kata Kamala tentang ajaran ibunya.

Kata Kamala, “Dia mengajari kami untuk sadar dan berbelas kasih terhadap perjuangan semua orang. Untuk percaya bahwa layanan publik adalah tujuan mulia dan perjuangan untuk keadilan adalah tanggung jawab bersama.”

“Ibu mengajariku bahwa pelayanan kepada orang lain memberikan tujuan dan makna hidup. Dan oh, betapa aku berharap dia ada di sini malam ini, tapi aku tahu dia menatapku dari atas. Aku terus memikirkan wanita India berusia 25 tahun itu yang melahirkanku di Rumah Sakit Kaiser di Oakland, California,” kata Kamala yang dalam bahasa sanksekerta berarti “lotus” dan nama lain dari Lakhsmi, dewi dalam agama Hindu. ***

** Bahan-bahan dari The Hindu, The Indian Express, CNN, Politico, PTI, Mother Jones, TIME, dan The Guardian.