Ekonomi

Kabar Bahagia, Rupiah adalah Mata Uang Terbaik Dunia!

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Pada 2019, rupiah berhasil menguat nyaris 3,5% di hadapan dolar Amerika Serikat (AS). Memasuki 2020, laju rupiah bukannya berkurang malah semakin kencang.

Dihitung sejak akhir 2019 hingga akhir pekan ini atau year-to-date, Refinitiv mencatat rupiah menguat 1,9% terhadap greenback. Rupiah pun menjadi mata uang terbaik dunia!

Dari sisi fundamental, sepertinya rupiah memang layak menguat. Pada Desember 2019, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia masih defisit tepatnya minus US$ 28,2 juta.

Meski tekor, tetapi jauh lebih sedikit ketimbang ekspektasi. Konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia memperkirakan defisit neraca perdagangan hampir US$ 500 juta pada Desember 2019.

Dengan defisit perdagangan yang minim, seperti dikutip CNBC Indonesia, neraca dagang Indonesia pada keseluruhan 2019 adalah US$ 3,19 miliar. Lagi-lagi walau defisit tetapi jauh melandai dibandingkan 2018 yang negatif US$ 8,69 miliar.

Ini menunjukkan aliran devisa dari ekspor-impor membaik ketimbang 2018. Dengan terciptanya damai dagang AS-China, maka ada harapan kinerja ekspor akan membaik tahun ini sehingga arus devisa semakin kuat.

Penguatan Rupiah Masih Bisa Berlanjut?

Belum lagi dari sektor keuangan, arus modal masuk masih deras. Di pasar saham, investor asing membukukan beli bersih Rp 2,71 triliun secara year-to-date. Kapitalisasi pasar di Bursa Efek Indonesia pun melonjak menjadi Rp 7.262 triliun.

Sedangkan di pasar obligasi, kepemilikan asing bertambah Rp 22,81 triliun secara year-to-date. Investor asing menguasai 39,2% dari obligasi pemerintah yang dapat diperdagangkan.

Putera Satria Sambijantoro, Ekonom Bahana Sekuritas, memperkirakan rupiah masih punya tenaga untuk terus menguat. Pasalnya, posisi rupiah saat ini masih terlalu murah alias undervalued.

“Saat ini rupiah baru mengimpaskan sebagian pelemahan yang pernah begitu parah sampai menyentuh Rp 15.217/US$ pada Oktober 2018. Model yang dikembangkan Bahana TCW Investment Management memperkirakan rupiah bisa menguat sampai ke Rp 13.125/US$ atau bahkan Rp 13.024/US$ seiring perbaikan harga komoditas dan kondisi pasar keuangan negara-negara berkembang,” papar Satria dalam risetnya.

Bank Indonesia (BI) pun sepertinya masih mengizinkan rupiah untuk terus menguat. Dody Budi Waluyo, Deputi Gubernur BI, mengatakan bahwa apresiasi rupiah tidak otomatis membuat daya saing produk Indonesia di pasar ekspor tergerus.

“Rupiah yang kuat akan membantu menurunkan biaya sehingga membuat eksportir lebih efisien. Terutama yang memiliki utang dalam valas,” kata Dody, seperti dikutip dari Reuters. (Jo)

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close