Junta Militer Myanmar Bongkar Makam Angel

Junta Militer Myanmar Bongkar Makam Angel
Seorang pria memegang poster yang menampilkan pengunjuk rasa Kyal Sin saat orang-orang menghadiri prosesi pemakamannya di Mandalay pada 4 Maret 2021, sehari setelah dia ditembak di kepala saat demonstrasi menentang kudeta militer.

JAKARTA, SENAYANPOST.com - Junta militer Myanmar membongkar kuburan Kyal Sin, gadis 19 tahun yang tewas pada Rabu (3/3/2021) lalu saat melakukan unjuk rasa menentang kudeta.

Wanita yang dikenal dengan nama Angel itu disebut tewas setelah polisi menembakkan peluru ke arah kepalanya.

Dia menjadi ikon gerakan protes anti-kudeta setelah tewas ditembak dengan memakai kaus bertuliskan "Everything will be OK".

Seorang saksi dan media lokal mengatakan makam Kyal Sin di Mandalay dibongkar pada Jumat (5/3) dengan pengawalan polisi dan tentara.

Saksi mata mengatakan jasad Kyal Sin diangkat, diperiksa dan dikembalikan. Kemudian makam itu disegel kembali. Outlet berita independen Mizzima melaporkan hal yang sama.

Seorang juru bicara militer tidak menjawab panggilan untuk memberikan tanggapan. Reuters juga tidak dapat menghubungi polisi untuk dimintai komentar.

Media pemerintah sebelumnya mempertanyakan laporan yang menyebut pengunjuk rasa itu dibunuh oleh pasukan keamanan ketika mereka melepaskan tembakan untuk membubarkan demonstrasi pada hari Rabu. Mereka mengatakan penyebab kematian sedang diselidiki oleh "badan penegakan hukum".

Seperti dikutip CNN Indonesia dari Reuters, seorang warga yang mengunjungi pemakaman pada hari Sabtu menunjukkan sebuah gambar semen yang telah mengering serta sarung tangan karet dan sepatu bot dibuang dan tampak berlumuran darah.

Seorang saksi mata yang tinggal di dekat kuburan mengaku melihat kuburan dibuka menggunakan alat-alat listrik pada Jumat malam oleh tim beranggotakan setidaknya 30 orang. Mereka datang dengan empat mobil dengan dikawal dua truk polisi serta dua truk tentara.

"Mereka mengeluarkan peti mati dan mengeluarkan mayatnya dan meletakkannya di bangku. Mereka bahkan meletakkan batu bata di bawah kepala," kata saksi yang menolak disebutkan namanya.

"Mereka yang diduga dokter, memakai tutup pelindung melakukan sesuatu pada jasad itu, saya pikir mereka menyentuh kepala. Mereka mengambil sebagian kecil dari tubuh dan menunjukkannya satu sama lain," katanya.

Reuters tidak dapat secara independen mengonfirmasi laporan tentang apa yang terjadi.

Dua orang lainnya mengatakan kepada Reuters bahwa mereka diperingatkan oleh penduduk setempat untuk tidak memasuki pemakaman pada hari Jumat karena polisi dan militer berada di dalam untuk menggali kuburan Kyal Sin.

Reuters juga tidak dapat menghubungi keluarga Kyal Sin.

Foto-foto yang beredar menunjukkan Kyal Sin tewas dengan kepala berlumuran darah.

Surat kabar Global New Light of Myanmar yang dikelola pemerintah mengatakan bahwa para ahli telah menganalisis foto itu dan menyimpulkan luka itu tidak seperti disebabkan oleh senjata anti huru-hara.

"Jika luka akibat senjata anti huru hara atau peluru tajam, tidak mungkin kepala almarhum dalam kondisi baik," katanya.

"Badan hukum masing-masing sedang menyelidiki penyebab kematiannya dan lebih banyak informasi akan diumumkan kemudian."

Kyal Sin termasuk di antara sedikitnya 38 orang yang tewas pada Rabu, hari paling berdarah sejak kudeta terjadi pada 1 Februari.

PBB melaporkan lebih dari 50 orang tewas akibat bentrokan antara pedemo anti-junta militer dan aparat selama sebulan unjuk rasa melawan kudeta berlangsung.

Militer mengatakan pihaknya berusaha menahan untuk tidak menggunakan kekuatan. Tetapi mereka menegaskan tidak akan membiarkan protes mengancam stabilitas.

Angakatan bersenjata Myanmar Tatmadaw menahan Aung San Suu Kyi dan mengumumkan kudeta pada 1 Februari lalu.

Selain Suu Kyi, Tatmadaw menahan sejumlah pejabat pemerintahan sipil lain, seperti Presiden Myanmar, Win Myint, dan sejumlah tokoh senior partai berkuasa, Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD).

Militer Myanmar menganggap pemilu yang dimenangkan oleh Suu Kyi dan partainya, NLD, curang. Tatmadaw menuding ada setidaknya 8 juta pemilih palsu yang terdaftar dalam pemilu lalu.