Julia Roberts Larang Anaknya Main Media Sosial

Julia Roberts Larang Anaknya Main Media Sosial
Julia Roberts

JAKARTA, SENAYANPOST.com - Meski berstatus bintang film besar, Julia Roberts membeberkan gaya pengasuhannya yang ketat pada anak-anak. Bintang dari film Pretty Woman tersebut mengaku bahwa dia telah melarang ketiga anaknya dari media sosial dan membatasi mereka saat menonton TV.

"Saya memiliki tiga anak kecil jadi saya sangat berhati-hati dalam menyalakan TV," kata Roberts dalam wawancaranya, yang dilansir pada Dailymail beberapa waktu lalu.

Dalam sebuah wawancara dengan The Sun, aktris berusia 51 tahun ini hanya berusaha agar tidak mengekspos anak-anaknya pada 'tekanan' kehidupan modern. Menurutnya anak-anak seumur mereka belum cukup usia untuk mengonsumsi media sosial.

"Saya mencoba untuk menjauhkan mereka dari media sosial, karena saya tidak benar-benar mengerti untuk apa mereka membutuhkannya saat ini," ujar Roberts mengenai gaya parentingnya, Senin (25/1/2021).  

Mendengar gaya pengasuhan Julia Roberts mungkin membuat Bunda bertanya-tanya ya, sebenarnya apa dampak dari menonton TV dan bermain media sosial pada anak? Sebegitu besarkah dampaknya sehingga membuat Roberts membatasi aktivitas ketiga anaknya?

Penting untuk dipahami, Bun bahwa meskipun memiliki banyak dampak positif terutama di era belajar online selama pandemi, terdapat banyak hal negatif dari menonton TV dan penggunaan media sosial yang berlebihan.

Menurut WHO sebaiknya sebelum usia dua tahun anak-anak tidak terpapar layar, termasuk permainan komputer. Sebab, anak-anak sering kali mudah merasa kecanduan terhadap sesuatu yang baru untuknya.

Nah, apabila si kecil tidak dibatasi, tentu akan menyebabkan risiko masalah kesehatan, Bunda. Salah satunya seperti obesitas. Oleh karena itu, WHO menyarankan untuk batasi menonton TV pada anak. Terutama jika si kecil berusia dua hingga empat tahun, Bunda perlu membatasinya untuk menonton TV hanya satu jam dalam sehari. Semakin sedikit frekuensi menonton TV tentu semakin baik ya, Bunda.

Selain menonton TV, bermain media sosial juga memiliki dampak negatif untuk anak, Bunda. Melansir dari Very well family, dalam studi yang dilakukan oleh para peneliti di pusat pemetaan otak UCLA, menemukan fakta bahwa fitur "suka" di media sosial  membuat ketagihan pada remaja.

Bahkan, media sosial juga mempengaruhi kesehatan mental sang buah hati. Melansir dari Psycom, studi yang dilakukan oleh fakultas kedokteran Universitas Pittsburgh menunjukkan bahwa semakin banyak waktu yang dihabiskan seorang remaja di media sosial, maka semakin besar kemungkinan mereka mengalami masalah tidur hingga depresi lho, Bunda.

Berikut ini adalah 5 dampak negatif penggunaan media sosial untuk anak-anak yang dikutip dari Very well family.

1. Kesehatan mental 

Tidak diragukan lagi, jejaring sosial membantu anak memperluas hubungan sosial ya, Bunda. Namun, media sosial ternyata mempengaruhi mental anak nih.  Khususnya remaja perempuan paling berisiko mengalami penindasan maya melalui penggunaan media sosial. Seperti cyber bullying yang bisa mengakibatkan depresi, kecemasan, hingga peningkatan risiko pikiran untuk bunuh diri. Berbahaya ya, Bunda.

2. Depresi 

Beberapa penelitian menemukan bahwa penggunaan media sosial  ada keterkaitannya dengan gejala depresi, termasuk penurunan aktivitas sosial dan peningkatan kesepian, Bunda. Depresi tersebut disebabkan karena anak yang cenderung membandingkan dirinya dengan orang lain, terlalu fokus pada jumlah "suka" hingga cyber bullying. 

Dalam penelitian disebutkan remaja  yang menggunakan lebih dari tujuh platform media sosial memiliki risiko depresi tiga kali lebih besar daripada remaja yang menggunakan dua platform.

3. Kegelisahan 

Penggunaan media sosial juga bisa menyebabkan kegelisahan atau kecemasan pada remaja. Hal ini disebabkan mereka mendapatkan tekanan untuk memiliki foto yang sempurna, agar memperoleh banyak "suka". Sehingga hal ini tentu menyebabkan kecemasan yang besar. Beberapa penelitian telah menemukan bahwa semakin besar lingkaran sosial remaja secara online, mereka semakin merasa cemas untuk mengikuti segala sesuatu secara online. Terlebih jika remaja melakukan kecerobohan saat menggunakan media sosial, ini bisa menjadi sumber kecemasan yang ekstrem.

Banyak remaja, terutama perempuan, cenderung khawatir tentang apa yang mungkin dipikirkan orang lain tentang mereka dan bagaimana mereka akan menanggapinya ketika mereka melihatnya nanti.