Juara Asia, tapi Rupiah Belum Sanggup ke Bawah Rp14.000/US$

Juara Asia, tapi Rupiah Belum Sanggup ke Bawah Rp14.000/US$

JAKARTA, SENAYANPOST.com - Nilai tukar rupiah menguat melawan dolar Amerika Serikat (AS) perdagangan Selasa (17/11/2020). Kabar vaksin virus corona dari Moderna, membuat rupiah menjadi juara Asia.

Dikutip CNBC Indonesia data dari Refinitiv, rupiah membuka perdagangan di level Rp 14.000/US$ melesat 0,71% di pasar spot. Sayangnya level "keramat" alias psikologis tersebut menjadi yang terkuat hari ini, setelahnya rupiah terkoreksi ke Rp 14.065/US$.

Di penutupan perdagangan, rupiah berada di level Rp 14.030/US$, menguat 0,5% di pasar spot.

Dengan penguatan tersebut, rupiah menjadi juara Asia pada hari ini. Hingga pukul 15:07 WIB, hanya yuan China yang mendekati penguatan rupiah sebesar 0,31%.

Penguatan rupiah hari ini melanjutkan kinerja positif awal pekan kemarin. Bahkan jika melihat ke belakang, rupiah sudah membukukan penguatan dalam 6 pekan beruntun.

Hal tersebut terjadi setelah Joseph 'Joe' Biden memenangi pemilihan presiden AS melawan petahana Donald Trump. Kemenangan Biden dianggap menguntungkan bagi negara emerging market seperti Indonesia, sebab perang dagang AS-China kemungkinan akan berakhir, atau setidaknya tidak memburuk.

Kemudian perusahaan farmasi asal AS, Pfizer yang berkolaborasi dengan BioNTech asal Jerman, Senin (9/11/2020) pekan lalu mengumumkan vaksin buatannya efektif menangkal penyakit akibat virus corona (Covid-19) hingga lebih dari 90% tanpa efek samping yang berbahaya.

Setelah Pfizer, kini giliran perusahaan farmasi AS lainnya, Moderna, Senin kemarin mengumumkan hal sama.

CEO Moderna, Stephane Bancel, kemarin mengatakan hasil sementara uji coba tahap III vaksin miliknya efektif mencegah Covid-19 hingga lebih dari 94%.

"Ini merupakan momentum perbaikan dalam perkembangan kandidat vaksin Covid-19 milik kami. Sejak awal Januari kami mengejar virus ini dengan intens untuk melindungi manusia di seluruh dunia sebisa mungkin. Analisis positif dari studi fase III memberikan validasi klinis awal bahwa vaksin bisa mencegah Covid-19," ujarnya.

Kabar tersebut membuat sentimen pelaku pasar kembali membaik dan memburu aset-aset berisiko. Aliran investasi kembali masuk ke dalam negeri.

Di pasar saham, pada perdagangan hari ini investor asing melakukan aksi beli bersih (net buy) sebesar Rp 679 miliar, membalikkan jual bersih (net sell) kemarin Rp 525 miliar di pasar reguler. 

Sepanjang pekan lalu, net buy asing bahkan lebih dari Rp 4 triliun. 

Sementara itu di pasar obligasi, yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun hari ini turun 7,5 basis poin ke 6.201%.

Untuk diketahui pergerakan yield berbanding terbalik dengan harga SBN, ketika yield turun harganya naik, begitu juga sebaliknya. Saat harga naik, artinya ada aksi beli di pasar obligasi, yang bisa menjadi indikasi masuknya aliran modal. (MU)