Ekonomi

Jualan Premium dan Solar, Pertamina Klaim Rugi Rp2 T per Bulan

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Direktur Pemasaran Pertamina Muchamad Iskandar mengatakan, pihaknya  memproyeksikan ada potensi kehilangan sekitar Rp3,9 triliun dari penjualan Premium dan solar pada Januari-Februari 2018.

Perusahaan plat merah ini melihat ada potensi tambahan biaya yang disebabkan penyaluran Premium dan solar selama 2 bulan pertama 2018 senilai Rp3,9 triliun.

“Kami berpotensi mencatatkan tambahan biaya dari penyaluran Premium di Jamali [Jawa, Madura, dan Bali], dan solar senilai Rp3,49 triliun. Lalu, kami juga mendapatkan tambahan biaya dari penyaluran Premium di luar Jamali sekitar Rp500 miliar sehingga total menjadi Rp3,9 triliun,” katanya, Senin (19/3).

Pertamina mendapatkan beban tambahan dari penyaluran Premium dan solar itu disebabkan oleh penetapan harga oleh pemerintah yang tidak berubah, tetapi harga sudah naik seiring dengan kenaikan harga minyak dunia dan pelemahan nilai tukar rupiah.

Pertamina memproyeksikan ada selisih Rp800 per liter antara harga Premium dengan oktan (RON) 88 saat ini Rp6.450 per liter dan harga keekonomian pasar sekitar Rp7.250 per liter.

Sementara itu, harga BBM dengan kandungan RON 90 atau Pertalite saat ini Rp7.600 per liter.

Iskandar menuturkan, berdasarkan formula baru yang telah disepakati oleh pemerintah, harga Premium saat ini bisa mencapai sekitar Rp8.600 per liter. Pemerintah dan Pertamina sedang membahas model formula baru harga BBM di Tanah Air.

“Lalu, harga formula Solar setelah disubsidi Rp500 per liter menjadi Rp8.350 per liter [menggunakan skema formula baru untuk harga BBM], sedangkan harga penetapan pemerintah Rp5.150 per liter,” katanya.

Pertamina mencatat ada potensi tambahan beban biaya yang didapatkan bila harga premium dan solar penetapan pemerintah tidak berubah sampai akhir tahun ini.

“Dari total 2 bulan pertama tahun ini tinggal dikalikan 6 saja, itu perkiraan kerugian sampai akhir tahun ini. Paling, perbedaannya ada tambahan 5% sampai 7% pada periode Idulfitri karena saat itu permintaan bensin berpotensi naik,” kata Iskandar. (MU)

KOMENTAR
Tags
Lihat selanjutnya
Close