HukumPeristiwaTak Berkategori

Jual-Beli Jabatan di Kemenag, KPK Periksa 2 Calon Rektor UIN Ar-Raniry Banda Aceh

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Tim penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mulai mengagendakan pemeriksaan terhadap dua calon rektor Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh. Mereka diperiksa KPK terkait kasus dugaan jual-beli jabatan di Kementrian Agama (Kemenag).

Mereka yang akan diperiksa oleh lembaga antirasuah itu yakni Farid Wajdi Ibrahim sebagai Rektor UIN Ar-Raniry Banda Aceh periode 2014-2018 dan merupakan calon rektor petahana untuk periode 2018-2023.

Kemudian ada juga Syahrizal sendiri merupakan Guru Besar UIN Ar-Raniry sekaligus calon rektor UIN Ar-Raniry untuk periode 2018-2023. Mereka diperiksa korupsi kasus dugaan jual-beli jabatan dengan yang menjerat Ketum PPP M Romahurmuziy (Romi).

“Keduanya diperiksa sebagai saksi untuk tersangka RMY (Romahurmuziy),” kata Jubir KPK, Febri Diansyah saat dikonfirmasi wartawan di Jakarta, Selasa (18/6/2019).

‎Diketahui, KPK mulai mengembangkan kasus dugaan suap jual-beli jabatan di lingkungan Kemenag. KPK mulai menyelidiki dugaan korupsi sistem pemilihan rektor perguruan tinggi dibawah Kementerian Agama (Kemenag).

Sebelumnya, KPK telah menetapkan mantan Ketum Partai Persatuan dan Pembangunan (PPP), M Romahurmuziy sebagai tersangka. Anggota Komisi XI DPR RI tersebut diduga terlibat kasus jual-beli jabatan di Kementeriaan Agama (Kemenag).

Romi ditetapkan tersangka bersama dua orang lainnya yakni, Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Gresik, Muhammad Muafaq Wirahadi dan Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kemenag Provinsi Jawa Timur (Jatim), Haris Hasanuddin.

Sejalan dengan kasus dugaan jual-beli jabatan yang menyeret Romi, KPK juga menerima banyak laporan terkait adanya indikasi korupsi sistem pemilihan rektor perguruan tinggi dibawah Kementerian Agama (Kemenag).

Wakil Ketua KPK, Laode M Syarief pernah mengamini ada banyaknya laporan yang masuk terkait dugaan korupsi pemilihan rektor di bawah Kemenag.‎ Saat ini, KPK sedang menelusuri unsur korupsi tersebut.

“Jadi memang perlu diklarifikasi lagi, tetapi banyak mendapatkan laporan bahwa sistem pemilihan rektor itu mempunyai potensi-potensi korupsi seperti itu,” kata Syarief‎, beberapa waktu lalu.

KOMENTAR
Tags
Show More
Close