Catatan dari Senayan

Jokowi-Prabowo Perlu Teladani Nabi Muhammad dan Mandela

Oleh Imas Senopati

Tak lama setelah terpilih sebagai Presiden Afrika Selatan (1994-1999), Nelson Mandela mengajak beberapa pengawalnya untuk keliling kota. Dia singgah di sebuah restoran, dan tidak meminta perlakuan khusus. Dia pun memesan makanan untuk disantap bersama rombongan.

Di meja bagian pojok duduk seorang laki-laki menunggu pesanannya. Mandela meminta pengawalnya untuk mengajak laki-laki itu bergabung ke mejanya. Laki-laki itu pun dipersilakan duduk tepat di samping Mandela.

Hidangan sudah lengkap, Mandela dan rombongan siap menyantap, termasuk laki-laki yang ada di sampingnya. Namun laki-laki itu tampak aneh. Wajahnya berkeringat dan tangannya gemetar. Dia tidak sanggup menyantap hidangan yang ada, kecuali hanya sepotong roti dan beberapa tegukan air. Pengawal pun bingung.

“Tampaknya dia sedang sakit, dan sebaiknya segera kami bawa ke rumah sakit”, ujar pengawal kepada Mandela. Mandela diam sampai selesai makan. Pengawal semakin bingung melihat kondisi laki-laki itu, hingga dia dipersilakan untuk kembali ke mejanya yang pertama dia pesan.

Kata Màndela kepada pengawal, “Dia tidak sakit. Keringat yang keluar dan tangan yang gemetar itu bukan karena dia sakit. Dialah sipir yang dulu menyiksa aku ketika aku dipenjara di ruang isolasi. Pernah, ketika aku haus dan meminta air darinya, dia malah mengencingi kepalaku. Jadi, dia sedemikian gemetar karena dia takut aku akan membalas apa yang pernah dia perbuat terhadap aku. Tapi aku tidak akan membalasnya. Dendam bukan akhlakku.”

Jauh sebelumnya Nabi Muhammad SAW telah melakukan hal semacam itu. Bahkan lebih dahsyat dari yang.dilalukan Nelson Mandela. Rasulullah sangat pemaaf, tidak mudah merasa sakit hati walaupun diperlakukan dengan perbuatan yang sangat menyakitkan sekalipun. Beliau dicaci, dihina, dan disakiti tetapi dengan mudahnya beliau melupakan itu semua.

Diriwayatkan, bahwa Muhammad setiap kali pulang dari masjid beliau diludahi oleh seorang wanita tua kafir. Suatu hari Rasulullah tidak mendapati orang tersebut, ketika Rasulullah mengetahui orang itu ternyata sakit, beliau bergegas untuk menjenguknya. Mengetahui dirimya dijenguk Muhammad, wanita itu kemudian meneteskan air mata. Dia kemudian bertanya mengapa Rasulullah mengapa beliau mau menjenguknya.

“Wahai Muhammad, mengapa engkau menjengukku, padahal aku selalu meludahimu setiap hari?” tanya wanita tua itu.

Rasulullah kemudian menjawab, “Aku yakin engkau meludahiku karena belum tahu tentang kebenaranku. Jika engkau sudah mengetahuinya, aku yakin engkau tak akan lagi melakukannya.”

Jawaban Rasulullah membuat dada wanita tua itu sesak dan sedikit kesulitan bernapas. Si wanita kemudian mencoba mengatur napas dan menenangkan diri. Setelah dalam keadaan tenang, wanita tua itu kemudian berbicara, “Wahai Muhammad, mulai saat ini aku bersaksi mengikuti agamamu.”

Dia kemudian mengucapkan kalimat syahadat di hadapan Rasulullah.

Dalam perjalanan dakwah ke Taif pun tidak kalah pedihnya cobaan yang dialami Nabi Muhammad. Beliau ditolak oleh pemimpin Tsaqiif. Bahkan beliau dilempari batu oleh budak-budak dan orang-orang bodoh dari mereka sehingga kedua kakinya berlumuran darah. Ketika Malaikat Jibril menawarkan untuk membinasakan mereka, Rasulullah menolak, bahkan beliau mendoakan mereka agar mereka mendapat pengampunan dari Allah SWT.

Kita berharap Joko Widodo dan Prabowo Subianto, dua calon Presiden kita, usai salah satunya ditetapkan sebagai Presiden dapat meneladani apa yang pernah dilalukan Nabi Muhammad SAW dan Nelson Mandela. Tidak ada lagi dendam pasca Pilpres. Dalam kontestasi politik secara demokratis sangatlah lumrah ada yang menang dan ada yang kalah. Hendaknya keduanya saling bermaafan dan berangkulan. Itulah sikap negarawan sejati. Lebih-lebih kita berada dalam suasana Idul Fitri, momentum yang sangat baik untuk saling bermaafan.

Salam.

KOMENTAR
Tags
Show More
Back to top button
Close
Close