Opini

Jokowi-Ma’ruf adalah Kepemimpinan Wali Faqih

Keinginan umat itu terkadang bermacam-macam, ada yang ingin dipimpin oleh seorang nasionalis dari kalangan sipil, ada yang ingin dipimpin oleh seorang yang otoriter misalkan Soeharto dari kalangan militer, ada juga yang ingin dipimpin oleh sosok ulama seperti Gus Dur. Ada yang merindukan perdamaian dengan kedewasaan demokrasi, ada yang menginginkan khilafah dengan sistem teokrasinya, bahkan ada yang mendambakan sekulerismenya atau negara komunis dan yang lainnya.

Ridha Al-Naas Ghaayah Laa Tudrak, sangat sulit untuk menyenangkan atau memuaskan semua orang, begitulah ungkapan para ulama. Tidak ada satu orang pun yang mampu memberikan kesenangan terhadap semua orang. Begitu pula dengan sistem yang ada di Indonesia yaitu demokrasi Pancasila, banyak orang yang menentang banyak juga yang cinta dengan tafsir yang berbeda. Itulah keragaman yang kita punya, keragaman pikiran, budaya, agama, suku, dan lainnya.

Indonesia merupakan negara kepulauan yang jauh berbeda dengan negara-negara lainnya. Maka dari itu Presiden Jokowi sering mewanti-wanti bahwa aset terbesar bangsa kita adalah persatuan dan kesatuan.

Hari ini, Jokowi telah menggandeng seorang Ulama Faaqihan, Waari’an, ‘Aaminan yaitu Kiai Haji Ma’ruf Amin untuk maju di pilpres yang akan datang. Kiai Ma`ruf bukan hanya dikenal sebagai seorang ulama saja yang hanya meletakkan dasar moral agama di pondok pesantren, ia juga adalah sosok ekonom Islam yang sangat handal, dirinya adalah sosok mujtahid (pakar ijtihad) yang piawai menentukan sebuah hukum dan fatwa.

Kalau Gus Dur dikenal sebagai Bapak Pluralisme Indonesia, Ma`ruf Amin dikenal sebagai Bapak Yurisprudensi Islam atau Sang Mujtahid yang menentukan hukum-hukum Islam kontemporer. Jika dalam ilmu fiqh kita sering berpijak pada dua pendapat masyhur Syafi’iyyah (Madzhab Syafi’i) yaitu pendapatnya Imam ar-Rafi’i dan Imam al-Nawawi, di Indonesia kita mempunyai Kyai Ma`ruf Amin yang masih keturunan ulama Syafi’iyah yaitu The Second Nawawi atau Syaikh Nawawi al-Bantani al-Makki, sebagai penentu arah umat Islam.

Yang paling hebat dari buah pikir Kiai Ma`ruf adalah memodifikasi kaidah “al-Muhafadzatu ‘ala al-Qadim al-Shalih wal akhdzu bil jadid al-Ashlah wal Ishlah ilaa Maa huwa al-Ashlah tsumma al-Ashlah fal ashlah”. (Menjaga nilai-nilai yang lama yang baik dan inklusif terhadap nilai-nilai baru yang mutakhir yang lebih baik, serta berupaya melakukan proses kebaikan ke arah yang lebih baik dan semakin lebih baik).

Dari kaidah ini kita bisa memahami sosok Kiai Ma`ruf adalah seorang reformis yang mampu menerima perubahan dan pembaharuan, baik dalam modifikasi dakwah, sosial kemasyarakatan, atau teknologi digital. Persaingan Indonesia ke depan bukan hanya persaingan politik antar bangsa, tetapi juga adalah persaingan ekonomi dan revolusi industri generasi ke 4, tran otomasinya Industri 4.0 yang ditandai dengan kemunculan teknologi superkomputer, dan alat robotik lainnya. Tentunya kita membutuhkan sosok seperti Kiai Ma`ruf Amin, yang mampu mentransformasikan Indonesia menuju revolusi industri tanpa meninggalkan tradisi dan spiritualitas masyarakat Indonesia.

Kenapa harus seperti itu? Karena modernisme adalah suatu penyakit, bukan fase kemajuan peradaban, dan modernisme itu mematerialisasikan segala sesuatu, namun di sisi lain merindukan adanya agama spiritual yang dapat mengisi kehidupan masyarakat sebagai eksistensinya dan Kiai Ma`ruf bisa membawa subtansi agama yang mampu mengantarkan manusia pada makna spiritualitas yang sebenarnya.

Dalam kesimpulan ini, kita memahami Jokowi adalah seorang Wali (Pemimpin) dan Kiai Ma`ruf adalah seorang Faqih (yang mengerti hukum Islam). Jadi kepemimpinan Jokowi-Ma`ruf adalah kepemimpinan Wali Faqih.

KOMENTAR
Tags
Lihat selanjutnya
Close