Politik

Jokowi Lihai Hadapi Kampanye Negatif

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Pengamat politik dari Universitas Bunda Mulia Silvanus Alvin mengatakan, Presiden Joko Widodo dinilai lihai dalam merespons kampanye negatif yang ditebar oleh lawan politiknya.

Ia menjelaskan, ada tiga gaya komunikasi politik yang diterapkan Jokowi dalam merespon kampanye negatif.

Pertama, counter-imaging atau kontra pencitraan. Bila ada kampanye negatif, Jokowi bersama tim medianya maupun relawan berusaha untuk mengirim pesan-pesan positif ke masyarakat. Misalnya, pesan berupa keberhasilan-keberhasilannya dalam membangun wilayah luar Indonesia.

“Kedua, denial atau bantahan. Salah satu kampanye negatif yang pernah menyerang Jokowi dan sekarang berusaha digulirkan kembali adalah isu PKI. Pada awalnya, Jokowi enggan merespon. Namun, pada 6 Maret 2018 lalu, ia pun memberikan bantahan dengan nada tegas” paparnya, Jumat (27/4/2018).

Gaya yang terakhir adalah counter attack atau serangan balik. Hal ini terlihat pada isu utang luar negeri Indonesia saat ini mencapai Rp4.000 triliun dan diserang balik oleh Jokowi dengan mengajak para pengkritik untuk adu data.

Alvin mengatakan, sebenarnya tidak ada yang salah dengan praktik kampanye negatif sebab memberikan gambaran baik atau buruk kandidat-kandidat yang akan dipilih.

Namun, ada batasan yang tak boleh dilanggar. Bila aktor-aktor politik menerapkan strategi komunikasi demikian secara membabi-buta, bukan tidak mungkin kampanye negatif akan berubah jadi kampanye hitam.

“Kampanye hitam memiliki bahaya laten seperti memecah belah bangsa. Hal ini harus dijauhi. Sayang bila tiap pemilu, masyarakat Indonesia dipecah belah dan ketika ada pemimpin baru, 5 tahun pemerintahannya hanya sibuk menyatukan bangsa kembali.

“Masyarakat di sini punya peranan penting. Masyarakat perlu lebih jeli dalam merespon sebuah pesan. Penting menggunakan logika dan fakta, bukan emosi belaka,” katanya.

KOMENTAR
Tags
Lihat selanjutnya
Close